YOGYAKARTA PUNYE CERITE
“Hargai waktumu “jika engkau
memasuki waktu sore, maka janganlah menunggu pagi; dan jika engkau memasuki
waktu pagi, jangan menunggu waktu sore; ambillah kesempatan dari masa sehatmu
untuk masa sakitmu dan dari masa hidupmu untuk matimu.”
Community Development &
Outreaching
“Mimpi”, hanya itu yang terlintas dalam benak kami,
bagaikan mimpi yang tak pernah terkira dalam diri kami ketika kami masuk
perguruan tinggi melalui Comdev & outreaching, bagaikan tidur dimalam hari
dan bermimpi sepuas-puasnya, ketika bangun semua mimpi itu menjadi sebuah
kenyataan bisa masuk dalam sebuah perguruan tinggi negeri ternama di kota
Kalimantan Barat, mungkin semua tak akan pernah tercapai dalam diri kami jika
melihat dari sebuah latar belakang keluarga yang kurang mampu dalam mebiayai
kami ke perguruan tinggi untuk melanjutkan studi. Tapi, Tuhan Maha tau dan Maha
mengerti akan kehidupan kami kawan, Tuhan mengerti setiap isi hati kami untuk masa
depan kami, dengan menurunkan seorang malaikat bagi kami yang menyelematkan
masa depan kami dari keterpurukan akan minimnya titel pendidikan dalam diri
kami, untuk merebut dunia kerja ini, entah apa yang akan terjadi dalam diri
kami akan masa depan kami ketika kami hanya lulusan SMA dan berasal dari daerah.
Bu Entin sebut saja namanya begitu kawan, Beliau ketua Comdev dan Outeaching di
Universitas Tanjungpura. Ketika melihat sosok beliau dalam benakku berpikir “Tuhan masih punya rencana untuk menyelamatkan
negeri ini” ya, ketika melihat
akan keegoisan manusia yang hanya peduli akan diri nya sendiri, ternyata masih
terselip orang yang masih peduli akan kehidupan orang lain, dan memberikan
kesempatan untuk meraih mimpi-mimpi kami.
Wawasan
beliau yang begitu luas dan semangat beliau yang luar biasa dalam memajukan
daerah ini terlihat ketika memberikan sambutan pada kami sejak pertama kami
datang ke Universitas ternama di kota tersebut.
“Selamat datang untuk mahasiswa
baru di Universitas Tanjungpura” Ucap Beliau membuka
sambutannya 2010 silam.
“Selamat kalian adalah mahasiswa
yang terpilih dari ribuan mahasiswa yang
mendaftar, dan kalian mempunyai potensi dalam diri kalian, kesempatan untuk
melanjutkan keperguruan tinggi, kesempatan kalian ini gunakan lah sebaik-baik
mungkin untuk meraih masa depan kalian, ikuti peraturan kampus, kuliah cepat
selesai, target kalian hanya 4 tahun atau 8 semester, So Any Way cepat
selesaikan Study kalian” sambung beliau.
Terlihat
keceriaan serta kegembiraan pada wajah kami ketika beliau memberi motivasi dan
arahan kepada kami, dimana harapan yang akan pupus untuk merasakan pendidikan
diperguruan tinggi ternyata bisa kembali memupuk semangat kami dengan
kesempatan yang ada.
Beliaulah
yang memperjuangkan nasib kami, melalui Comdev & outreaching sesuai
kebijakan menteri pendidikan sehingga menyelamatkan kami dari pandangan orang
lain bahwa orang miskin tidak bisa kuliah, apalagi menjadi seorang Profesor,
tapi apa yg dipikirkan orang salah akan pernyataan itu, ternyata kami bisa dan berprestasi,
kami bisa melebihi dari kawan-kawan yang lain, ketika kami diberikan sebuah
kesempatan untuk merajut mimpi kami, kami sanggup untuk mewujudkan semua
impian-impian kami.
Sebagian
dari kami terlahir dalam sebuah keluarga yang memiliki kehidupan serba terbatas
kawan, tidak memungkinkan untuk bisa masuk ke perguruan tinggi tersebut,
apalagi untuk meraih mimpi-mimpi kami, semua hanya omongan belaka, hanya omong
kosong dan hanya cita-cita yang bagaikan hamparan padang gurun yang luas, tak
ada tujuan perjalanan kehidupan dalam diri kami. “ Raihlah cita-citamu setinggi langit”, hah, kata-kata itu
hanyalah omong kosong belaka bagi kami, cita-cita apa yang akan kami raih
sedangkan untuk kehidupan sehari-hari saja sebagian dari kami mempunyai
keterbatasan untuk hidup berkecukupan, apa lagi untuk ke perguruan tinggi,
semua hanya mimpi-mimpi kami di bangku SMA, itulah ajaibnya Tuhan yang telah
mengetuk hati pemimpin bangsa untuk memperhatikan nasib kami kawan, melalui Comdev
& outreaching kami bisa mewujudkan mimpi-mimpi itu.
Saat
itu perguruan tinggi yang terbayangkan oleh kami. Ternyata tidak sesuai dengan
harapan kami kawan, di perguruan tinggi semua perkuliahan serba mandiri, tidak
seperti waktu SMA yang semua serba di suap oleh guru dengan materi-materi dari
sekolah, namun di perguruan tinggi kemandirian kami di uji.
Sejak
awal masuk sampai sekarang banyak kegiatan-kegiatan Comdev yang dilaksanakan,
baik secara indoor maupun secara outdoor salah satu kegiatan yang asyik dan
seru diadakan yaitu Kunjungan
persahabatan ke Yogyakarta, ketika pengumuman seleksi di pasang berbondong-bondong
teman-teman yang mengambil formulir untuk ikut ke Yogyakarta, bagaikan
mengantri BBM pada antri satu persatu di depan pintu.
Tahap
awal banyak juga yang diterima tapi masih banyak dari kami yang belum memenuhi
syarat administrasi seperti Sertifikat Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), dan
wajib melampirkan 5 sertifikat berbagai kegiatan Comdev. Tahap kedua kami di
wawancarai sama Bu Dini dan Bu Erlin.
“apa sih yang membuat kamu
termotivasi untuk pergi ke Yogyakarta” kata
Bu Dini mengawali wawancara, dengan ke piawaiannya dalam mewawancarai kami yang
bagaikan calon karyawan yang baru mau masuk kantor.
“jujur saja ya bu, saya sebanar nya
baru pertama kali ke Yogyakarta jika kali ini lulus pergi ke Yogyakarta, jadi
selain untuk mengetahui kota Yogyakarta saya juga pengen tau tentang kota Yogyakarta
itu sendiri kayak apa, yang dibilang orang kota pelajar, dan budaya, dan
harapan saya nanti setelah sepulang dari Yogyakarta saya bisa mengaplikasikan
apa yang saya dapat untuk membangun Kalimantan Barat,”
jawab ku waktu di wawancarai, bagaikan seorang yang udah pintar menjawab
panjang lebar dengan harapan bisa meluluhkan hati sang pewawancara agar bisa
ikut ke Yogyakarta.
“terus setelah dari Yogyakarta ni
yah, apa sih nantinya yang akan kamu lakukan, contoh simple nya aja”,
Lanjut bu Erlin.
“yach, pengen nya sich Bu aku
setelah pulang dari Yogyakarta aku bisa memberikan contoh yang baik kepada
adek-adek tingkat karna di Yogyakarta kita akan mengunjungi Universitas ternama
di sana, harapan saya ketika bisa mendapatkan pelajaran dari sana saya bisa
memotivasi kepada adek-adek tingkat untuk semangat belajar, dan juga kepada
masyarakat, misal bagaimana masyarakat disana bisa mengembangkan usaha, dan
bagai mana dengan usaha disini,” sambut ku, masih
dengan harapan agar bisa lulus pergi ke Yogyakarta. Pertanyaan masih terus
dihujamkan kepadaku, sampai sedemikian detailnya, agar mereka benar-benar yakin
dan tidak salah memilih orang.
Ketika
pengumuman hasil wawancara selesai kami terseleksi 53 orang pergi ke Yogyakarta,
bagaikan lagu Ahmad Dani “ Senangnya
dalam hati jika pergi ke Yogyakarta”, eh salah “beristri dua”hahaha, saking senang nya kawan, semua bagaikan
sebuah ilusi belaka, dapat mengunjungi kota pelajar, kota budaya, kota yang
penuh Sejarah.
Sebelum
kepergian kami ada pelepasan oleh Rektor.
“di Yogyakarta itu sudah terkenal
dengan kota pelajarnya, disana dari seluruh penjuru Indonesia ada disana, nanti
ketika kalian disana kalian akan menemui berbagai plat nomor Kendaraan bermotor
dari berbagai kota” kata beliau dalam sambutannya, bagaikan
pemandu wisata menjelaskan satu-persatu plat kendaraan bermotor, terlihat
begitu luasnya pengalaman beliau tentang Yogyakarta“kalau sudah di Yogyakarta nanti kalian ke malioboro disana kalian
belanja banyak yang murah-murah, ada juga tempat potong rambut harga mahasiswa
hanya dengan menunjukkan kartu mahasisswa, dan masih banyak lagi, harapan saya
kalian disana tidak sampai lupa diri kalau belanja” lanjut beliau
memperingatkan kami agar tidak boros, dan sadar bahwa kami di biayai dalam
studi.
Mengakhiri
sambutannya rektor mengetukkan palu 3 kali tertanda bahwa sidang di buka dan terbuka untuk umum, eh salah, maksud nya Pelepasan kunjungan persahabatan dinyatakan resmi,
serempak disambut dengan tepuk tangan yang meriah oleh peserta Kunjungan
persahabatan dan berfoto bersama.
“Kawan-Kawan kita akan membagikan
uang saku kalian, setelah ini kalian
menuju Comdev untuk tanda tangan dan mengambil uang makan untuk selama yogyakarta”
kata
bendahara Comdev.
Sore
itu, dikala matahari mulai redup dan meninggalkan bumi, kami masih berbaris
rapi bagaikan pada zaman jepang ketika menerima upah dari tentara jepang, sehabus
mengikuti Cultul Stelsel, hanya untuk
mengambil uang makan kami di yogyakarta.
|
Part
1, 19 November 2013, Go To Yogyakarta
|
Ketika
embun pagi hari masih menyelimuti bumi, di tengah sinar rembulan yang cerah
serta sinarnya menerangi bumi ini. Di pagi itu kami terbangun dan telah sibuk
menyiapkan diri menuju Bandara Supadio Pontianak, dimana pukul 5.30 kami harus
Check In untuk menuju Yogyakarta.
Yogyakarta
“ya, siapa yangg tidak kenal dengan Yogyakarta, Kota yang dikenal dengan Kota
Pelajar, Kota Budaya, Kota yang kaya akan sejarah Perjuangan, Sejarah Religious
dan lain sebagainya”. Ke kota inilah
kami akan mengukir cerita bersama kawan-kawan Bidikmisi 2010. Dipagi itu ketika
sampai di bandara Supadio Pontianak, terlihat senyum ceria dan semangat
kawan-kawan, melalui wajah-wajah mereka yang mengeksperesikan diri
masing-masing.
“foto-in gue dong” kata martini, salah satu anggota kelompok 3,
lalu dengan senyum sumringah dia berpose depan
kamera bagaikan layaknya seorang model yang sudah terkenal go internasional (semoga terjadi-amiiin).
“Gantianlah, aku juga mau dong di
foto” sambut mas Khosir
Sambil
menyodorkan sebuah Tab, lalu bergaya dengan mengambil bacground bandara Supadio
Pontianak, yang menurutnya masih Unik dan Tradisional dengan ukiran dayaknya
(hihihi).
“yuk kita foto bareng-bareng
sebelum berangkat” kata ketua kelompok 3 dengan bijak
bagaikan seorang pemandu wisata yang profesional dalam hal menangani para
wisatawan yang kocar-kacir.
“ketua kelompok, ayo kumpul dulu”
sapa salah seorang perempuan dari kejauhan yang tidak asing lagi suaranya bagi
kami. Beliau adalah Bu Entin, yang memangku sebagai ketua Comdev &
Outreaching Universitas Tanjungpura
“untuk ketua kelompok harus bisa
menjalin kerjasama, menjaga dan selalu memeriksa anggotanya, Bording Pass
sengaja tidak kami bayarkan langsung, ini biar kalian tahu bagaimana cara
bayarnya”Saran beliau kepada kami.
Beliau
berpesan agar ketua kelompok bisa menjaga dan selalu memeriksa anggota
kelompoknya, barang-barang anggota kelompoknya, baik pada saat mau berangkat
ataupun pada saat turun dari pesawat. Selanjutnya Bu Entin dengan perhatiannya
membagikan bungkusan kue kepada ketua kelompok yang siap untuk dibagikan kepada
anggota kelompoknya. Sambil mengabsen anggota kelompoknya, ketua kelompok
membagikan breakfast (ciaaah breakfast) kepada anggota kelompoknya.
“Ayo foto-fotonya udah”
sahut Bu Entin “kita Check In dan Bording
Pass dulu, biar tidak ketinggalan pesawat”, lanjut Beliau.
Foto
By : Habib Grafhy kelompok 3
Kami
pun berjalan menuju pintu masuk yang dijaga pengaman bandara bagaikan seorang superhero, yang memeriksa keamanan para
penumpang yang akan check in. Kami pun bagaikan seorang teroris yang di
waspadai bagi mereka yang seolah-olah kami ini sangat berbahaya. Itu semua
tergambar dengan cara mereka memeriksa badan dari ujung rambut sampai ujung kaki,
menggunakan alat pendeteksi, dan barang kami di masukkan ke dalam alat khusus
pendeteksi.
Setelah
melakukan bording pass kami langsung menuju pintu ruang tunggu. Ruang tunggu di
mana kami akan menunggu pesawat yang akan membawa kami ke Yogyakarta yang didahului
transit ke Jakarta. Ketika masuk ke ruang tunggu selanjutnya menuju airport
taks, banyak cerita yang terukir di benak kami, mungkin sebagian kawan-kawan
merasa “mau naik pesawat aja ribetnya
minta ampun” (hehehe). Tapi disinilah letak pengalaman pertama yang lucu,
karena sebagian kawan-kawan ada yang mau langsung masuk tanpa bayar bording pass dulu, bahkan ada yang mau
bayar lagi, padahal sudah di kolektif kan kepada ketua kelompok.
Wahai
para sahabaku
Oleh
: Habib
Mungkin kita hidup tidak bersama, selalu ada
rasa yang berbeda
Caramu hidup, caraku hidup..
Tapi ingat sahabat kita menyatu
dalam sebuah ikatan persahabatan
Sahabat walau berbeda saling
menyapa..
Sahabat walau berbeda kita satu
jiwa
Sahabat seperti Pelangi, walau
berbeda, namun menghasilkan kombinasi warna yang enak dipandang mata
Sahabat walau berbeda kita
melengkapi jiwa yang sepi
Sahabatku jangan lupakan kenangan
tentang kita
Tentang kita yang menantang
kejamnya hidup secara bersama-sama
Itulah sebuah persahabatan...
07.10
kami siap meninggalkan Bandara Supadio Pontianak, dengan menggunakan Pesawat
Lion Air dan kami disambut oleh
Pramugari bak seorang putri yang menyambut para pangeran menaiki tangga
kain merah kekaisaran (lagi mimpi jangan
di ganggu). Dengan kepiawaiannya Pramugari memperagakan keselamatan
mengudara untuk kenyamanan kami apabila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan
(cieee-cieee, bahasanya tu, huuuhhh),
Setelah Take off dan mengudara di atas awan bagaikan seekor burung rajawali
yang menaungi indah nya alam semesta, dan mengepakkan sayapnya seolah-olah
menaungi samudra yang luas, seketika itu terlihat wajah-wajah ceria dari
kawan-kawan untuk melihat indahnya pemandangan di atas udara, ketika kami
mengudara (bukan lagi siaran Radio ya),
saat masuk dalam pesawat banyak sejarah yang terukir, karena ini pengalaman
pertama masuk dalam pesawat bagi sebagian kawan-kawan. Dalam pesawat pun satu
hal yang menjadi kewajiban tetap dilaksanakan dan tidak boleh tertinggal yaitu
foto-foto. Contohnya saja ini :
Foto
By : Habib Grafhy
Jakarta
Terlihat Dari Udara
Foto By : Habib Grafhy
Foto By : Habib Grafhy
Mendarat
di bandara Soekarno Hatta jakarta sekitar pukul 08.28, suara lembut bagaikan
penyiaran radio itu kembali menyapa kami, Seorang Pramugari mengalun suara
lembut di telinga kami, membuat hati ini tentram dan damai “selamat datang di Jakarta”sapanya. Keluar dari pesawat semuanya pada heboh ingin foto-foto dengan
backround pesawat Lion Air yang telah membawa kami dari Bandara Supadio
Pontianak menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Banyak yang foto dengan
backround pesawat, ada juga sebagian foto dengan backround bandara Soekarno
Hatta. (Maklum dikampung gak ada benda
kayak gini, hehehehe, just kidding), Hihihihi si narsis lagi foto-foto
Foto By : Habib Grafhy
Foto
By : Agust Grafhy
Dengan
di jemput oleh Bus Khusus kami langsung menuju bagian lapor transit, yang
diharuskan antri satu persatu. Disini kami dapat sebuah pelajaran. Ketika ada
seorang nenek yang berjalan pakai tongkat ikut antri di belakang kami, “Silahkan nek duluan aja,”dengan cekatan
Eko mempersilahkan nenek tersebut untuk maju kedepan dan duluan lapor tiket,
padahal dia memang datang jauh dibelakang kami. Nenek tersebut pun tidak
henti-hentinya mengucapkan terima kasih banyak kepada kami. Dengan senyum manis
bahagianya nenek itu meninggalkan kami. Ini baru mahasiswa Bidikmisi, antrinya
rapi.. hihihi -_-
Foto By : Habib
Grafhy
Setelah itu kami langsung menuju ruang tunggu
lagi, karena pesawat yang akan mengantar kami menuju kota Yogyakarta akan
berangkat pukul 10.10. perjalanan menuju
ruang tunggu pun harus melewati berbagai pemeriksaan, agar semuanya aman dari
berbagai macam tindak kejahatan. (mereka
gak tau apa anak bidik misi kan imuet2 dan manis, gk mungkin jahat, hehehe).
Berada diruang tunggu
Bandara Soekarno Hatta, walau lelah melanda semuanya namun satu hal yang tidak
pernah dilupakan, yaitu eksis dengan sebuah bukti, terekamnya gambar-gambar
maniak foto disebuah kamera, ini bukti rill-nya
Foto
By : Habib Grafhy
Dan
juga ada yang ???????? -_-
_--------______
Nyenyak sekali mba tidurnya, kelelahan
ya? Ntar ketinggalan pesawat piye mba?
Seng sabar yo mba, jangan marah yo.. -_- dengan muka lugunya mereka tidur atau
bahasa alay-nya “Bobog” hihihihihi
-_-(yang penting jgn ada pulau
tertinggal, hahaha)
Foto
By : Habib Grafhy
Sedang
asyik-asyiknya, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis dari kejauhan“Ketua kelompok harap cek anggota kelompoknya,
jangan sampai ada yang ketinggalan,”ucap kak Miranti (kak mimi cantik,
hihi). Ketika berada di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta
Di
ruang tunggu, kembali para ketua kelompok bagaikan bagian keamanan bandara
memeriksa satu persatu anggota kelompoknya, ini untuk memastikan bahwa tidak
ada anggota kelompoknya serta barang bawaan yang tertinggal.
Setelah
melakukan memeriksa anggota kelompoknya, dan dipastikan tidak ada yang
tertingal, bagaikan komandan perang yang akan melakukan misi perdamaian ketua
kelompok tanpa lelah langsung membagikan snack
kepada anggota kelompoknya, agar misi dapat menuju sasaran target dengan tepat
tanpa ada yang mati kelaparan.
Setelah
menunggu kurang lebih 2 jam, akhirnya kami bersiap menuju Kota Yogyakarta, Kota
yang menjadi tujuan utama kami untuk melakukan Kunjungan persahabatan With
Comdev & Outreaching. Kami pun mengudara lagi menggunakan Lion Air, penerbangan
menuju Kota Yogyakarta cukup menegangkan, dikarenakan cuaca yang sangat buruk,
sehingga pesawat mutar-mutar menghindari badai di depan untuk menyelamatkan
wajah-wajah imut kami, dengan kelincahan dan pengalaman terbangnya pilot
mengendalikan pesawatnya agar terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan.
Menyebabkan seringnya terjadi goncangan dalam pesawat, sehingga kawan-kawan
yang perempuan sudah ada yang hampir menangis, (hihihihihii, dasar penakut
-_-). Setelah melewati ketegangan itu kami kembali dibuat takut dengan lamanya
pesawat mutar-mutar diudara, agar ketepatan mendarat bisa diukur (ciaaah, udah mirip pengamat penerbangan
nieee).
Setelah
melewati rasa tegang, rasa takut, akhirnya kami mendarat di bandara Adisutjipto
Airport Yogyakarta dengan selamat (Alhamdulilah).
Hal
yang wajib!!!! -_-
Foto By
: Habib Grafhy
Foto
By : Agust Grafhy
Dengan
senyum bahagia, kawan-kawan semuanya berlari ke sana-sini sibuk berfoto dengan
bacground benda yang baru pernah di temui yang selama ini hanya dalam impian, hahahaha, dengan latar tulisan
Adisutjipto Airport, dan tulisan Welcome To Yogya, bahkan latar Pesawat. Rasa
tegang dan takut ketika dalam pesawat pun hilang begitu saja, dengan
mengekpresikan diri di depan kamera dan disambut oleh eksotisnya alam
Yogyakarta yang membuat mata ini tak pernah berkedip memandang keindahan dan
kekayaan alamnya dan juga udara Yogyakarta yang sedikit panas, tapi tetap segar
membuat kawan-kawan semua begitu bahagianya.
Terima
kasihku untuk Tuhan
Oleh
: Habib
Mata ini terpukau
Mata ini terlena
Mata ini terpikat
Oleh keindahan alam-Mu Tuhan
Disini, di Kota Yogyakarta Ini..
Kami semua berdiri, mahasiswa
Bidikmisi..
Dari Universitas Tanjungpura yang
sudah lama berdiri
Dan banyak mengukir prestasi...
Keindahan alam-Mu ini..
Menyejukkan mata, menyejukkan jiwa...
Tiada kata yang pantas untuk
mencaci keindahan alam-Mu ini
Tuhan..
maafkan tingkah manusia yang tidak bisa menghargai keindahan alam-Mu ini
maafkan tingkah manusia yang tidak bisa menghargai keindahan alam-Mu ini
Tapi...
Yakinlah, kami berdiri disini, Para
mahasiswa Bidikmisi..
Akan menghargai dan menjaga
keindahan alam-Mu ini Tuhan
Terima kasihku untuk-Mu Tuhan.
Foto
By : Habib Grafhy
Ketua
kelompok kembali melaksanakan tugasnya, yaitu mengecek semua anggota
kelompoknya, apakah sudah lengkap semua atau belum. Pengecekan selesai dan
semuanya lengkap, kami pun berjalan menuju bus yang telah siap sedia menunggu
kami keluar dari bandara, dengan menggunakan bus tersebut kami akan menuju
wisma tempat kami berteduh selama 6 hari Dikota ini.
Foto By : Habib Grafhy
Tiba di Yogyakarta
sekitar pukul 14.15, mata kami terpukau, terpana dengan keadaan disekitar jalan
menuju wisma kami. Disepanjang jalan kami melihat aktivitas masyarakat
Yogyakarta yang masih Tradisional atau mempertahankan budaya yang mereka
cintai, inilah sedikit nuansa yang membuat Kota
Yogyakarta berbeda dengan wilayah lainnya begitu nyata ke istimewaannya.
Ketertiban masyarakat di sepanjang jalan terlihat dengan tertibnya lalu lintas,
tak ada satu pun masyarakat pengguna jalan yang melanggar marka jalan sampai
lampu hijau hidup, disinilah ketertiban masyarakat terlihat berbeda dengan kota
kami kawan, yang mana masih banyak kurangnya kesadaran masyarakat dalam tertib
lalu lintas, tatanan kota yang terlihat rapi dan indah membuatku seakan-akan
memejamkan mata ini, ketika melihat begitu banyaknya spanduk, baliho yang
merusak pemandangan indahnya kota Yogyakarta. Hujan deraspun menyambut kami
ketika kami sampai di wisma Yogyakarta. Kelelahan kawan-kawan terbayar lunas
ketika selesai mandi, sarapan, ada sebagian kawan-kawan yang sudah langsung
pergi keluar. (sudah tidak sabar melihat
suasana Yogyakarta). Walau hujan yang seperti enggan membiarkan bumi ini
gersang terus dan terus datang tetes demi tetes membasahi bumi. (eiiittts kok jadi puitis gini). Takkan menyurutkan teman-teman untuk menikmati
kota yogya disore hari.
|
Part
2, 19 November 2013, Go To Candi Borobudur dan Benteng
Vredeburgh
|
Ketika bumi ini masih
diselimuti oleh embun pagi yang menyejukkan jiwa, menembus kulit sehingga
terasa dingin dibadan. Kami semua sudah berdiri kokoh, berjalan menuju mushola
di Wisma Arimbi, untuk melaksanakan Ibadah Sholat Subuh Berjamaah. Selesai sholat
subuh berjamaah, kami olahraga bersama di depan wisma dikawani udara pagi yang
sangat nyaman untuk dihirup. Terasa hingga menembus jiwa. Olahraga pertama
dibuka dengan lari-lari kecil mengitari depan wisma secara bersama-sama,
bagaikan atlit yang melakukan pemanasan sebelum bertanding, selanjutnya senam
bersama dengan instruktur oleh abang Yakobus (Yakobus Yeyeh). Ketika merasakan kegembiraan pada pagi hari
pertama di Yogyakarta ini, tiba-tiba dari pojok kiri senam ada teriakan sambil
mengacungkan tangan ke arah kami, lalu berteriak “Penontooooooooon”, itulah suara si muka imut Syabirin atau kanjeng Prabu dengan dalangnya Ari
Ramadhan. (hhiihihihii -_-) dengan lantang. Sontak semua menirukan gaya joget
Caesar yang lucu, dengan goyangan khas nya kamipun mengikuti. Pagi itu kami
akhiri semua-nya dengan senyum bahagia dan tertawa ria, begitulah pagi pertama
kami di Kota Yogyakarta.
Ketika Matahari pagi
mulai memberikan senyum seakan-akan menyapa kami, sekitar pukul 06.00 kami
sarapan pagi bersama, dan menjadi kewajiban sebagai ketua kelompok, mengabsen
anggota kelompoknya satu persatu, dan harus bangun awal untuk sarapan. Pagi
itu, pak Togar memberikan semangat dan menceritakan berbagai hal tentang
Universitas kami dan dengan segudang masalah tentang mahasiswa yang bandel dan
sok jagoan dikampus, dan sering membuat onar dikampus.
Pukul 07.00 kami menuju
Bus yang akan mengantar kami ke Magelang,(senangnya
dalam hati hihihihi).
Kota Magelang ini terdapat satu situs budaya,
religious, yaitu Candi Borobudur. Didalam Bus, tidak banyak yang kami lakukan
selain nyanyi bersama dengan posisi tangan di atas. Walau diluar gerimis, kami
seperti tidak peduli dengan rintik-rintik hujan ini, kami terus bernyanyi
bersama.
Tiba di Candi
Borobudur, Candi yang pernah masuk dalam 7 Keajaiban Dunia ini, saya dan
kawan-kawan semua mengucapkan syukur kepada Tuhan. Namun keadaan cuaca yang
kurang mendukung dimana gerimis masih membasahi bumi, kami disambut sama warga
yang menawarkan jasanya menyewakan payung dengan harga Rp. 5.000 per payung.
Seperti
yang di pakai mba iki lho
Atau Mas yang ini hhihihihihi -_-
5.000 aajaaaa mas!
Foto By : Habib Grafhy
Foto
By : Mujiono
Selanjutnya, sambil menunggu Bu entin
dan Tim lagi negosiasi tiket masuk ke Candi Borobudur, yang menjadi sasaran
Foto adalah :
Foto By : Habib Grafhy
Setelah proses negosiasi tiket masuk
selesai, kami pun menuju pintu masuk dan melewati pos pemeriksaan barang
bawaan. Setelah itu kami dikumpulkan dan diberi arahan :
“kita
datang kesini dengan tujuan ingin mendapatkan ilmu, bukan hanya sekedar untuk
foto-foto, jadi kita pertama akan menuju ruang audio visual, setelah itu kita
akan di pandu oleh seorang pemandu wisata Candi untuk melihat Candi”.
Demikianlah yang saya tangkap dari arahan yang disampaikan langsung oleh Ibu
Entin. Kamipun “manut” saja dan menjadi kewajiban kami untuk
mengikuti prosedur yang ada agar semuanya berjalan sesuai rencana. Sekitar 1 jam kami berada diruang audio visual,
kami disuguhkan sebuah film dokumenter yang menakjubkan tentang sejarah Candi
Borobudur Berikut kutipannya cekidot
langsung aja silahkan saksikan baca:.
“Asal Usul Sejarah
Borobudur – Candi borobudur
merupakan salah satu obyek wisata yang terkenal di Indonesia yang terletak di
Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur didirikan sekitar tahun
800-an Masehi oleh para penganut agama Buddha Wahayana. Dalam sejarah candi
borobudur, terdapat berbagai teori yang menjelaskan asal usul nama candi
borobudur. Salah satunya menyatakan bahwa nama borobudur kemungkinan
berasal dari kata Sambharabhudhara yang artinya “gunung” (bhudara) di mana di
lereng-lerengnya terletak teras-teras.
Selain itu terdapat
beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan
“para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain
ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara
konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara
berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan
beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang
berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di
tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de
Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950
berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti
Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah
raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan
pembangunan sekitar tahun 824 M.
Bangunan raksasa itu
baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan
Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah
pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çr?
Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kam?l?n yang disebut
Bh?misambh?ra. Istilah Kam?l?n sendiri berasal dari kata mula yang berarti
tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur
dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bh?mi Sambh?ra Bhudh?ra
dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh
tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.
Letak candi ini diatas
perbukitan yang terletak di Desa Borobudur, Mungkid, Magelang atau 42 km
sebelah laut kota Yogyakarta. Dikelilingi Bukit Manoreh yang membujur dari arah
timur ke barat. Sementara di sebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbau,
serta disebelah barat ada Gunumg Sindoro dan Gunung Sumbing.
Dibutuhkan tak kurang
dari 2 juta balok batu andesit atau setara dengan 50.000m persegi untuk
membangun Candi Borobudur ini. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton.
Seperti umumnya bangunan candi, Bororbudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu
kaki, badan dan atas. Bangunan kaki disebut Kamadhatu, yang menceritakan
tentang kesadaran yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan.
Kemudian Ruphadatu, yang bermakna sebuah tingkatan kesadaran manusia yang masih
terikat hawa nafsu, materi dan bentuk. Sedangkan Aruphadatu yang tak lagi
terikat hawa nafsu, materi dan bentuk digambarkan dalam bentuk stupa induk yang
kosong. Hal ini hanya dapat dicapai dengan keinginan dan kekosongan.”
Setelah selesai kami
pun diajak keluar untuk melihat ke sekitar candi dan didalam candi itu sendiri,
namun tetap harus didahului oleh suatu kewajiban, yang apabila tidak dilakukan
akan dianggap sakral dan tidak syah dan dinyatakan belum pernah ke candi
Borobudur, jawabannya adalah :
Foto By : Habib Grafhy
Selesai bergaya didepan
kamera kami melanjutkan berkelana dan serius mendengarkan apa yang disampaikan
oleh pemandu wisata, namun tetap ada yang “mane
duli” dengan pemandu wisata yang
dengan semangat dan piawai menyampaikan apa yang dia tahu tentang Candi
Borobudur. Padahal oleh pemandu wisata kami sering diberi waktu untuk
foto-foto, mungkin kawan-kawan tidak puas, tapi yang penting tetap ada yang
serius mendengarkan pemandu wisata, ini dia ne orang-orang intelektual yang
serius mendengarkannya :
Foto
By : Habib Grafhy
(sorry
hanya sebagian foto yang kena, karna gak muat di kamera, hehehe)
Banyak hal yang kami
dapatkan di Candi Borobudur ini, karena rata-rata diantara kami baru pertama kali
pergi ke Candi Borobudur. Kami langsung mendapatakan banyak ilmu, mengerti
bagaimana orang zaman dahulu membuat Candi, membuat Candi dengan tanpa
menggunakan alat berat ataupun alat perekat, tapi batu-batunya bisa berdiri
kokoh, ini yang selalu membuat orang dan kami terkagum-kagum, disitu kami
mendapatkan berbagai ilmu baik ilmu budaya, sejarah, arsitek.
Foto
By : Habib Grafhy
Foto
By : Habib Grafhy
Setelah merasa lelah menaiki tangga, akhirnya
kami bersama rombongan serta pemandu wisata, sampai di atas Candi Borobudur.
Momen-momen ini pun kami gunakan untuk foto-foto :
Foto By : Habib Grafhy
Foto
By : Habib Grafhy
Di bawah langit yang
sudah mulai cerah akan munculnya mentari untuk menyinari bumi, kami pun
bergegas turun, untuk melanjutkan ke Situs-situs bersejarah lainnya. Dalam
perjalanan Kamipun tidak menyia-nyiakan waktu untuk melihat-lihat ketika
menuruni tangga Candi, yang menurut kami disetiap sudut Candi selalu memiliki keunikan sendiri. Bahkan
ketika melihat Bule, ada yang langsung mengajak bule tersebut foto bersama,
mungkin ini suatu hal yang jarang dijumpai di tempat wisata ditempat kami.
Dengan wajah heran Mr. Bule tetap senyum ketika di ajak foto bersama, heran
karena banyak yang mengajak dan ingin berfoto bersamanya, Mr. Bule pun bagaikan
seorang artis ternama yang pergi ke suatu tempat, lalu di kerumuni oleh para
fansnya, begitulah yang terjadi pada Bule ini.
Foto
By : Habib Grafhy
Setelah foto bersama,
tidak lupa kami ucapkan “Thanks You Mr”
ucap kami secara bergantian sambil bersalaman dengan Mr. Bule, kita harus tetap
menunjukkan budaya Indonesia yang Sopan dan Ramah ketika menyapa orang. Ketika
di ajak bersalaman Mr. Bule ini agak canggung, mungkin kebudayaan mereka
disana, bersalaman adalah hal yang jarang karena hanya digunakan pada saat-saat
formal saja. Namun lain halnya dengan di Indonesia, orang mengucapkan “terima kasih” saja harus bersalaman.
Walau badan Mr. Bule ini tinggi menjulang, kami tidak sedikitpun malu dengannya
untuk berfoto bersama, kami tidak tahu apakah dia suka di ajak foto bersama
atau malah risih. Tapi secara kasat
mata, berdasarkan penerawangan yang dilakukan (ckckckck) Mr. Bule ini suka di ajak foto bersama. Terlihat senyum
bahagia ketika diajak foto bersama, (Apalagi
ngaajak wajahnya imut-imut dan cakep, hehehe). Nikmatilah pemandangan
Indonesia ini Mr, bila perlu bawa sering-sering keluarga Mr ke Indonesia, guna
menambah devisa Negara (hehehehe -_-).
Setelah semuanya
berkumpul di kaki Candi Borobudur, kami diarahkan untuk menuju bus. Dalam
perjalanan menuju bus banyak ditemui pedagang asongan menawarkan barang jualan
mereka, “Mas 35 ribu aja mas, buat oleh
oleh mas” sapa seorang penjual menawarkan produknya kepada kami, dengan
sedikit memaksa agar kami membeli dagangan mereka, ada juga teman kami yang
menjadi korban keganasan, (wah,
keganasan, macem perang jeee) penjual di Candi Borobudur ini, teman kami
ini diikuti penjual tersebut dari naik ke puncak Candi Borobudur, sampai Ia
turun lagi, si penjual ini terus dan terus mengejar nya, yang penjual tawarkan
adalah baju dengan corak Candi Borobudur, harga pertama dia tawarkan Rp.
35.000, namun dia ini tetap tidak menunjukkan ingin untuk membeli baju
tersebut, lalu dia menawarkan harga, “bagaimana
kalau Rp. 10.000 aja bu?, kata nya, lalu si penjual ini menawarkan harga
Rp. 15.000, tapi kawan saya ini tetap tidak mau, tapi lucunya si penjual ini
tetap mengikuti kawan saya dari naik ke Borobudur, sampai turun lagi, dengan
tetap celoteh-celoteh khas para penjual, yang selalu menawarkan barangnya,
akhirnya ketika dekat dengan pintu keluar kawan saya bilang :
“ya
sudah kalau ibu mau Rp. 10.000 gimana?”ujar teman kami
kembali, dengan tetap mempertahankan harga tawarannya (karena memang tidak ada niat mau beli baju).
Lalu ibu penjual tadi
pun dengan sedikit terpaksa Ia menganggukkan kepala, tanda transaksi beli baju
dengan corak Candi Borobudur pas dengan harga Rp. 10.000. ketika dalam bus, teman
kami bilang, “saya tidak ada niat sama
sekali mau beli baju, namun karena ibu penjual tadi selalu mengikuti terus, dan
dengan alasan faktor kasian akhirnya saya beli baju yang di jual dia, tapi
dengan harga yang sangat miring.”
Ketika Mentari di siang
itu baru muncul memberikan panasnya kepada bumi ini, dan bus kamipun meluncur
menuju benteng Vredeburgh dengan di iringi alunan lagu-lagu yang membuat
suasana di bus semakin asyikk sekalian menikmati indahnya kota Yogya.
Pelaksanaan kegiatan di Benteng Vredeburg tak jauh berbeda dengan di borobudur
setelah masuk karcis kami menuju ke audio visual berikut cuplikan selayang
pandang nya. (ehm,ehm, batuk lok) :
“Benteng
yang dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk
menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Dengan parit yang mengelilinginya,
benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara pengawas di ke-empat
sudutnya dan kubu yang memungkinkan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling
sambil berjaga-jaga dan melepaskan tembakan jika diperlukan.
Pada dasar meriam di kubu bagian selatan, Kraton
Yogyakarta dan beberapa bangunan bersejarah lainnya termasuk kepadatan
lalulintas di sekitarnya terlihat dengan jelas. Dibangun pada tahun 1765 oleh
Belanda, Museum dengan luas kurang lebih 2100 meter persegi ini mempunyai
beberapa koleksi antara lain:
- Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya.
- Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru.
- Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia”.
SEJARAH
- Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya.
- Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru.
- Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia”.
SEJARAH
“Museum Benteng Yogyakarta, semula bernama "Benteng
Rustenburg" yang mempunyai arti "Benteng Peristirahatan" ,
dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Kraton. Berkat izin Sri
Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765-1788 bangunan disempurnakan dan
selanjutnya diganti namanya menjadi "Benteng Vredeburg" yang
mempunyai arti “Benteng Perdamaian”.
Secara historis bangunan ini sejak berdiri sampai
sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi yaitu pada tahun 1760 - 1830
berfungsi sebagai benteng pertahanan, pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai
markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 - 1977 berfungsi sebagai
markas militer RI.
Setelah tahun 1977 pihak Hankam mengembalikan kepada
pemerintah. Oleh pemerintah melalui Mendikbud yang saat itu dijabat Bapak Daoed
Yoesoep atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik,
ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara pada
tanggal 9 Agustus 1980.
Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum
Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23
November 1992 resmi menjadi "Museum Khusus Perjuangan Nasional"
dengan nama "Museum Benteng Yogyakarta".
Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan
dilestarikan. Dalam pemugaran pada bentuk luar masih tetap dipertahankan,
sedang pada bentuk bagian dalamnya dipugar dan disesuaikan dengan fungsinya
yang baru sebagai ruang museum”(ciee, ini
contoh menyerap penjelasan dengan baik dan benar, hehehehe).
Foto
By : Habib Grafhy
Selesai sudah cerita kami di benteng Verdeburg,
menjelang petang hari dan ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat,
suasana di sore itu tidak kami sia-siakan.
“Oke, kalian kami beri kesempatan 2 jam untuk belanja-belanja, dan berjalan-jalan di sekitar malioboro” kata bu Entin, yang memberikan kami peluang untuk Shoping,
“Horeeeee,’” teriak teman-teman dalam
hati, yang akan mencari oleh-oleh.
“ Dari sini
nanti kalian menuju jalan utama trus belok ke arah kanan, kalian lurus aja,
disepanjang jalan itu nanti kalian akan temui pusat pembelanjaan, ingat belanja
lah sehemat mungkin agar barang bawaan
kalian saat pulang nanti tidak over bagasi” saran bu Entin
kepada kami, tanpa sadar sekalian memperingatkan dan menyadarkan kami bahwa
kami anak beasiswa, dan harus hemat dalam pemakaian uang untuk kuliah
selanjutnya.
Kesempatan sore itu tidak kami sia-siakan untuk
mencari oleh-oleh, tanpa terasa hingga larut malam kami mutar-mutar di
Malioboro.
“berapa ini mas’”
sapaku
“ yang itu
25.000 aja mas,” jawab penjual
“10.000, aja ya
mas,.” Ku tawar harga baju itu, semurah mungkin dengan
harapan agar bisa hemat dan belanja banyak2, (dasar muka pelitt, hahaha).
“15.000 aja ya
mas’’ kata penjual.
“kalau boleh
10.000,’ saya ambil mas,” hehehe, (dengan muka melas
kutawar baju itu).
Setelah proses tawar-menawar akhirnya luluh runtuh
juga hati penjual itu, bagaikan habis kena bujuk rayu sang pujangga hati dengan
muka melas penuh harap.
“ya deh mas, itung-itung buat penglaris” jawab
penjual itu kembali.
Waduh, kali ini giliran aku yang tersentak bagaikan
sebuah petir yang tiba-tiba datang menyambar, ketika mendegar kata-kata dari
penjual itu, seakan-akan aku ini seorang penjajah yang dengan kejamnya merebut
atau menguasai suatu daerah dan dengan memaksa, karena harga tawaran yang
begitu jauh dari harga awal. Tanpa terasa kami berbelanja hingga larut malam,
banyak dari teman2 yang puas-puas shoping untuk oleh-oleh, maupun untuk
sendiri, mondar-mandir mencari barang-barang yang dicari.
Selesai belanja-belanja dan berjalan-jalan tanpa
terasa kaki ini lelah untuk melangkah, ku melihat ada tempat duduk tempat orang
jualan makanan.
“ Bu, Mie Ayam
2 yaa,.” Aku mesan makanan untuk kami berdua muji.
“ ya mas, tunggu
ya,”
sahut ibu itu dengan ramah.
Sambil menikmati santap malam, kami memandangi
keindahan sepanjang jalan malioboro yang hampir penuh dengan penjual, namun
tertata rapi. Dan berbagai hiruk-pikuk orang berlalu-lalang, hilir-mudik, di sekitar
jalan malioboro. Berbagai jenis suku, baik asli Indonesia maupun turis-turis
semua ada di situ, (termasuk kami,
hehehe)
Saat itu, Tiba-tiba ku terlena menatap sesosok
manusia dengan paras yang bagus hampir sempurna, namun disayangkan sosok
tersebut memegang dua alat musik, yang satu di gendong menyerupai gitar namun
tali nya hanya tiga, dan satu lagi di gengam, alat yg satu terbuat dari tutup
batu baterai, yang di satukan. Sosok tersebutpun menghampiri kami dengan suarsa
khas nya.
“Brrooonnndooonng!!!!,”Teriak
suara tersebut menyapa kami, kemudian bernyanyi menggunakan alat musik yang
dibawanya.
Seketika itu makanan yang ada didalam mulut serasa
tersentak muncratt, keluar semua, dan
rasanya ingin lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Menahan sebuah geli tawa yang ku tahan,
mendengar suara yang tak ku bayangkan saat itu, ternyata eh ternyata, apa yang dalam benak ini meleset semua, sosok
tersebut mahluk jadi-jadian, eh maksudnya, mahkluk yang kami tak ketahui jenis
kelaminnya. Melihat sosoknya bagaikan seorang putri raja yang dihias dengan pernak-pernik
kerajaan yang menghiasi seluruh
tubuhnya. Namun, ketika mendengar suara khasnya, sosok tersebut bagaikan
seorang komandan perang yang dengan lantang dan keras memberi komando kepada
para prajuritnya, untuk maju berperang, kami tak menyadari ternyata makhluk itu
jadi-jadian, antara wanita dan laki-laki yang tak bisa menyatu dalam satu tubuh.
(alias, B***i),heeheheheheheee.
Ketika suasana Yogya dimalam hari mulai terlihat
keindahan dengan sinar lampu yang disetiap sudut Kota memancarkan sinarnya,
kala itu kami bergegas menuju bus. Kami tatap di balik jendela bus, Sinar-sinar
lampu yang terlihat terang sehingga membuat suasana Yogya di malam hari semakin
indah dan mempesona, menghantarkan kami di sepanjang perjalanan menuju
penginapan, dimana kami akan beristirahat kembali.
|
Part 3, 21 November 2013 Go to Prambanan dan UGM
|
Bagaikan ular yang lagi malas untuk mencari mangsa
dan hanya mendekam di balik rerimbunan rumput kami tak ingin rasanya bangun dan
keluar dari selimut yang hangat itu kawan, yang membuat begitu nyenyaknya tidur
malam di atas kasur gratis bagi kami, di Pagi hari yang sejuk di kota Yogyakarta,
ketika embun masih menyelimuti bumi, terdengar suara keras dari luar pintu.
Tokk tokk tokk, terdengar
pintu diketuk dari luar dengan keras.
“ Bangun-bangun udah siang.”. Teriak
suara itu dari luar pintu, tak asing lagi suara itu adalah suara komandan
perang, eh salah, maksudnya suara
ketua kelompok yang membangunkan kami, untuk olahraga pagi agar badan sehat dan
kuat, hehehe
Pagi itu suasana kota Yogyakarta begitu cerah tak
seperti hari sebelumnya, mentari di pagi itu menyambut kami dengan senyum
sinarnya, yang membuat kami merasakan kesejukan pagi dan menikmati pesona alam
kota Yogyakarta hari itu, selesai makan dan mandi, kami menuju bus yang akan
membawa kami para Turis-turis jadian dari kalimantan barat, hehehe, mengelilingi kota Yogyakarta.
Mata
ini kembali tercengang kawan, serasa
semuanya hanya sebuah mimpi, sebuah ilusi yang ada dalam diri kami, indah
pesona alam, cagar budaya, dan sejarah kota Yogyakarta membuat kami tak ingin
meninggalkan momen-momen indah itu, kami kembali dihadapkan dengan sebuah
arsitektur peninggalan sejarah religius yang sampai saat ini masih menjadi
sebuah tanda tanya, akan keberadaan misteri asal muasal dari bangunan ini,
dengan di kelilingi indahnya alam yang masih asri, Candi Prambanan berdiri
megah menantang kemegahan alam lainnya, serasa tak pernah di terpa oleh gempa
bumi yang pernah menggoncang kota yogyakarta itu.
Dengan keahliannya seorang pemandu memberikan
penjelasan tentang sejarah keberadaan candi Prambanan, berikut cuplikannya,
silahkan disimak, agar dapat ilmu juga :
Sejarah
candi prambanan Yogyakarta
Candi
prambanan merupakan salah satu candi yang terletak di Indonesia dan merupakan
salah satu tempat tujuan wisata. Candi prambanan sering kali dipanggil dengan
nama candi Roro Jonggrang, candi ini merupakan candi Hindu terbesar di
Indonesia dan sekaligus menjadi candi yang sekaligus menjadi candi yang
terindah di Asia Tenggara ini merupakan aset Indonesia yang tidak dapat dinilai
harganya. Candi prambanan dibangun pada abad ke-9 masehi yang ditujukan untuk
Trimurti yakni tiga dewa utama bagi agama Hindu, Brahma sebagai dewa pencipta,
Siwa sebagai dewa pemusnah dan Wishnu sebagai dewa pemelihara.
Candi
prambanan terletak di perbatasan antara Jawa tengah dan Daerah Istimewa
Yogyakarta, sehingga ada pula yang mengatakan bahwa letak candi Prambanan di
jawa tengah. Candi prambanan terletak sekitar 20 KM dari Yogyakarta yang masih
masuk wilayah Sleman dan Klaten.
Candi
yang termasuk kedalam Situs warisan dunia ini menurut Prasasti Siwagrha
dibangun sekitar tahun 850 masehi dan dibangun oleh Rakai Pikatan kemudian
dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu pada masa kerajaan Medang
Mataram.
Candi Prambanan memiliki kaitan yang erat dengan kerajaan pengging, pada masa itu diceritakan kisah Bandung Bondowoso yang hendak menikahi Roro Jonggrang, namun ternyata Roro Jonggrang tidak menyukai Bandung Bondowoso dan hendak menolak lamarannya dengan cara yang halus.
Cerita di Balik Candi pembangunan (terjadinya) candi
Prambanan
Ada kisah yang saya dengar pada awalnya ada seorang kesatria yang memiliki nama Bandung Bandowoso yang hendak menikahi seorang putri yang memiliki nama Rara Jonggrang. Rara Jonggrang ternyata tidak menyukai Bandung Bandawasa dan hendak menolak lamaran sang kesatria Bandung Bandawasa tersebut. Rara Jonggrang tidak ingin menyakiti hati Bandung Bandawasa dan akhirnya dia menolak dengan cara yang halus, dia meminta agar dibuatkan 1000 (seribu) candi dalam kurun waktu 1 (satu) malam. Rara Jonggrang berfikir Bandung tidak akan bisa memenuhi permintaannya tersebut, tanpa di kira ternyata Bandung Bandawasa menyanggupi permintaan Rara Jonggrang tersebut. Akhirnya pada suatu malam yang telah ditentukan Bandung Bandawasa memulai membuat candi tersebut dengan bantuan Jin. Pembuatan 1000 candi hampir selesai dibuat, akhirnya Rara Jonggrang merasa panik dan memikirkan suatu cara agar Bandung gagal dalam pembuatan 1000 candi tersebut. Ditipulah Bandung dan Jin nya dengan suara ayam dan aktifitas warga, sehingga Bandung dan Jin nya menganggap sudah pagi. Jin yang takut terkena sinar matahari akhirnya meninggalkan pekerjaan membuat candinya karena menganggap waktu itu sudah pagi. Tanpa diketahui ternyata usaha Rara Jonggrang tersebut diketahui oleh Bandung Bandawasa dan akhirnya rara jonggrang dijadikan candi yang ke 1000 sebagai pelengkap 999 candiu yang telah dia buat bersama dengan Jin nya. Benar atau tidak cerita ini saya juga kurang tau pasti karena pada kenyataannya hanya terdapat ratusan candi saja di candi tersebut. Sampai sekarang cerita mengenai candi prambanan ini masih menjadi legenda.
Ada kisah yang saya dengar pada awalnya ada seorang kesatria yang memiliki nama Bandung Bandowoso yang hendak menikahi seorang putri yang memiliki nama Rara Jonggrang. Rara Jonggrang ternyata tidak menyukai Bandung Bandawasa dan hendak menolak lamaran sang kesatria Bandung Bandawasa tersebut. Rara Jonggrang tidak ingin menyakiti hati Bandung Bandawasa dan akhirnya dia menolak dengan cara yang halus, dia meminta agar dibuatkan 1000 (seribu) candi dalam kurun waktu 1 (satu) malam. Rara Jonggrang berfikir Bandung tidak akan bisa memenuhi permintaannya tersebut, tanpa di kira ternyata Bandung Bandawasa menyanggupi permintaan Rara Jonggrang tersebut. Akhirnya pada suatu malam yang telah ditentukan Bandung Bandawasa memulai membuat candi tersebut dengan bantuan Jin. Pembuatan 1000 candi hampir selesai dibuat, akhirnya Rara Jonggrang merasa panik dan memikirkan suatu cara agar Bandung gagal dalam pembuatan 1000 candi tersebut. Ditipulah Bandung dan Jin nya dengan suara ayam dan aktifitas warga, sehingga Bandung dan Jin nya menganggap sudah pagi. Jin yang takut terkena sinar matahari akhirnya meninggalkan pekerjaan membuat candinya karena menganggap waktu itu sudah pagi. Tanpa diketahui ternyata usaha Rara Jonggrang tersebut diketahui oleh Bandung Bandawasa dan akhirnya rara jonggrang dijadikan candi yang ke 1000 sebagai pelengkap 999 candiu yang telah dia buat bersama dengan Jin nya. Benar atau tidak cerita ini saya juga kurang tau pasti karena pada kenyataannya hanya terdapat ratusan candi saja di candi tersebut. Sampai sekarang cerita mengenai candi prambanan ini masih menjadi legenda.
Perpindahan
Pusat Kerajaan Mataram ke jawa timur menjadikan candi prambanan tidak terurus.
Candi prambanan terkena dampak dari gempa bumi dan letusan gunung berapi yang
mengakibatkan banyaknya reruntuhan dari candi. Candi Prambanan kembali
ditemukan oleh seorang yang berkebangsaan Belanda beliau memiliki nama C.A
Lons, pada saat itu beliau mengunjungi pulau jawa dan pada tahun 1733 beliau
melaporkan bahwa terdapat reruntuhan candi yang telah ditumbuhi oleh semak
belukar.
Candi Prambanan
merupakan candi yang termasuk kelompok candi yang dibangun oleh raja Dinasti
Sanjaya abad ke IX (sembilan). Pada candi ini ditemukan tulisan Pikatan yang
menandakan bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan dan kemudian diteruskan
oleh Rakai Balitung. Banyak cerita yang mengalir di masyarakat mengenai candi
ini, ada cerita yang mengatakan bahwa candi Prambanan dibuat oleh satu orang
yang memiliki nama Bandung Bandawasa namun cerita ini sampai sekarang masih
belum bisa dibuktikan kebenarannya. (“ehmmm
semoga nggak salah ngasih sebuah
penjelasan”, ckckckck -_-)
Sesuatu yang wajib :
Saat
itu mentari bagaikan marah kepada kami kawan, membuat kulit ini serasa terbakar
oleh sinarnya yang membuat kami tidak kuat lagi menahan perihnya sinar
matahari. Tapi, rasa perih seketika hilang tatkala kami sudah berada dalam bus,
saat itu kami sedang menuju kampus Universitas Gadjah Mada (UGM :
“Ketua kelompok, pastikan anggota
kelompoknya lengkap”, ungkap salah seorang panitia dari
belakang memastikan bahwa tak ada tim yang tertinggal
“ok,
ketua kelompok satu apakah sudah lengkap? Tanya panitia
“sudah
bang” sahut ketua kelompok satu
“kelompok
2, bagaimana, apakah sudah lengkap?
“Sudah
Bang” sahut ketua kelompok dua
“Kelompok
3 apakah sudah lengkap?”
“Belum
bang, masih ada yang didalam, sedang menuju bus. Tadi sudah saya telpon bang” jawab
ketua kelompok tiga, dengan wajah cemas.
Setelah
menunggu beberapa lama Anggota kelompok pun tiba, dengan napas tersengal-sengal
bagaikan dikejar oleh maling, eh ngejar maling, eh, dikejar hantu, ehh, (pokok
itu lah). Hehe
Dengan
di iringi alunan musik pop khas musisi Indonesia, bus kami menuju Kampus UGM,
di kala itu teman-teman terlihat ceria dan senang, dan mengikuti alunan lirik
lagu, beberapa menit perjalanan kami sampai di tujuan, mata kamipun kembali
tercengang bagaikan masih dalam mimpi, begitu megahnya bangunan kampus yang
kami tuju, dengan taman yang tertata rapi, dan hampir diseluruh penjuru halaman
kampus tak kami temukan sampah yang berserakan di jalanan. Nuansa kampusnya
yang sangat asri, membuat pikiran ini menerawang ke alam bebas yang tenang dan
damai, kesejukan ini menusuk tembus hingga ke jiwa, tanpa sadar kita berada
dibangunan mewah tapi tetap tidak meninggalkan kewajiban dalam menghijaukan
kota, itulah adanya dikampus UGM. Terlihat bahwa intelektual penghuninya begitu
nyata, dan patuh pada peraturan yang ada, di sepanjang jalan, jarang ditemui
mahasiswa yang ngumpul-ngumpul gak jelas, yang kami temui di sekitar
perjalanan, banyak mahasiswa yang berkumpul walaupun di teras kampus mereka
tetap berdiskusi bersama dengan PD nya, tanpa ada rasa malu, untuk menimba
ilmu. Ketika kami lewat, senyum dari wajah-wajah ceria mereka pun sangat nampak
jelas keramahan dan tanda mereka sangat menghormati satu sama lain.
“Mahasiswa sini beda ya, mereka gak malu-malu kalau berdiskusi, walaupun di teras kampus” sapa Agus, sambil memperhatikan di sekeliling kampus, dengan seksama dan dalam tempoe yang sesingkat-singkat nya, hehehe malah kayak proklamasi
“Mahasiswa sini beda ya, mereka gak malu-malu kalau berdiskusi, walaupun di teras kampus” sapa Agus, sambil memperhatikan di sekeliling kampus, dengan seksama dan dalam tempoe yang sesingkat-singkat nya, hehehe malah kayak proklamasi
“hal-hal yang kayak gini jarang
kita temui di kampus kita, coba diterapkan di kampus kita,” sambut
Habib,
“iya ne, coba ada yaa, walaupun di
teras kampus, malahan yang ada gengsi klau belajar kayak gitu, minimal harus ad
tempat yang bagus, apalagi kalau tawuran, huh malah cepat reponnya, demi
solidaritas kampus lha, cinta kampus lha, padahalkan yang namanya solidaritas
kampus dan cinta kampus gak harus tawuran, tapi tunjukkan dengan prestasi
dengan membawa harum nama kampus, itu yang benar, kampus kitakan menciptakan
pemimpin-pemimpin bangsa, bukan preman, pemimpin yang berfikir secara
intelektual dalam menyelesaikan masalah” tandas seorang teman
yang ikut serta dalam pembicaraan kami, menjelaskan ke intelektualannya
bagaikan seorang peneliti.
Perjalanan
kami pun berakhir disebuah bangunan mewah, beraksitektur khas bangunan jawa,
itulah ruangan aula Fakultas Tekhnologi Pertanian UGM. Dimana diaula ini kami
akan menimba ilmu dengan civitas akademika pihak kampus biru atau UGM.
“Selamat datang’’,
sapa pramugari, eitss dah mulai dhe,
maksud nya sambut mereka di depan pintu masuk
Setelah
berkumpul, kami pun makan siang bersama dengan anak Bidikmisi UGM, yang
ramah-ramah dan enak di ajak ngobrol. Kami pun makan dengan lahap sambil
ngobrol dengan anak Bidikmisi UGM.
“Siang Mas, Namanya siapa Mas,”
Sapa Firman dalam keramahannya dalam mengawali pembicaraannya
“Siang juga, Saya Agus Nama Mas”,
jawabku
“Firman Mas, mas udah semester
berapa” Lanjutnya
“Tujuh, Mas firman sendiri,’
Jawabku
Sambil
Menunggu, kami larut dalam pembicaraan mengenai kampus, bidikmisi, bahkan
tentang cita-cita bagaimana merubah negeri ini, tanpa terasa acarapun siap
untuk di mulai kamipun siap mendengarkan seminar yang akan disampaikan oleh
Bapak Dr. Drs. Senawi, M. P.Dengan
tema “Strategi Mahasiswa Bidikmisi
Merajut Prestasi Membangun Negeri”. Acara seminar dibuka dan dipandu MC
oleh dua mahasiswa dari UGM, yang sangat asyik dan menyenangkan. Kamipun dibawa
masuk ke dalam acara dengan senyum bahagia kedua MC tadipun membuka acara serta
membacakan susunan acara seminar, yang didahului dengan pembukaan acara
seminar, sambutan dari kampus UGM dan Untan serta ada penampilan seni dari
kedua belah pihak mahasiswa, setelah itu baru masuk ke acara seminar.
Acara
seminar dibuka dengan sebuah penampilan pancak silat yang di tampilkan oleh
seorang mahasiswa UNTAN,”Saya akan menampilkan sebuah Seni pencak silat, yang
mana ini merupakan seni budaya yang ada di indonesia dan pergerakkannya adalah
seni nasional, tapi kali ini saya tidak membawa perlengkapan khusus, hanya
keris yang saya bawa ini pun saya beli tadi, semoga bisa membantu” kata mujiono
dalam sambutannya, dengan krisnya yang mengkilap yang merupakan salah satu
kebudayaan Indonesia.ehm,Tanpa Basa-basi, diapun mulai memeragakan
kepiawaiannya dia menyuguhkan suatu pergerakkan seni penck silatnya, yang
membuat mata ini terpukau dan hati ini berdecak kagum, walau nampak guratan
lelah diwajahnya, namun saya yakin semangatnya muncul kembali ketika melihat
senyum kagum dari para mojang kampus biru (ettttssss,,,zCiieeeee). Pancak
silatnya ditutup dengan tepuk tangan meriah dari para mahasiswa yang hadir,
tepuk tangan meriah ini menandakan mereka sangat kagum dan bahagia dapat
melihat langsung sebuah peraga silat yang seperti sudah sangat profesional
dalam bidangnya.
Tidak
ketinggalan juga musisi khas anak bidik misi UNTAN pun menunjukkan aksi nya,
dengan membawakan sebuah lagu khas dayak kalimantan dan di iringi alunan musik
khas masyarakat Kalimantan suku Dayak,
kami terbawa suasana yang asyik, tanpa terasa kaki kami mengikuti alunan musik
tersebut, gerakkan-gerakkan tangan kami pun tak kalah mengikuti nyanyian mereka
untuk memberi semangat, dengan gerakkan khas, Cuci-cuci Jemur-jemur, kayak yang sering di lihat di sebuah televisi,
dan di sambut dengan suara” eeeeeee
aaaaaaa, eeeeeeeeeee aaaaaaaa” dari teman-teman membuat suasana
ruangan semakin ramai, dan seruu. Ini adalah lagu persembahan dari mahasiswa
bidimisi Untan yang dengan piawai dalam melantunkan lagu yang sangat nyaman
didengar, walau kami sendiri tidak mengerti apa artinya, karena menggunakan
bahasa Dayak “Menyaduk”. Yang kami
tahu lagu ini sangat romantisme didengar di telinga. Setelah selesai menyanyi,
kawan kami menjelaskan apa arti dari lagu tersebut. Lagu tersebut menurut Bg Yakobus Yeyeh dan Bg Albino merupakan lagu ciptaan Bupati mereka, Bupati
Kabupaten Landak. Lagu tersebut menceritakan tentang tanah, bahasa, tempat,
orang-orang dikabupaten Landak. yang walau berbeda-beda namun disatukan di
tanah tersebut, yaitu Tanah Kabupaten Landak.
“saya akan mempersembahkan tarian
melayu ala modern, tapi, sesungguhnya tarian ini di peragakan oleh 2 orang,
namun karna saya belum ada pasangan maka saya akan tetap memeragakan tarian
ini”Kata
Novi dalam mengawali sambutannya.
Selanjutnya
dengan diiringi oleh musik khas tarian melayu, kami terpesona dengan tarian
yang dengan gemulainya diperagakan olehnya,Penulis lihat keceriaan yang
mendalam dari setiap wajah para mahasiswa UGM ketika melihat tarian tersebut.
Jangankan bagi mereka, bagi saya sendiri tarian ini sedikit asing (sedikit jeee -_-). Dengan lincah dia
menarimelenggang-lenggongbagaikan penari handal tanpa malu dia menari di depan
kami bagaikan seorang penari film India, yang cukup mahir dalam memainkan
gerakan badannya, ditambah datang seorang bak Pangeran yang menemui sorang ratu
dengan membawa syal corak Dayak, dia ikut menari kedepan dan cukup mahir juga,
dengan gaya badannya yang lentur. Tak hentinya kami bersorak menyambut sepasang
muda-mudi ini, yang menari bersama, dan seorang putri yang telah menemukan
pangerannya.
Tanpa
kami bayangkan dan tanpa kami ketahui ketika itu Penulis dibuat kagum oleh
sebuah penampilan dari mahasiswa UGM yang mana memiliki keterbatasan fisik,
namun bisa mengukir sebuah prestasi yang gemilang, semangatnya dan motivasinya
dalam mengubah sebuah kehidupan yang mustahil baginya dan keluarga nya menjadi
mustahil, sebuah keterbatasan fisik (tuna
rungu), bukanlah menjadi sebuah penghalang baginya untuk meraih masa depan.
Akhirnya,
Seminar pun dimulai dengan pemateri Bapak Senawi, bertemakan “Strategi Mahasiswa Bidikmisi Merajut
Prestasi Membangun Negeri”. Banyak hal yang bermanfaat kami rangkum dari
materi yang disampai oleh beliau.
Biar
foto yang bicara:
Foto By : Habib Grafhy
Selesai
seminar, nampak puas diwajah kawan-kawan semua, puas akan ilmu yang didapat
atau puas nahan kantuk berat, saya pun tidak paham (hehehe). Kami pun bergegas
menuju bus yang akan membawa kami pulang ke penginapan dengan berbagai rasa,
rasa iri melihat kampus UGM, rasa puas telah menginjakkan kaki di Universitas
terbaik nomor dua di Indonesia ini, rasa puas menahan ngantuk, rasa puas
melihat keindahan kampus UGM, rasa puas berkeliling kota yogyakarta, membaur
menjadi satu tiada duanya lagi.
Seketika
itu bus melaju menuju penginapan dan seperti biasa kami ditemani oleh alunan
musik khas musisi indonesia.
“cieeee, ada yang baru jadian niee”
teriak teman kami dari arah depan.
“ siapa”
sambut Yogi dari bagian tengah, bak tak mau ketinggalan informasi
“Amir dan Dian, lihat lha duduknya
berdua-duaan”, sahutnya kembali
“cieee cieeee cieee cieee,”
sambut yang lain.
“Levi
request lagu Empat mata Bicara,”
sambut yogi kembali
Senda
gurau teman-teman terlihat sangat ceria menghilangkan rasa lelah selama
kegiatan, dengan hadirnya sepasang muda-mudi lagi yang menjadi bahan olokan di
dalam bus dengan bernyanyi bersama dan sambil bersanda gurau mengolok Amir dan
Dian, sehingga menambah suasana makin asyik.
“ciee
ciee, Anum cemburu,” tambah salah satu teman kami.
“
hahahahahaha” ketawa teman-teman memukau
“
Lev, Levi request lagu Mau dibawa kemana
hubungan kita, “ sahut lagi dari belakang.
Sambil
mendengarkan lagu, bertubi-tubi bagaikan diserang habis-habisan Amir, Dian, dan
Anum menjadi bahan Candaan kami, di dalam bus sehingga suasana dikala itu yang
serasa lelah hilang begitu saja tanpa jejak dalam diri kami.
|
Part 4, 22 November 2013, Go To UGM
& KRATON YOGYAKARTA
|
Pagi
ini kami kembali menuju kampus UGM dengan agenda “pengenalan kampus UGM”.
Memang agenda ini sangat perlu, mengingat UGM merupakan kampus Nomor dua
terbaik di Indonesia setelah Institut Tekhnologi Bandung (ITB) dan karena
Alumni-Almuni UGM banyak yang menduduki posisi penting dipemerintahan. Maksud
dari pengenalan kampus UGM adalah agar kami tahu, apa yang membuat UGM menjadi
sebuah kampus yang di perhitungkan di Indonesia sehingga menghasilkan
lulusan-lulusan yang berpotensi dan mampu bersaing didunia kerja.
Pengenalan
pertama kami dimulai dengan mengunjungi perpustakaan pusat UGM. Disini kami
diarahkan bagaimana cara buka situs-situs web yang ada di UGM. Selanjutnya kami
di bagi menjadi empat kelompok dan setiap kelompok terdapat satu orang pemandu
yang nantinya akan mengarahkan dan menjelaskan bagian-bagian apa yang terdapat
di perpustakaan pusat UGM. Dengan Sangat Detil Kami Mendapatkan Semua data
mengenai perpustakaan pusat UGM.
Selesai
di perpustakaan pusat UGM, kami menuju ruang PSDI, dimana diruangan ini kami
mendapatkan penjelasan mengenai sistem akademik yang digunakn di kampus UGM,
mulai dari alamat web, dan jaringan Wifi yang tersebar luas diarea UGM. PSDI
ini kalau di Untan sama dengan Pusat Komputer (Puskom). Kami pun menyimak
dengan seksama penjelasan dari staff PSDI.
Ketika
matahari pagi mulai meninggi dan menampakkan keperkasaannya, kami keluar dari
gedung PSDI dengan muka lusuh karena belum makan,hahaha.Namun bagi kami teriknya sinar matahari tiada arti ketika
mendengar suara adzan yang berkumandang dari TOA masjid. Kami yang muslim
segera bergegas menuju masjid untuk malaksanakan Sholat Jumat. Selesai sholat,
kami pun makan bersama.
Dengan
kegagahannya matahari yang memancarkan sinar sehingga perih dimata dan kulit.
Kami bergegas menuju bus dan bersiap-siap lepas landas menuju KratonYogyakarta.
Ketika tiba di Kraton ada sedikit guratan kesedihan di wajah kami, karena ini
adalah hari jumat, maka Kraton Cepat tutup. Maka dari itu agenda kami yang
seharusnya mengunjungi Kraton, dialihkan untuk melihat sekeliling Kraton,
dengan menaiki sebuah kendaraan khas Indonesia yang hampir
punah
di gerus zaman kami menuju museum kereta Kraton yang berlokasi sekitar 100m
sebelah Barat Kraton Yogyakarta, kereta adalah kendaraan utama dimasa dahulu,
dan juga sekaligus sebagai pusaka kraton, oleh karena itu untuk melestarikan
dan menjaganya, di bangunlah museum ini.
“Ini Namanya Kereta
Kyai Garuda Yeksa, yang merupakan kereta yang dipergunakan untuk acara kirab
dalam rangkaian penobatan Sri Sultan Hamengkubuwono VI sampai X, kereta ini di
tarik oleh 4 Ekor Kudaaaa,......”Dengan logat dan gaya
bicara yang khas seorang pemandu memberikan penjelasan kepada kami mengenai
sejarah Kereta Kraton satu persatu. Hampir semua kereta kraton tersebut berumur
puluhan bahkan ratusan tahun, Nama-nama dari kereta yang dipamerkan di museum
tersebut antar lain, kereta Kyai Jongwiyat, Kereta Kyai Jolodoro, Kereta Roto
Biru, Kereta kyai Rejo Pawoko, kereta Landower, kereta Premili, kereta Kus
sepuluh, kereta kapuitin, kereta kyai Kutha Kaharjo, Kereta kus gading, kereta
kyai puspoko manik, kereta roto Praloyo, kereta kyai jetayu, kereta kyai
harsunaba, kereta kyai wimono putro, kereta kyai manik retno, kereta kanjeng
nyai jimad, kereta mondro juwolo, kereta garudo yeksa, kereta Landower Wisman,
kereta Landower surabaya, kereta kyai noto puro. Selain kereta yang dipamerkan,
ada juga replika pelana milik Sultan HB VIII, yaitu pelana Kyai Cekatha. Pelana
sultan yang asli dengan berhiaskan emas dan butiran berlian.
Tanpa
terasa selesai mutar-mutar didalam museum kamipun malanjutkan perjalanan
berkelana kami,untuk menuju sebuah tempat yang lebih indah lagi yang sudah
terkenal kepelosok penjuru kota-kota di Indonesia, karena disini kami akan
mendapatkan ilmu dan pelajaran yang sangat berharga, selain ini pengalaman
pertama, ini juga merupakan sebuah ukiran indah dalam hidup kamiyaitu pantai
Parangtritis, siang itu kami akan menuju pantai Parangtritis. Pantai yang asri,
dengan ke indahan alam dan kebudayaan tradisionak yang masih sangat melekat
disana.
Matahari
siang seakan ikut marah dengan kami, yang kami naiki seakan bukanbus lagi,
namun sebuah kereta yang sudah berumur 100 tahun yang oleng ke kiri dan oleng
ke kanan ketika dinaiki 60 orang,
keadaan ini membuat kami terpukul. Ac mobil yang seharusnya menyejukkan
badan, serasa malah menambah panasnya suasana ini, ketika kami tidak jadi
berangkat ke pantai Parangtritis. “Tidak jadi berangkat ke pantai Parangtritis
bukan sebuah masalah bagi kami”, namun yang menjadi masalah adalah
ketika orang yang seharusnya kami perhatikan yaitu Ketua Comdev Ibu Entin malah
ketinggalan bus, beliau ketingalan bus bukan karena asyik-asyiknya belanja
hingga lupa waktu berkumpul, melainkan karena beliau ke ATM, mengambil uang untuk agenda kami besok yang
direncanakan akan pergi ke Solo. ‘’Ini semua terjadi begitu saja, tanpa ada
niat untuk meninggalkan Ibu Maafkan anak-anakmu ini Bu’’.
Akhirnya
kami semua sepakat dengan di Komando oleh Ibu Dini, untuk pulang ke penginapan
dan ke pantai Parangtritisnya dibatalkan. Karena kami tidak ingin
bersenang-senang setelah melakukan sebuah kesalahan sehingga semua itu terjadi.
Kamipun istirahat lebih awal, dan ada juga sebagian kawan-kawan yang jalan
menikmati udara malam Kota Yogyakarta.
|
Part 5, 23 November 2013 Kereta Api
go Klaten
|
Masih
ingat lagu ini sejak kita masih kecil.
Naik
Kereta api:
“Naik kereta api ... tut ... tut ... tut, Siapa hendak turut Ke Bandung ... Surabaya
“Naik kereta api ... tut ... tut ... tut, Siapa hendak turut Ke Bandung ... Surabaya
Bolehlah naik
dengan percuma,. .
Ayo temanku
lekas naikKeretaku, . .
tak berhenti
lama
Cepat kretaku jalan ...tut...tut...tut
Cepat kretaku jalan ...tut...tut...tut
Banyak penumpang
turut
K'retaku sudah
penat Karena beban terlalu berat
Di sinilah ada
stasiun Penumpang semua turun”
Ya, di pagi itu
kami kembali bangun awal kawan, hanya untuk berburu karcis kereta Api, menuju
kota Klaten seperti biasa setelah kami bersiap-siap, kami langsung menuju
Stasiun. Sesuai kesepakatan pada saat Briefing ketua kelompok
dan panitia, agenda kami hari ini akan menuju stasiun kereta api Yogyakarta,
mengganti agenda ke Solo. Ini akan menjadi pengalaman pertama dari sebagian
kami, karena di Kalimantan Barat belum ada stasiun kereta api, jadi menurut
kami naik kereta api merupakan suatu cerita tersendiri bagi kami. Kesenangan
pun nampak di guratan-guratan wajah kawan-kawan semua, tentunya senang
merasakan naik kereta api, yang bebas macet, bebas tilang, bebas dari polusi.
Prriiiiiiiiiiittttt, suara kereta akan memulai perjalanan, Sepanjang
perjalananKami naik kereta api menuju Klaten kami memandangi asri nya pesona
alam yang kami lewati, terbentang sawah-sawah yang tertata rapi, serta gunung
merapi yang terlihat jelas dan masih menganga bagaikan akan meluapkan kembali
Larvanya seakan-akan mengulangi kembali erupsinya, ini semua merupakan sebuah
rangkaian sejarah perjalanan kami kawan, untuk mengetahui begitu indah dan luar
biasanya Tuhan menciptakan Alam semesta, walau pun dengan padatnya penduduk di
pulau jawa, tapi alam nya masih tertata rapi, dan indah untuk dipandang mata.
Setelah
menempuh perjalanan sekitar kurang lebih setengan jam, kami pun tiba di Klaten.
Sambil menunggu bus jemputan yang akan membawa kami menuju Candi Prambanan,
kesempatan ini digunakan untuk foto bersama dan membeli sarapan pagi.
Foto By : Habib Grafhy
Waktu
menunjukkan sekitar pukul 14.30, kami sampai di kebun binatang gembiraloka
Yogyakarta. Sebelum kami berpencar, kami makan bersama dulu, setelah itu acara
bebas mengelilingi kebun binatang dengan catatan jam 17.00 sudah ngumpul
kembali dalam bus, apabila terlambat, maka akan selamanya di kebun Binatang (hehehehehe).
“simpanlha
pisang nya tuch, ntar kita kasihkan saudaramu”,
Canda Arie kepada salah satu teman kami dengan menunjukkan pisang yang di
bagikan sebagai makan siang kami,.
“enak
aja, ya gak lah ndak kha kau udah janjian dengan saudaramu disini, temuin lha,
bawakan makanannya tuch” jawabnya dengan hati kesal, bak
muka merah padam.
“ciee, yang mau ketemu sama saudaranya, yuks lah aku antar” Tambah jang joko, yang ikut-ikutan nimbrung.
“ciee, yang mau ketemu sama saudaranya, yuks lah aku antar” Tambah jang joko, yang ikut-ikutan nimbrung.
Tanpa terasa canda
gurau teman-teman terus saling bersaut-sautan bagaikan burung yang di ikut
sertakan dalam perlombaan, (hahahaha, suasananya pas banget di kebun
binatang,ckckckck), hingga fajar menyinsing di ufuk barat dan enggan bertemu
kami lagi pada sore itu.
Selesai sudah rangkaian
acara harian kami di Kota Yogyakarta dengan ditutup berkunjung ke kebun
Binatang Gembiraloka. Malamnya kami makan bersama di penginapan, sebelum makan
bersama di mulai, setiap kelompok berdasarkan intstruksi Pak Togar menyampaikan
Kesan dan Pesan terhadap kegiatan ini. Selesai penyampaian Kesan dan Pesan dari
setiap ketua kelompok dan anggota kelompok, dilanjutkan dengan sambutan oleh Bu
Entin. Setelah itu baru dilanjutkan dengan makan bersama dan sekaligus perayaan
ulang tahun kawan kami.
Selesai
makan, kamipun bergegas menuju kamar masing-masing, dengan satu tujuan yaitu
packing barang. Ketua kelompok wajib menimbang barang bawaan atau koper setiap
anggotanya, karena takut over bagasi. Selesai
ditimbang koper harus segera diantar ke bagasi bus, agar besok pagi-pagi tidak
kewalahan mengangkut barang bawaan.
Malamnya
kami tidur dengan nyenyak membawa mimpi-mimpi selama kami berada di Kota
Yogyakarta ini, terlintas dibenak mereply
kembali apa yang sudah kami lakukan di Yogyakarta ini. Banyak hal yang kami
dapatkan disini, di Kota ini, mulai dari ilmu pengetahuan, sosial budaya,
pengalaman, semangat perjuangan dan lain sebagainya. Sulit untuk diungkapkan
dengan kata-kata, karena yang kami dapatkan disini tak akan bisa hanya
diwakilkan dengan kata demi kata. Waktu 6 hari kebersamaan kita terasa begitu
singkat, tiada terasa ini malam terakhir kita di Kota ini, malam yang ditemani
suara jangkrik yang semakin malam semakin sunyi. Kami semua terlelap dalam
alunan mimpi, mimpi akan semua kebersamaan kami disini.
Pagi
ini, merupakan udara pagi Yogyakarta terakhir yang kami hirup. Karena pada pagi
ini kami akan pulang menuju Kota Pontianak. Bus yang akan membawa kami menuju
bandara sudah dipanaskan, seakan bus ini berkata “ ye ye ye, kalian pulang, pulang ke Pontianak”, kata-kata itu
seolah-olah terngiang-ngiang di kepala kami.
Bagaikan Sebuah lagu
ciptaan salah satu musisi indonesia, Band Ungu :
Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu, masih
seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna...
Terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama suasana Yogya,.......
Di persimpangan langkahku terhenti, ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera orang duduk bersila,..
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu merintih sendiri ditelan deru kotamu.....
Walau kini kau tlah tiada, tak kembali namun kotamu hadirkan senyummu abadi izinkanlah aku untuk selalu pulang lagibila hati mulai sepi tanpa terobati
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu merintih sendiri ditelan deru kota,...
Walau kini kau tlah tiada, tak kembali namun kotamu hadirkan senyummu abadi izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi (untuk selalu pulang lagi),.
Terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama suasana Yogya,.......
Di persimpangan langkahku terhenti, ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera orang duduk bersila,..
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu merintih sendiri ditelan deru kotamu.....
Walau kini kau tlah tiada, tak kembali namun kotamu hadirkan senyummu abadi izinkanlah aku untuk selalu pulang lagibila hati mulai sepi tanpa terobati
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu merintih sendiri ditelan deru kota,...
Walau kini kau tlah tiada, tak kembali namun kotamu hadirkan senyummu abadi izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi (untuk selalu pulang lagi),.
bila hati mulai sepi tanpa terobati (bila hati mulai
sepi tanpa terobati)
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi (izinkanlah lagi),.....
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi (izinkanlah lagi),.....
bila hati mulai sepi tanpa terobati (selalu pulang
lagi, selalu pulang lagi),..
Cipt
: Band Ungu
Serasa kami tak ingin
meninggalkan kota ini.
Salam Jumpa, Kota
Yogyakarta.
Salam Sukses Sahabat BIDIKMISI.
Salam Sukses Sahabat BIDIKMISI.
No comments:
Post a Comment