Saturday, March 1, 2014

Jogja Punye Cerite



                       

YOGYAKARTA PUNYE CERITE
“Hargai waktumu “jika engkau memasuki waktu sore, maka janganlah menunggu pagi; dan jika engkau memasuki waktu pagi, jangan menunggu waktu sore; ambillah kesempatan dari masa sehatmu untuk masa sakitmu dan dari masa hidupmu untuk matimu.”

Community Development & Outreaching
“Mimpi”,  hanya itu yang terlintas dalam benak kami, bagaikan mimpi yang tak pernah terkira dalam diri kami ketika kami masuk perguruan tinggi melalui Comdev & outreaching, bagaikan tidur dimalam hari dan bermimpi sepuas-puasnya, ketika bangun semua mimpi itu menjadi sebuah kenyataan bisa masuk dalam sebuah perguruan tinggi negeri ternama di kota Kalimantan Barat, mungkin semua tak akan pernah tercapai dalam diri kami jika melihat dari sebuah latar belakang keluarga yang kurang mampu dalam mebiayai kami ke perguruan tinggi untuk melanjutkan studi. Tapi, Tuhan Maha tau dan Maha mengerti akan kehidupan kami kawan, Tuhan mengerti setiap isi hati kami untuk masa depan kami, dengan menurunkan seorang malaikat bagi kami yang menyelematkan masa depan kami dari keterpurukan akan minimnya titel pendidikan dalam diri kami, untuk merebut dunia kerja ini, entah apa yang akan terjadi dalam diri kami akan masa depan kami ketika kami hanya lulusan SMA dan berasal dari daerah. Bu Entin sebut saja namanya begitu kawan, Beliau ketua Comdev dan Outeaching di Universitas Tanjungpura. Ketika melihat sosok beliau dalam benakku berpikir “Tuhan masih punya rencana untuk menyelamatkan negeri ini” ya, ketika melihat akan keegoisan manusia yang hanya peduli akan diri nya sendiri, ternyata masih terselip orang yang masih peduli akan kehidupan orang lain, dan memberikan kesempatan untuk meraih mimpi-mimpi kami.
Wawasan beliau yang begitu luas dan semangat beliau yang luar biasa dalam memajukan daerah ini terlihat ketika memberikan sambutan pada kami sejak pertama kami datang ke Universitas ternama di kota tersebut.
“Selamat datang untuk mahasiswa baru di Universitas Tanjungpura” Ucap Beliau membuka sambutannya 2010 silam.
“Selamat kalian adalah mahasiswa yang terpilih dari ribuan mahasiswa  yang mendaftar, dan kalian mempunyai potensi dalam diri kalian, kesempatan untuk melanjutkan keperguruan tinggi, kesempatan kalian ini gunakan lah sebaik-baik mungkin untuk meraih masa depan kalian, ikuti peraturan kampus, kuliah cepat selesai, target kalian hanya 4 tahun atau 8 semester, So Any Way cepat selesaikan Study kalian”  sambung beliau.
Terlihat keceriaan serta kegembiraan pada wajah kami ketika beliau memberi motivasi dan arahan kepada kami, dimana harapan yang akan pupus untuk merasakan pendidikan diperguruan tinggi ternyata bisa kembali memupuk semangat kami dengan kesempatan yang ada.
Beliaulah yang memperjuangkan nasib kami, melalui Comdev & outreaching sesuai kebijakan menteri pendidikan sehingga menyelamatkan kami dari pandangan orang lain bahwa orang miskin tidak bisa kuliah, apalagi menjadi seorang Profesor, tapi apa yg dipikirkan orang salah akan pernyataan itu, ternyata kami bisa dan berprestasi, kami bisa melebihi dari kawan-kawan yang lain, ketika kami diberikan sebuah kesempatan untuk merajut mimpi kami, kami sanggup untuk mewujudkan semua impian-impian kami.
Sebagian dari kami terlahir dalam sebuah keluarga yang memiliki kehidupan serba terbatas kawan, tidak memungkinkan untuk bisa masuk ke perguruan tinggi tersebut, apalagi untuk meraih mimpi-mimpi kami, semua hanya omongan belaka, hanya omong kosong dan hanya cita-cita yang bagaikan hamparan padang gurun yang luas, tak ada tujuan perjalanan kehidupan dalam diri kami. “ Raihlah cita-citamu setinggi langit”, hah, kata-kata itu hanyalah omong kosong belaka bagi kami, cita-cita apa yang akan kami raih sedangkan untuk kehidupan sehari-hari saja sebagian dari kami mempunyai keterbatasan untuk hidup berkecukupan, apa lagi untuk ke perguruan tinggi, semua hanya mimpi-mimpi kami di bangku SMA, itulah ajaibnya Tuhan yang telah mengetuk hati pemimpin bangsa untuk memperhatikan nasib kami kawan, melalui Comdev & outreaching kami bisa mewujudkan mimpi-mimpi itu.
Saat itu perguruan tinggi yang terbayangkan oleh kami. Ternyata tidak sesuai dengan harapan kami kawan, di perguruan tinggi semua perkuliahan serba mandiri, tidak seperti waktu SMA yang semua serba di suap oleh guru dengan materi-materi dari sekolah, namun di perguruan tinggi kemandirian kami di uji.
Sejak awal masuk sampai sekarang banyak kegiatan-kegiatan Comdev yang dilaksanakan, baik secara indoor maupun secara outdoor salah satu kegiatan yang asyik dan seru diadakan yaitu Kunjungan persahabatan ke Yogyakarta, ketika pengumuman seleksi di pasang berbondong-bondong teman-teman yang mengambil formulir untuk ikut ke Yogyakarta, bagaikan mengantri BBM pada antri satu persatu di depan pintu.
Tahap awal banyak juga yang diterima tapi masih banyak dari kami yang belum memenuhi syarat administrasi seperti Sertifikat Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK), dan wajib melampirkan 5 sertifikat berbagai kegiatan Comdev. Tahap kedua kami di wawancarai sama Bu Dini dan Bu Erlin.
“apa sih yang membuat kamu termotivasi  untuk pergi ke Yogyakarta” kata Bu Dini mengawali wawancara, dengan ke piawaiannya dalam mewawancarai kami yang bagaikan calon karyawan yang baru mau masuk kantor.
“jujur saja ya bu, saya sebanar nya baru pertama kali ke Yogyakarta jika kali ini lulus pergi ke Yogyakarta, jadi selain untuk mengetahui kota Yogyakarta saya juga pengen tau tentang kota Yogyakarta itu sendiri kayak apa, yang dibilang orang kota pelajar, dan budaya, dan harapan saya nanti setelah sepulang dari Yogyakarta saya bisa mengaplikasikan apa yang saya dapat untuk membangun Kalimantan Barat,” jawab ku waktu di wawancarai, bagaikan seorang yang udah pintar menjawab panjang lebar dengan harapan bisa meluluhkan hati sang pewawancara agar bisa ikut ke Yogyakarta.
“terus setelah dari Yogyakarta ni yah, apa sih nantinya yang akan kamu lakukan, contoh simple nya aja”, Lanjut bu Erlin.
“yach, pengen nya sich Bu aku setelah pulang dari Yogyakarta aku bisa memberikan contoh yang baik kepada adek-adek tingkat karna di Yogyakarta kita akan mengunjungi Universitas ternama di sana, harapan saya ketika bisa mendapatkan pelajaran dari sana saya bisa memotivasi kepada adek-adek tingkat untuk semangat belajar, dan juga kepada masyarakat, misal bagaimana masyarakat disana bisa mengembangkan usaha, dan bagai mana dengan usaha disini,” sambut ku, masih dengan harapan agar bisa lulus pergi ke Yogyakarta. Pertanyaan masih terus dihujamkan kepadaku, sampai sedemikian detailnya, agar mereka benar-benar yakin dan tidak salah memilih orang.
Ketika pengumuman hasil wawancara selesai kami terseleksi 53 orang pergi ke Yogyakarta, bagaikan lagu Ahmad Dani “ Senangnya dalam hati jika pergi ke Yogyakarta”, eh salah “beristri dua”hahaha, saking senang nya kawan, semua bagaikan sebuah ilusi belaka, dapat mengunjungi kota pelajar, kota budaya, kota yang penuh Sejarah.
Sebelum kepergian kami ada pelepasan oleh Rektor.
“di Yogyakarta itu sudah terkenal dengan kota pelajarnya, disana dari seluruh penjuru Indonesia ada disana, nanti ketika kalian disana kalian akan menemui berbagai plat nomor Kendaraan bermotor dari berbagai kota” kata beliau dalam sambutannya, bagaikan pemandu wisata menjelaskan satu-persatu plat kendaraan bermotor, terlihat begitu luasnya pengalaman beliau tentang Yogyakarta“kalau sudah di Yogyakarta nanti kalian ke malioboro disana kalian belanja banyak yang murah-murah, ada juga tempat potong rambut harga mahasiswa hanya dengan menunjukkan kartu mahasisswa, dan masih banyak lagi, harapan saya kalian disana tidak sampai lupa diri kalau belanja” lanjut beliau memperingatkan kami agar tidak boros, dan sadar bahwa kami di biayai dalam studi.
Mengakhiri sambutannya rektor mengetukkan palu 3 kali tertanda bahwa sidang di buka dan terbuka untuk umum,  eh salah, maksud nya Pelepasan kunjungan persahabatan dinyatakan resmi, serempak disambut dengan tepuk tangan yang meriah oleh peserta Kunjungan persahabatan dan berfoto bersama.
“Kawan-Kawan kita akan membagikan uang saku kalian,  setelah ini kalian menuju Comdev untuk tanda tangan dan mengambil uang makan untuk selama yogyakarta” kata bendahara Comdev.
Sore itu, dikala matahari mulai redup dan meninggalkan bumi, kami masih berbaris rapi bagaikan pada zaman jepang ketika menerima upah dari tentara jepang, sehabus mengikuti Cultul Stelsel, hanya untuk mengambil uang makan kami di yogyakarta.














Part 1, 19 November 2013, Go To Yogyakarta

Ketika embun pagi hari masih menyelimuti bumi, di tengah sinar rembulan yang cerah serta sinarnya menerangi bumi ini. Di pagi itu kami terbangun dan telah sibuk menyiapkan diri menuju Bandara Supadio Pontianak, dimana pukul 5.30 kami harus Check In untuk menuju Yogyakarta.
Yogyakarta “ya, siapa yangg tidak kenal dengan Yogyakarta, Kota yang dikenal dengan Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota yang kaya akan sejarah Perjuangan, Sejarah Religious dan lain sebagainya”.  Ke kota inilah kami akan mengukir cerita bersama kawan-kawan Bidikmisi 2010. Dipagi itu ketika sampai di bandara Supadio Pontianak, terlihat senyum ceria dan semangat kawan-kawan, melalui wajah-wajah mereka yang mengeksperesikan diri masing-masing.
“foto-in gue dong  kata martini, salah satu anggota kelompok 3,
 lalu dengan senyum sumringah dia berpose depan kamera bagaikan layaknya seorang model yang sudah terkenal go internasional (semoga terjadi-amiiin).
“Gantianlah, aku juga mau dong di foto” sambut mas Khosir
Sambil menyodorkan sebuah Tab, lalu bergaya dengan mengambil bacground bandara Supadio Pontianak, yang menurutnya masih Unik dan Tradisional dengan ukiran dayaknya (hihihi).
“yuk kita foto bareng-bareng sebelum berangkat” kata ketua kelompok 3 dengan bijak bagaikan seorang pemandu wisata yang profesional dalam hal menangani para wisatawan yang kocar-kacir.
“ketua kelompok, ayo kumpul dulu” sapa salah seorang perempuan dari kejauhan yang tidak asing lagi suaranya bagi kami. Beliau adalah Bu Entin, yang memangku sebagai ketua Comdev & Outreaching Universitas Tanjungpura
“untuk ketua kelompok harus bisa menjalin kerjasama, menjaga dan selalu memeriksa anggotanya, Bording Pass sengaja tidak kami bayarkan langsung, ini biar kalian tahu bagaimana cara bayarnya”Saran beliau kepada kami.
Beliau berpesan agar ketua kelompok bisa menjaga dan selalu memeriksa anggota kelompoknya, barang-barang anggota kelompoknya, baik pada saat mau berangkat ataupun pada saat turun dari pesawat. Selanjutnya Bu Entin dengan perhatiannya membagikan bungkusan kue kepada ketua kelompok yang siap untuk dibagikan kepada anggota kelompoknya. Sambil mengabsen anggota kelompoknya, ketua kelompok membagikan breakfast (ciaaah breakfast) kepada anggota kelompoknya.
“Ayo foto-fotonya udah” sahut Bu Entin “kita Check In dan Bording Pass dulu, biar tidak ketinggalan pesawat”, lanjut Beliau.
                                           Foto By : Habib Grafhy kelompok 3

Kami pun berjalan menuju pintu masuk yang dijaga pengaman bandara bagaikan seorang superhero, yang memeriksa keamanan para penumpang yang akan check in. Kami pun bagaikan seorang teroris yang di waspadai bagi mereka yang seolah-olah kami ini sangat berbahaya. Itu semua tergambar dengan cara mereka memeriksa badan dari ujung rambut sampai ujung kaki, menggunakan alat pendeteksi, dan barang kami di masukkan ke dalam alat khusus pendeteksi.
Setelah melakukan bording pass kami langsung menuju pintu ruang tunggu. Ruang tunggu di mana kami akan menunggu pesawat yang akan membawa kami ke Yogyakarta yang didahului transit ke Jakarta. Ketika masuk ke ruang tunggu selanjutnya menuju airport taks, banyak cerita yang terukir di benak kami, mungkin sebagian kawan-kawan merasa “mau naik pesawat aja ribetnya minta ampun” (hehehe). Tapi disinilah letak pengalaman pertama yang lucu, karena sebagian kawan-kawan ada yang mau langsung masuk tanpa bayar bording pass dulu, bahkan ada yang mau bayar lagi, padahal sudah di kolektif kan kepada ketua kelompok.
Wahai para sahabaku
Oleh : Habib
 Mungkin kita hidup tidak bersama, selalu ada rasa yang berbeda
Caramu hidup, caraku hidup..
Tapi ingat sahabat kita menyatu dalam sebuah ikatan persahabatan
Sahabat walau berbeda saling menyapa..
Sahabat walau berbeda kita satu jiwa
Sahabat seperti Pelangi, walau berbeda, namun menghasilkan kombinasi warna yang enak dipandang mata
Sahabat walau berbeda kita melengkapi jiwa yang sepi
Sahabatku jangan lupakan kenangan tentang kita
Tentang kita yang menantang kejamnya hidup secara bersama-sama
Itulah sebuah persahabatan...
07.10 kami siap meninggalkan Bandara Supadio Pontianak, dengan menggunakan Pesawat Lion Air dan kami disambut oleh  Pramugari bak seorang putri yang menyambut para pangeran menaiki tangga kain merah kekaisaran (lagi mimpi jangan di ganggu). Dengan kepiawaiannya Pramugari memperagakan keselamatan mengudara untuk kenyamanan kami apabila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan (cieee-cieee, bahasanya tu, huuuhhh), Setelah Take off dan mengudara di atas awan bagaikan seekor burung rajawali yang menaungi indah nya alam semesta, dan mengepakkan sayapnya seolah-olah menaungi samudra yang luas, seketika itu terlihat wajah-wajah ceria dari kawan-kawan untuk melihat indahnya pemandangan di atas udara, ketika kami mengudara (bukan lagi siaran Radio ya), saat masuk dalam pesawat banyak sejarah yang terukir, karena ini pengalaman pertama masuk dalam pesawat bagi sebagian kawan-kawan. Dalam pesawat pun satu hal yang menjadi kewajiban tetap dilaksanakan dan tidak boleh tertinggal yaitu foto-foto. Contohnya saja ini :
                                               Foto By : Habib Grafhy







Jakarta Terlihat Dari Udara
             Foto By : Habib Grafhy
               Foto By : Habib Grafhy

Mendarat di bandara Soekarno Hatta jakarta sekitar pukul 08.28, suara lembut bagaikan penyiaran radio itu kembali menyapa kami, Seorang Pramugari mengalun suara lembut di telinga kami, membuat hati ini tentram dan damai “selamat datang di Jakarta”sapanya. Keluar dari pesawat semuanya pada heboh ingin foto-foto dengan backround pesawat Lion Air yang telah membawa kami dari Bandara Supadio Pontianak menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Banyak yang foto dengan backround pesawat, ada juga sebagian foto dengan backround bandara Soekarno Hatta. (Maklum dikampung gak ada benda kayak gini, hehehehe, just kidding), Hihihihi si narsis lagi foto-foto
                      Foto By : Habib Grafhy

                                         Foto By : Agust Grafhy

Dengan di jemput oleh Bus Khusus kami langsung menuju bagian lapor transit, yang diharuskan antri satu persatu. Disini kami dapat sebuah pelajaran. Ketika ada seorang nenek yang berjalan pakai tongkat ikut antri di belakang kami, “Silahkan nek duluan aja,”dengan cekatan Eko mempersilahkan nenek tersebut untuk maju kedepan dan duluan lapor tiket, padahal dia memang datang jauh dibelakang kami. Nenek tersebut pun tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih banyak kepada kami. Dengan senyum manis bahagianya nenek itu meninggalkan kami. Ini baru mahasiswa Bidikmisi, antrinya rapi.. hihihi -_-
                            Foto By : Habib Grafhy
 Setelah itu kami langsung menuju ruang tunggu lagi, karena pesawat yang akan mengantar kami menuju kota Yogyakarta akan berangkat pukul 10.10.  perjalanan menuju ruang tunggu pun harus melewati berbagai pemeriksaan, agar semuanya aman dari berbagai macam tindak kejahatan. (mereka gak tau apa anak bidik misi kan imuet2 dan manis, gk mungkin jahat, hehehe).
Berada diruang tunggu Bandara Soekarno Hatta, walau lelah melanda semuanya namun satu hal yang tidak pernah dilupakan, yaitu eksis dengan sebuah bukti, terekamnya gambar-gambar maniak foto disebuah kamera, ini bukti rill-nya                      
Foto By : Habib Grafhy
Dan juga ada yang ????????   -_- _--------______
Nyenyak sekali mba tidurnya, kelelahan ya?  Ntar ketinggalan pesawat piye mba? 
Seng sabar yo mba, jangan marah yo.. -_-      dengan muka lugunya mereka tidur atau bahasa alay-nya “Bobog”            hihihihihi -_-(yang penting jgn ada pulau tertinggal, hahaha)          
Foto By : Habib Grafhy

Sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis dari kejauhan“Ketua kelompok harap cek anggota kelompoknya, jangan sampai ada yang ketinggalan,”ucap kak Miranti (kak mimi cantik, hihi). Ketika berada di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta
Di ruang tunggu, kembali para ketua kelompok bagaikan bagian keamanan bandara memeriksa satu persatu anggota kelompoknya, ini untuk memastikan bahwa tidak ada anggota kelompoknya serta barang bawaan yang tertinggal.
Setelah melakukan memeriksa anggota kelompoknya, dan dipastikan tidak ada yang tertingal, bagaikan komandan perang yang akan melakukan misi perdamaian ketua kelompok tanpa lelah langsung membagikan snack kepada anggota kelompoknya, agar misi dapat menuju sasaran target dengan tepat tanpa ada yang mati kelaparan.
Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, akhirnya kami bersiap menuju Kota Yogyakarta, Kota yang menjadi tujuan utama kami untuk melakukan Kunjungan persahabatan With Comdev & Outreaching. Kami pun mengudara lagi menggunakan Lion Air, penerbangan menuju Kota Yogyakarta cukup menegangkan, dikarenakan cuaca yang sangat buruk, sehingga pesawat mutar-mutar menghindari badai di depan untuk menyelamatkan wajah-wajah imut kami, dengan kelincahan dan pengalaman terbangnya pilot mengendalikan pesawatnya agar terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan. Menyebabkan seringnya terjadi goncangan dalam pesawat, sehingga kawan-kawan yang perempuan sudah ada yang hampir menangis, (hihihihihii, dasar penakut -_-). Setelah melewati ketegangan itu kami kembali dibuat takut dengan lamanya pesawat mutar-mutar diudara, agar ketepatan mendarat bisa diukur (ciaaah, udah mirip pengamat penerbangan nieee).
Setelah melewati rasa tegang, rasa takut, akhirnya kami mendarat di bandara Adisutjipto Airport Yogyakarta dengan selamat (Alhamdulilah).
Hal yang wajib!!!! -_-
                                        Foto By : Habib Grafhy
Foto By : Agust Grafhy
Dengan senyum bahagia, kawan-kawan semuanya berlari ke sana-sini sibuk berfoto dengan bacground benda yang baru pernah di temui yang selama ini hanya dalam impian, hahahaha, dengan latar tulisan Adisutjipto Airport, dan tulisan Welcome To Yogya, bahkan latar Pesawat. Rasa tegang dan takut ketika dalam pesawat pun hilang begitu saja, dengan mengekpresikan diri di depan kamera dan disambut oleh eksotisnya alam Yogyakarta yang membuat mata ini tak pernah berkedip memandang keindahan dan kekayaan alamnya dan juga udara Yogyakarta yang sedikit panas, tapi tetap segar membuat kawan-kawan semua begitu bahagianya.
Terima kasihku untuk Tuhan
Oleh : Habib
Mata ini terpukau
Mata ini terlena
Mata ini terpikat
Oleh keindahan alam-Mu Tuhan
Disini, di Kota Yogyakarta Ini..
Kami semua berdiri, mahasiswa Bidikmisi..
Dari Universitas Tanjungpura yang sudah lama berdiri
Dan banyak mengukir prestasi...
Keindahan alam-Mu ini..
Menyejukkan mata, menyejukkan jiwa...
Tiada kata yang pantas untuk mencaci keindahan alam-Mu ini
Tuhan..
maafkan tingkah manusia yang tidak bisa menghargai keindahan alam-Mu ini
Tapi...
Yakinlah, kami berdiri disini, Para mahasiswa Bidikmisi..
Akan menghargai dan menjaga keindahan alam-Mu ini Tuhan
Terima  kasihku untuk-Mu Tuhan.
Foto By : Habib Grafhy


Ketua kelompok kembali melaksanakan tugasnya, yaitu mengecek semua anggota kelompoknya, apakah sudah lengkap semua atau belum. Pengecekan selesai dan semuanya lengkap, kami pun berjalan menuju bus yang telah siap sedia menunggu kami keluar dari bandara, dengan menggunakan bus tersebut kami akan menuju wisma tempat kami berteduh selama 6 hari Dikota ini.
            Foto By : Habib Grafhy

Tiba di Yogyakarta sekitar pukul 14.15, mata kami terpukau, terpana dengan keadaan disekitar jalan menuju wisma kami. Disepanjang jalan kami melihat aktivitas masyarakat Yogyakarta yang masih Tradisional atau mempertahankan budaya yang mereka cintai, inilah sedikit nuansa yang membuat Kota  Yogyakarta berbeda dengan wilayah lainnya begitu nyata ke istimewaannya. Ketertiban masyarakat di sepanjang jalan terlihat dengan tertibnya lalu lintas, tak ada satu pun masyarakat pengguna jalan yang melanggar marka jalan sampai lampu hijau hidup, disinilah ketertiban masyarakat terlihat berbeda dengan kota kami kawan, yang mana masih banyak kurangnya kesadaran masyarakat dalam tertib lalu lintas, tatanan kota yang terlihat rapi dan indah membuatku seakan-akan memejamkan mata ini, ketika melihat begitu banyaknya spanduk, baliho yang merusak pemandangan indahnya kota Yogyakarta. Hujan deraspun menyambut kami ketika kami sampai di wisma Yogyakarta. Kelelahan kawan-kawan terbayar lunas ketika selesai mandi, sarapan, ada sebagian kawan-kawan yang sudah langsung pergi keluar. (sudah tidak sabar melihat suasana Yogyakarta). Walau hujan yang seperti enggan membiarkan bumi ini gersang terus dan terus datang tetes demi tetes membasahi bumi. (eiiittts kok jadi puitis gini).  Takkan menyurutkan teman-teman untuk menikmati kota yogya disore hari.






Part 2, 19 November 2013, Go To Candi Borobudur dan Benteng Vredeburgh



Ketika bumi ini masih diselimuti oleh embun pagi yang menyejukkan jiwa, menembus kulit sehingga terasa dingin dibadan. Kami semua sudah berdiri kokoh, berjalan menuju mushola di Wisma Arimbi, untuk melaksanakan Ibadah Sholat Subuh Berjamaah. Selesai sholat subuh berjamaah, kami olahraga bersama di depan wisma dikawani udara pagi yang sangat nyaman untuk dihirup. Terasa hingga menembus jiwa. Olahraga pertama dibuka dengan lari-lari kecil mengitari depan wisma secara bersama-sama, bagaikan atlit yang melakukan pemanasan sebelum bertanding, selanjutnya senam bersama dengan instruktur oleh abang Yakobus (Yakobus Yeyeh). Ketika merasakan kegembiraan pada pagi hari pertama di Yogyakarta ini, tiba-tiba dari pojok kiri senam ada teriakan sambil mengacungkan tangan ke arah kami, lalu berteriak “Penontooooooooon”, itulah suara si muka imut Syabirin atau kanjeng Prabu dengan dalangnya Ari Ramadhan. (hhiihihihii -_-) dengan lantang. Sontak semua menirukan gaya joget Caesar yang lucu, dengan goyangan khas nya kamipun mengikuti. Pagi itu kami akhiri semua-nya dengan senyum bahagia dan tertawa ria, begitulah pagi pertama kami di Kota Yogyakarta.
Ketika Matahari pagi mulai memberikan senyum seakan-akan menyapa kami, sekitar pukul 06.00 kami sarapan pagi bersama, dan menjadi kewajiban sebagai ketua kelompok, mengabsen anggota kelompoknya satu persatu, dan harus bangun awal untuk sarapan. Pagi itu, pak Togar memberikan semangat dan menceritakan berbagai hal tentang Universitas kami dan dengan segudang masalah tentang mahasiswa yang bandel dan sok jagoan dikampus, dan sering membuat onar dikampus.
Pukul 07.00 kami menuju Bus yang akan mengantar kami ke Magelang,(senangnya dalam hati hihihihi).
 Kota Magelang ini terdapat satu situs budaya, religious, yaitu Candi Borobudur. Didalam Bus, tidak banyak yang kami lakukan selain nyanyi bersama dengan posisi tangan di atas. Walau diluar gerimis, kami seperti tidak peduli dengan rintik-rintik hujan ini, kami terus bernyanyi bersama.
Tiba di Candi Borobudur, Candi yang pernah masuk dalam 7 Keajaiban Dunia ini, saya dan kawan-kawan semua mengucapkan syukur kepada Tuhan. Namun keadaan cuaca yang kurang mendukung dimana gerimis masih membasahi bumi, kami disambut sama warga yang menawarkan jasanya menyewakan payung dengan harga Rp. 5.000 per payung.



Seperti yang di pakai mba iki lho




Atau Mas yang ini  hhihihihihi -_- 5.000 aajaaaa mas!



   Foto By : Habib Grafhy

















                                                                          Foto By : Mujiono




Selanjutnya, sambil menunggu Bu entin dan Tim lagi negosiasi tiket masuk ke Candi Borobudur, yang menjadi sasaran Foto adalah :

























     Foto By : Habib Grafhy

Setelah proses negosiasi tiket masuk selesai, kami pun menuju pintu masuk dan melewati pos pemeriksaan barang bawaan. Setelah itu kami dikumpulkan dan diberi arahan :
“kita datang kesini dengan tujuan ingin mendapatkan ilmu, bukan hanya sekedar untuk foto-foto, jadi kita pertama akan menuju ruang audio visual, setelah itu kita akan di pandu oleh seorang pemandu wisata Candi untuk melihat Candi”. Demikianlah yang saya tangkap dari arahan yang disampaikan langsung oleh Ibu Entin. Kamipun “manut”  saja dan menjadi kewajiban kami untuk mengikuti prosedur yang ada agar semuanya berjalan sesuai rencana.  Sekitar 1 jam kami berada diruang audio visual, kami disuguhkan sebuah film dokumenter yang menakjubkan tentang sejarah Candi Borobudur Berikut kutipannya cekidot langsung aja silahkan saksikan baca:.
“Asal Usul Sejarah Borobudur – Candi borobudur merupakan salah satu obyek wisata yang terkenal di Indonesia yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800-an Masehi oleh para penganut agama Buddha Wahayana. Dalam sejarah candi borobudur, terdapat berbagai teori yang menjelaskan asal usul nama candi borobudur. Salah satunya menyatakan bahwa nama borobudur kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara yang artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras.     
Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.  
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M.         
Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çr? Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kam?l?n yang disebut Bh?misambh?ra. Istilah Kam?l?n sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bh?mi Sambh?ra Bhudh?ra dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.         
Letak candi ini diatas perbukitan yang terletak di Desa Borobudur, Mungkid, Magelang atau 42 km sebelah laut kota Yogyakarta. Dikelilingi Bukit Manoreh yang membujur dari arah timur ke barat. Sementara di sebelah timur terdapat Gunung Merapi dan Merbau, serta disebelah barat ada Gunumg Sindoro dan Gunung Sumbing.        
Dibutuhkan tak kurang dari 2 juta balok batu andesit atau setara dengan 50.000m persegi untuk membangun Candi Borobudur ini. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton. Seperti umumnya bangunan candi, Bororbudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu kaki, badan dan atas. Bangunan kaki disebut Kamadhatu, yang menceritakan tentang kesadaran yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan. Kemudian Ruphadatu, yang bermakna sebuah tingkatan kesadaran manusia yang masih terikat hawa nafsu, materi dan bentuk. Sedangkan Aruphadatu yang tak lagi terikat hawa nafsu, materi dan bentuk digambarkan dalam bentuk stupa induk yang kosong. Hal ini hanya dapat dicapai dengan keinginan dan kekosongan.”

Setelah selesai kami pun diajak keluar untuk melihat ke sekitar candi dan didalam candi itu sendiri, namun tetap harus didahului oleh suatu kewajiban, yang apabila tidak dilakukan akan dianggap sakral dan tidak syah dan dinyatakan belum pernah ke candi Borobudur, jawabannya adalah :
   Foto By : Habib Grafhy
Selesai bergaya didepan kamera kami melanjutkan berkelana dan serius mendengarkan apa yang disampaikan oleh pemandu wisata, namun tetap ada yang “mane duli”  dengan pemandu wisata yang dengan semangat dan piawai menyampaikan apa yang dia tahu tentang Candi Borobudur. Padahal oleh pemandu wisata kami sering diberi waktu untuk foto-foto, mungkin kawan-kawan tidak puas, tapi yang penting tetap ada yang serius mendengarkan pemandu wisata, ini dia ne orang-orang intelektual yang serius mendengarkannya :

Foto By : Habib Grafhy

(sorry hanya sebagian foto yang kena, karna gak muat di kamera, hehehe)
Banyak hal yang kami dapatkan di Candi Borobudur ini, karena rata-rata diantara kami baru pertama kali pergi ke Candi Borobudur. Kami langsung mendapatakan banyak ilmu, mengerti bagaimana orang zaman dahulu membuat Candi, membuat Candi dengan tanpa menggunakan alat berat ataupun alat perekat, tapi batu-batunya bisa berdiri kokoh, ini yang selalu membuat orang dan kami terkagum-kagum, disitu kami mendapatkan berbagai ilmu baik ilmu budaya, sejarah, arsitek.

Foto By : Habib Grafhy
Foto By : Habib Grafhy





Setelah merasa lelah menaiki tangga, akhirnya kami bersama rombongan serta pemandu wisata, sampai di atas Candi Borobudur. Momen-momen ini pun kami gunakan untuk foto-foto :
 Foto By : Habib Grafhy
Foto By : Habib Grafhy
Di bawah langit yang sudah mulai cerah akan munculnya mentari untuk menyinari bumi, kami pun bergegas turun, untuk melanjutkan ke Situs-situs bersejarah lainnya. Dalam perjalanan Kamipun tidak menyia-nyiakan waktu untuk melihat-lihat ketika menuruni tangga Candi, yang menurut kami disetiap sudut Candi  selalu memiliki keunikan sendiri. Bahkan ketika melihat Bule, ada yang langsung mengajak bule tersebut foto bersama, mungkin ini suatu hal yang jarang dijumpai di tempat wisata ditempat kami. Dengan wajah heran Mr. Bule tetap senyum ketika di ajak foto bersama, heran karena banyak yang mengajak dan ingin berfoto bersamanya, Mr. Bule pun bagaikan seorang artis ternama yang pergi ke suatu tempat, lalu di kerumuni oleh para fansnya, begitulah yang terjadi pada Bule ini.

Foto By : Habib Grafhy

Setelah foto bersama, tidak lupa kami ucapkan “Thanks You Mr” ucap kami secara bergantian sambil bersalaman dengan Mr. Bule, kita harus tetap menunjukkan budaya Indonesia yang Sopan dan Ramah ketika menyapa orang. Ketika di ajak bersalaman Mr. Bule ini agak canggung, mungkin kebudayaan mereka disana, bersalaman adalah hal yang jarang karena hanya digunakan pada saat-saat formal saja. Namun lain halnya dengan di Indonesia, orang mengucapkan “terima kasih” saja harus bersalaman. Walau badan Mr. Bule ini tinggi menjulang, kami tidak sedikitpun malu dengannya untuk berfoto bersama, kami tidak tahu apakah dia suka di ajak foto bersama atau malah risih. Tapi  secara kasat mata, berdasarkan penerawangan yang dilakukan (ckckckck) Mr. Bule ini suka di ajak foto bersama. Terlihat senyum bahagia ketika diajak foto bersama, (Apalagi ngaajak wajahnya imut-imut dan cakep, hehehe). Nikmatilah pemandangan Indonesia ini Mr, bila perlu bawa sering-sering keluarga Mr ke Indonesia, guna menambah devisa Negara (hehehehe -_-).

Setelah semuanya berkumpul di kaki Candi Borobudur, kami diarahkan untuk menuju bus. Dalam perjalanan menuju bus banyak ditemui pedagang asongan menawarkan barang jualan mereka, “Mas 35 ribu aja mas, buat oleh oleh mas” sapa seorang penjual menawarkan produknya kepada kami, dengan sedikit memaksa agar kami membeli dagangan mereka, ada juga teman kami yang menjadi korban keganasan, (wah, keganasan, macem perang jeee) penjual di Candi Borobudur ini, teman kami ini diikuti penjual tersebut dari naik ke puncak Candi Borobudur, sampai Ia turun lagi, si penjual ini terus dan terus mengejar nya, yang penjual tawarkan adalah baju dengan corak Candi Borobudur, harga pertama dia tawarkan Rp. 35.000, namun dia ini tetap tidak menunjukkan ingin untuk membeli baju tersebut, lalu dia menawarkan harga, “bagaimana kalau Rp. 10.000 aja bu?, kata nya, lalu si penjual ini menawarkan harga Rp. 15.000, tapi kawan saya ini tetap tidak mau, tapi lucunya si penjual ini tetap mengikuti kawan saya dari naik ke Borobudur, sampai turun lagi, dengan tetap celoteh-celoteh khas para penjual, yang selalu menawarkan barangnya, akhirnya ketika dekat dengan pintu keluar kawan saya bilang :
“ya sudah kalau ibu mau Rp. 10.000 gimana?”ujar teman kami kembali, dengan tetap mempertahankan harga tawarannya (karena memang tidak ada niat mau beli baju).
Lalu ibu penjual tadi pun dengan sedikit terpaksa Ia menganggukkan kepala, tanda transaksi beli baju dengan corak Candi Borobudur pas dengan harga Rp. 10.000. ketika dalam bus, teman kami bilang, “saya tidak ada niat sama sekali mau beli baju, namun karena ibu penjual tadi selalu mengikuti terus, dan dengan alasan faktor kasian akhirnya saya beli baju yang di jual dia, tapi dengan harga yang sangat miring.

Ketika Mentari di siang itu baru muncul memberikan panasnya kepada bumi ini, dan bus kamipun meluncur menuju benteng Vredeburgh dengan di iringi alunan lagu-lagu yang membuat suasana di bus semakin asyikk sekalian menikmati indahnya kota Yogya. Pelaksanaan kegiatan di Benteng Vredeburg tak jauh berbeda dengan di borobudur setelah masuk karcis kami menuju ke audio visual berikut cuplikan selayang pandang nya. (ehm,ehm, batuk lok) :
“Benteng yang dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Dengan parit yang mengelilinginya, benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara pengawas di ke-empat sudutnya dan kubu yang memungkinkan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga dan melepaskan tembakan jika diperlukan.
Pada dasar meriam di kubu bagian selatan, Kraton Yogyakarta dan beberapa bangunan bersejarah lainnya termasuk kepadatan lalulintas di sekitarnya terlihat dengan jelas. Dibangun pada tahun 1765 oleh Belanda, Museum dengan luas kurang lebih 2100 meter persegi ini mempunyai beberapa koleksi antara lain:
- Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya.
- Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru.     
- Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia”.

SEJARAH
“Museum Benteng Yogyakarta, semula bernama "Benteng Rustenburg" yang mempunyai arti "Benteng Peristirahatan" , dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah Kraton. Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, sekitar tahun 1765-1788 bangunan disempurnakan dan selanjutnya diganti namanya menjadi "Benteng Vredeburg" yang mempunyai arti Benteng Perdamaian.
Secara historis bangunan ini sejak berdiri sampai sekarang telah mengalami berbagai perubahan fungsi yaitu pada tahun 1760 - 1830 berfungsi sebagai benteng pertahanan, pada tahun 1830 -1945 berfungsi sebagai markas militer Belanda dan Jepang, dan pada tahun 1945 - 1977 berfungsi sebagai markas militer RI.
Setelah tahun 1977 pihak Hankam mengembalikan kepada pemerintah. Oleh pemerintah melalui Mendikbud yang saat itu dijabat Bapak Daoed Yoesoep atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pemilik, ditetapkan sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara pada tanggal 9 Agustus 1980.
Pada tanggal 16 April 1985 dipugar menjadi Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada tahun 1987. Kemudian pada tanggal 23 November 1992 resmi menjadi "Museum Khusus Perjuangan Nasional" dengan nama "Museum Benteng Yogyakarta".         
Bangunan bekas Benteng Vredeburg dipugar dan dilestarikan. Dalam pemugaran pada bentuk luar masih tetap dipertahankan, sedang pada bentuk bagian dalamnya dipugar dan disesuaikan dengan fungsinya yang baru sebagai ruang museum”(ciee, ini contoh menyerap penjelasan dengan baik dan benar, hehehehe).



































Foto By : Habib Grafhy


Selesai sudah cerita kami di benteng Verdeburg, menjelang petang hari dan ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, suasana di sore itu tidak kami sia-siakan.

Oke, kalian kami beri kesempatan 2 jam untuk belanja-belanja, dan berjalan-jalan di sekitar malioboro” kata bu Entin, yang memberikan kami peluang untuk Shoping,
Horeeeee,’” teriak teman-teman dalam hati, yang akan mencari oleh-oleh.
“ Dari sini nanti kalian menuju jalan utama trus belok ke arah kanan, kalian lurus aja, disepanjang jalan itu nanti kalian akan temui pusat pembelanjaan, ingat belanja lah sehemat  mungkin agar barang bawaan kalian saat pulang nanti tidak over bagasi” saran bu Entin kepada kami, tanpa sadar sekalian memperingatkan dan menyadarkan kami bahwa kami anak beasiswa, dan harus hemat dalam pemakaian uang untuk kuliah selanjutnya.

Kesempatan sore itu tidak kami sia-siakan untuk mencari oleh-oleh, tanpa terasa hingga larut malam kami mutar-mutar di Malioboro.
“berapa ini mas’” sapaku
“ yang itu 25.000 aja mas,” jawab penjual
“10.000, aja ya mas,.” Ku tawar harga baju itu, semurah mungkin dengan harapan agar bisa hemat dan belanja banyak2, (dasar muka pelitt, hahaha).
15.000 aja ya mas’’ kata penjual.
“kalau boleh 10.000,’ saya ambil mas,” hehehe, (dengan muka melas kutawar baju itu).
Setelah proses tawar-menawar akhirnya luluh runtuh juga hati penjual itu, bagaikan habis kena bujuk rayu sang pujangga hati dengan muka melas penuh harap.
“ya deh mas, itung-itung buat penglaris” jawab penjual itu kembali.
Waduh, kali ini giliran aku yang tersentak bagaikan sebuah petir yang tiba-tiba datang menyambar, ketika mendegar kata-kata dari penjual itu, seakan-akan aku ini seorang penjajah yang dengan kejamnya merebut atau menguasai suatu daerah dan dengan memaksa, karena harga tawaran yang begitu jauh dari harga awal. Tanpa terasa kami berbelanja hingga larut malam, banyak dari teman2 yang puas-puas shoping untuk oleh-oleh, maupun untuk sendiri, mondar-mandir mencari barang-barang yang dicari.
Selesai belanja-belanja dan berjalan-jalan tanpa terasa kaki ini lelah untuk melangkah, ku melihat ada tempat duduk tempat orang jualan makanan.
Bu, Mie Ayam 2 yaa,.” Aku mesan makanan untuk kami berdua muji.
“ ya mas, tunggu ya,” sahut ibu itu dengan ramah.
Sambil menikmati santap malam, kami memandangi keindahan sepanjang jalan malioboro yang hampir penuh dengan penjual, namun tertata rapi. Dan berbagai hiruk-pikuk orang berlalu-lalang, hilir-mudik, di sekitar jalan malioboro. Berbagai jenis suku, baik asli Indonesia maupun turis-turis semua ada di situ, (termasuk kami, hehehe)


Saat itu, Tiba-tiba ku terlena menatap sesosok manusia dengan paras yang bagus hampir sempurna, namun disayangkan sosok tersebut memegang dua alat musik, yang satu di gendong menyerupai gitar namun tali nya hanya tiga, dan satu lagi di gengam, alat yg satu terbuat dari tutup batu baterai, yang di satukan. Sosok tersebutpun menghampiri kami dengan suarsa khas nya.
Brrooonnndooonng!!!!,”Teriak suara tersebut menyapa kami, kemudian bernyanyi menggunakan alat musik yang dibawanya.
Seketika itu makanan yang ada didalam mulut serasa tersentak muncratt, keluar semua, dan rasanya ingin lari terbirit-birit menyelamatkan diri.  Menahan sebuah geli tawa yang ku tahan, mendengar suara yang tak ku bayangkan saat itu, ternyata eh ternyata, apa yang dalam benak ini meleset semua, sosok tersebut mahluk jadi-jadian, eh maksudnya, mahkluk yang kami tak ketahui jenis kelaminnya. Melihat sosoknya bagaikan seorang putri raja yang dihias dengan pernak-pernik kerajaan  yang menghiasi seluruh tubuhnya. Namun, ketika mendengar suara khasnya, sosok tersebut bagaikan seorang komandan perang yang dengan lantang dan keras memberi komando kepada para prajuritnya, untuk maju berperang, kami tak menyadari ternyata makhluk itu jadi-jadian, antara wanita dan laki-laki yang tak bisa menyatu dalam satu tubuh. (alias, B***i),heeheheheheheee.
Ketika suasana Yogya dimalam hari mulai terlihat keindahan dengan sinar lampu yang disetiap sudut Kota memancarkan sinarnya, kala itu kami bergegas menuju bus. Kami tatap di balik jendela bus, Sinar-sinar lampu yang terlihat terang sehingga membuat suasana Yogya di malam hari semakin indah dan mempesona, menghantarkan kami di sepanjang perjalanan menuju penginapan, dimana kami akan beristirahat kembali.





































Part 3, 21 November 2013 Go to Prambanan dan UGM

Bagaikan ular yang lagi malas untuk mencari mangsa dan hanya mendekam di balik rerimbunan rumput kami tak ingin rasanya bangun dan keluar dari selimut yang hangat itu kawan, yang membuat begitu nyenyaknya tidur malam di atas kasur gratis bagi kami, di Pagi hari yang sejuk di kota Yogyakarta, ketika embun masih menyelimuti bumi, terdengar suara keras dari luar pintu.

Tokk tokk tokk, terdengar pintu diketuk dari luar dengan keras.

“ Bangun-bangun udah siang.”. Teriak suara itu dari luar pintu, tak asing lagi suara itu adalah suara komandan perang, eh salah, maksudnya suara ketua kelompok yang membangunkan kami, untuk olahraga pagi agar badan sehat dan kuat, hehehe
Pagi itu suasana kota Yogyakarta begitu cerah tak seperti hari sebelumnya, mentari di pagi itu menyambut kami dengan senyum sinarnya, yang membuat kami merasakan kesejukan pagi dan menikmati pesona alam kota Yogyakarta hari itu, selesai makan dan mandi, kami menuju bus yang akan membawa kami para Turis-turis jadian dari kalimantan barat, hehehe, mengelilingi kota Yogyakarta.
Mata ini  kembali tercengang kawan, serasa semuanya hanya sebuah mimpi, sebuah ilusi yang ada dalam diri kami, indah pesona alam, cagar budaya, dan sejarah kota Yogyakarta membuat kami tak ingin meninggalkan momen-momen indah itu, kami kembali dihadapkan dengan sebuah arsitektur peninggalan sejarah religius yang sampai saat ini masih menjadi sebuah tanda tanya, akan keberadaan misteri asal muasal dari bangunan ini, dengan di kelilingi indahnya alam yang masih asri, Candi Prambanan berdiri megah menantang kemegahan alam lainnya, serasa tak pernah di terpa oleh gempa bumi yang pernah menggoncang kota yogyakarta itu.
Dengan keahliannya seorang pemandu memberikan penjelasan tentang sejarah keberadaan candi Prambanan, berikut cuplikannya, silahkan disimak, agar dapat ilmu juga :

Sejarah candi prambanan Yogyakarta
Candi prambanan merupakan salah satu candi yang terletak di Indonesia dan merupakan salah satu tempat tujuan wisata. Candi prambanan sering kali dipanggil dengan nama candi Roro Jonggrang, candi ini merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia dan sekaligus menjadi candi yang sekaligus menjadi candi yang terindah di Asia Tenggara ini merupakan aset Indonesia yang tidak dapat dinilai harganya. Candi prambanan dibangun pada abad ke-9 masehi yang ditujukan untuk Trimurti yakni tiga dewa utama bagi agama Hindu, Brahma sebagai dewa pencipta, Siwa sebagai dewa pemusnah dan Wishnu sebagai dewa pemelihara.        
Candi prambanan terletak di perbatasan antara Jawa tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga ada pula yang mengatakan bahwa letak candi Prambanan di jawa tengah. Candi prambanan terletak sekitar 20 KM dari Yogyakarta yang masih masuk wilayah Sleman dan Klaten.
Candi yang termasuk kedalam Situs warisan dunia ini menurut Prasasti Siwagrha dibangun sekitar tahun 850 masehi dan dibangun oleh Rakai Pikatan kemudian dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu pada masa kerajaan Medang Mataram.          

Candi Prambanan memiliki kaitan yang erat dengan kerajaan pengging, pada masa itu diceritakan kisah Bandung Bondowoso yang hendak menikahi Roro Jonggrang, namun ternyata Roro Jonggrang tidak menyukai Bandung Bondowoso dan hendak menolak lamarannya dengan cara yang halus.   
Cerita di Balik Candi pembangunan (terjadinya) candi Prambanan
Ada kisah yang saya dengar pada awalnya ada seorang kesatria yang memiliki nama Bandung Bandowoso yang hendak menikahi seorang putri yang memiliki nama Rara Jonggrang. Rara Jonggrang ternyata tidak menyukai Bandung Bandawasa dan hendak menolak lamaran sang kesatria Bandung Bandawasa tersebut. Rara Jonggrang tidak ingin menyakiti hati Bandung Bandawasa dan akhirnya dia menolak dengan cara yang halus, dia meminta agar dibuatkan 1000 (seribu) candi dalam kurun waktu 1 (satu) malam. Rara Jonggrang berfikir Bandung tidak akan bisa memenuhi permintaannya tersebut, tanpa di kira ternyata Bandung Bandawasa menyanggupi permintaan Rara Jonggrang tersebut. Akhirnya pada suatu malam yang telah ditentukan Bandung Bandawasa memulai membuat candi tersebut dengan bantuan Jin. Pembuatan 1000 candi hampir selesai dibuat, akhirnya Rara Jonggrang merasa panik dan memikirkan suatu cara agar Bandung gagal dalam pembuatan 1000 candi tersebut. Ditipulah Bandung dan Jin nya dengan suara ayam dan aktifitas warga, sehingga Bandung dan Jin nya menganggap sudah pagi. Jin yang takut terkena sinar matahari akhirnya meninggalkan pekerjaan membuat candinya karena menganggap waktu itu sudah pagi. Tanpa diketahui ternyata usaha Rara Jonggrang tersebut diketahui oleh Bandung Bandawasa dan akhirnya rara jonggrang dijadikan candi yang ke 1000 sebagai pelengkap 999 candiu yang telah dia buat bersama dengan Jin nya. Benar atau tidak cerita ini saya juga kurang tau pasti karena pada kenyataannya hanya terdapat ratusan candi saja di candi tersebut. Sampai sekarang cerita mengenai candi prambanan ini masih menjadi legenda.        
Perpindahan Pusat Kerajaan Mataram ke jawa timur menjadikan candi prambanan tidak terurus. Candi prambanan terkena dampak dari gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengakibatkan banyaknya reruntuhan dari candi. Candi Prambanan kembali ditemukan oleh seorang yang berkebangsaan Belanda beliau memiliki nama C.A Lons, pada saat itu beliau mengunjungi pulau jawa dan pada tahun 1733 beliau melaporkan bahwa terdapat reruntuhan candi yang telah ditumbuhi oleh semak belukar.           
Candi Prambanan merupakan candi yang termasuk kelompok candi yang dibangun oleh raja Dinasti Sanjaya abad ke IX (sembilan). Pada candi ini ditemukan tulisan Pikatan yang menandakan bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan dan kemudian diteruskan oleh Rakai Balitung. Banyak cerita yang mengalir di masyarakat mengenai candi ini, ada cerita yang mengatakan bahwa candi Prambanan dibuat oleh satu orang yang memiliki nama Bandung Bandawasa namun cerita ini sampai sekarang masih belum bisa dibuktikan kebenarannya. (“ehmmm semoga nggak salah ngasih  sebuah penjelasan”, ckckckck -_-)













 Sesuatu yang wajib :



Saat itu mentari bagaikan marah kepada kami kawan, membuat kulit ini serasa terbakar oleh sinarnya yang membuat kami tidak kuat lagi menahan perihnya sinar matahari. Tapi, rasa perih seketika hilang tatkala kami sudah berada dalam bus, saat itu kami sedang menuju kampus Universitas Gadjah Mada (UGM :
“Ketua kelompok, pastikan anggota kelompoknya lengkap”, ungkap salah seorang panitia dari belakang memastikan bahwa tak ada tim yang tertinggal
“ok, ketua kelompok satu apakah sudah lengkap? Tanya panitia
“sudah bang” sahut ketua kelompok satu
“kelompok 2, bagaimana, apakah sudah lengkap?
“Sudah Bang” sahut ketua kelompok dua
“Kelompok 3 apakah sudah lengkap?”
“Belum bang, masih ada yang didalam, sedang menuju bus. Tadi sudah saya telpon bang” jawab ketua kelompok tiga, dengan wajah cemas.

Setelah menunggu beberapa lama Anggota kelompok pun tiba, dengan napas tersengal-sengal bagaikan dikejar oleh maling, eh ngejar maling, eh, dikejar hantu, ehh, (pokok itu lah). Hehe
Dengan di iringi alunan musik pop khas musisi Indonesia, bus kami menuju Kampus UGM, di kala itu teman-teman terlihat ceria dan senang, dan mengikuti alunan lirik lagu, beberapa menit perjalanan kami sampai di tujuan, mata kamipun kembali tercengang bagaikan masih dalam mimpi, begitu megahnya bangunan kampus yang kami tuju, dengan taman yang tertata rapi, dan hampir diseluruh penjuru halaman kampus tak kami temukan sampah yang berserakan di jalanan. Nuansa kampusnya yang sangat asri, membuat pikiran ini menerawang ke alam bebas yang tenang dan damai, kesejukan ini menusuk tembus hingga ke jiwa, tanpa sadar kita berada dibangunan mewah tapi tetap tidak meninggalkan kewajiban dalam menghijaukan kota, itulah adanya dikampus UGM. Terlihat bahwa intelektual penghuninya begitu nyata, dan patuh pada peraturan yang ada, di sepanjang jalan, jarang ditemui mahasiswa yang ngumpul-ngumpul gak jelas, yang kami temui di sekitar perjalanan, banyak mahasiswa yang berkumpul walaupun di teras kampus mereka tetap berdiskusi bersama dengan PD nya, tanpa ada rasa malu, untuk menimba ilmu. Ketika kami lewat, senyum dari wajah-wajah ceria mereka pun sangat nampak jelas keramahan dan tanda mereka sangat menghormati satu sama lain.     
“Mahasiswa sini beda ya, mereka gak malu-malu kalau berdiskusi, walaupun di teras kampus” sapa Agus, sambil memperhatikan di sekeliling kampus, dengan seksama dan dalam tempoe yang sesingkat-singkat nya, hehehe malah kayak proklamasi
“hal-hal yang kayak gini jarang kita temui di kampus kita, coba diterapkan di kampus kita,” sambut Habib,
“iya ne, coba ada yaa, walaupun di teras kampus, malahan yang ada gengsi klau belajar kayak gitu, minimal harus ad tempat yang bagus, apalagi kalau tawuran, huh malah cepat reponnya, demi solidaritas kampus lha, cinta kampus lha, padahalkan yang namanya solidaritas kampus dan cinta kampus gak harus tawuran, tapi tunjukkan dengan prestasi dengan membawa harum nama kampus, itu yang benar, kampus kitakan menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa, bukan preman, pemimpin yang berfikir secara intelektual dalam menyelesaikan masalah” tandas seorang teman yang ikut serta dalam pembicaraan kami, menjelaskan ke intelektualannya bagaikan seorang peneliti.
Perjalanan kami pun berakhir disebuah bangunan mewah, beraksitektur khas bangunan jawa, itulah ruangan aula Fakultas Tekhnologi Pertanian UGM. Dimana diaula ini kami akan menimba ilmu dengan civitas akademika pihak kampus biru atau UGM.
“Selamat datang’’, sapa pramugari, eitss dah mulai dhe, maksud nya sambut mereka di depan pintu masuk
Setelah berkumpul, kami pun makan siang bersama dengan anak Bidikmisi UGM, yang ramah-ramah dan enak di ajak ngobrol. Kami pun makan dengan lahap sambil ngobrol dengan anak Bidikmisi UGM.
“Siang Mas, Namanya siapa Mas,” Sapa Firman dalam keramahannya dalam mengawali pembicaraannya
“Siang juga, Saya Agus Nama Mas”, jawabku
“Firman Mas, mas udah semester berapa” Lanjutnya
“Tujuh, Mas firman sendiri,’ Jawabku
Sambil Menunggu, kami larut dalam pembicaraan mengenai kampus, bidikmisi, bahkan tentang cita-cita bagaimana merubah negeri ini, tanpa terasa acarapun siap untuk di mulai kamipun siap mendengarkan seminar yang akan disampaikan oleh Bapak Dr. Drs. Senawi, M. P.Dengan tema “Strategi Mahasiswa Bidikmisi Merajut Prestasi Membangun Negeri”. Acara seminar dibuka dan dipandu MC oleh dua mahasiswa dari UGM, yang sangat asyik dan menyenangkan. Kamipun dibawa masuk ke dalam acara dengan senyum bahagia kedua MC tadipun membuka acara serta membacakan susunan acara seminar, yang didahului dengan pembukaan acara seminar, sambutan dari kampus UGM dan Untan serta ada penampilan seni dari kedua belah pihak mahasiswa, setelah itu baru masuk ke acara seminar.
Acara seminar dibuka dengan sebuah penampilan pancak silat yang di tampilkan oleh seorang mahasiswa UNTAN,”Saya akan menampilkan sebuah Seni pencak silat, yang mana ini merupakan seni budaya yang ada di indonesia dan pergerakkannya adalah seni nasional, tapi kali ini saya tidak membawa perlengkapan khusus, hanya keris yang saya bawa ini pun saya beli tadi, semoga bisa membantu” kata mujiono dalam sambutannya, dengan krisnya yang mengkilap yang merupakan salah satu kebudayaan Indonesia.ehm,Tanpa Basa-basi, diapun mulai memeragakan kepiawaiannya dia menyuguhkan suatu pergerakkan seni penck silatnya, yang membuat mata ini terpukau dan hati ini berdecak kagum, walau nampak guratan lelah diwajahnya, namun saya yakin semangatnya muncul kembali ketika melihat senyum kagum dari para mojang kampus biru (ettttssss,,,zCiieeeee). Pancak silatnya ditutup dengan tepuk tangan meriah dari para mahasiswa yang hadir, tepuk tangan meriah ini menandakan mereka sangat kagum dan bahagia dapat melihat langsung sebuah peraga silat yang seperti sudah sangat profesional dalam bidangnya.


Tidak ketinggalan juga musisi khas anak bidik misi UNTAN pun menunjukkan aksi nya, dengan membawakan sebuah lagu khas dayak kalimantan dan di iringi alunan musik khas masyarakat Kalimantan  suku Dayak, kami terbawa suasana yang asyik, tanpa terasa kaki kami mengikuti alunan musik tersebut, gerakkan-gerakkan tangan kami pun tak kalah mengikuti nyanyian mereka untuk memberi semangat, dengan gerakkan khas, Cuci-cuci Jemur-jemur, kayak yang sering di lihat di sebuah televisi, dan di sambut dengan suara” eeeeeee  aaaaaaa, eeeeeeeeeee aaaaaaaa” dari teman-teman membuat suasana ruangan semakin ramai, dan seruu. Ini adalah lagu persembahan dari mahasiswa bidimisi Untan yang dengan piawai dalam melantunkan lagu yang sangat nyaman didengar, walau kami sendiri tidak mengerti apa artinya, karena menggunakan bahasa Dayak “Menyaduk”. Yang kami tahu lagu ini sangat romantisme didengar di telinga. Setelah selesai menyanyi, kawan kami menjelaskan apa arti dari lagu tersebut. Lagu tersebut menurut Bg Yakobus Yeyeh dan Bg Albino  merupakan lagu ciptaan Bupati mereka, Bupati Kabupaten Landak. Lagu tersebut menceritakan tentang tanah, bahasa, tempat, orang-orang dikabupaten Landak. yang walau berbeda-beda namun disatukan di tanah tersebut, yaitu Tanah Kabupaten Landak.

“saya akan mempersembahkan tarian melayu ala modern, tapi, sesungguhnya tarian ini di peragakan oleh 2 orang, namun karna saya belum ada pasangan maka saya akan tetap memeragakan tarian ini”Kata Novi dalam mengawali sambutannya.
Selanjutnya dengan diiringi oleh musik khas tarian melayu, kami terpesona dengan tarian yang dengan gemulainya diperagakan olehnya,Penulis lihat keceriaan yang mendalam dari setiap wajah para mahasiswa UGM ketika melihat tarian tersebut. Jangankan bagi mereka, bagi saya sendiri tarian ini sedikit asing (sedikit jeee -_-). Dengan lincah dia menarimelenggang-lenggongbagaikan penari handal tanpa malu dia menari di depan kami bagaikan seorang penari film India, yang cukup mahir dalam memainkan gerakan badannya, ditambah datang seorang bak Pangeran yang menemui sorang ratu dengan membawa syal corak Dayak, dia ikut menari kedepan dan cukup mahir juga, dengan gaya badannya yang lentur. Tak hentinya kami bersorak menyambut sepasang muda-mudi ini, yang menari bersama, dan seorang putri yang telah menemukan pangerannya.
Tanpa kami bayangkan dan tanpa kami ketahui ketika itu Penulis dibuat kagum oleh sebuah penampilan dari mahasiswa UGM yang mana memiliki keterbatasan fisik, namun bisa mengukir sebuah prestasi yang gemilang, semangatnya dan motivasinya dalam mengubah sebuah kehidupan yang mustahil baginya dan keluarga nya menjadi mustahil, sebuah keterbatasan fisik (tuna rungu), bukanlah menjadi sebuah penghalang baginya untuk meraih masa depan.
Akhirnya, Seminar pun dimulai dengan pemateri Bapak Senawi, bertemakan “Strategi Mahasiswa Bidikmisi Merajut Prestasi Membangun Negeri”. Banyak hal yang bermanfaat kami rangkum dari materi yang disampai oleh beliau.

Biar foto yang bicara:
          Foto By :  Habib Grafhy
Selesai seminar, nampak puas diwajah kawan-kawan semua, puas akan ilmu yang didapat atau puas nahan kantuk berat, saya pun tidak paham (hehehe). Kami pun bergegas menuju bus yang akan membawa kami pulang ke penginapan dengan berbagai rasa, rasa iri melihat kampus UGM, rasa puas telah menginjakkan kaki di Universitas terbaik nomor dua di Indonesia ini, rasa puas menahan ngantuk, rasa puas melihat keindahan kampus UGM, rasa puas berkeliling kota yogyakarta, membaur menjadi satu tiada duanya lagi.
Seketika itu bus melaju menuju penginapan dan seperti biasa kami ditemani oleh alunan musik khas musisi indonesia.
“cieeee, ada yang baru jadian niee” teriak teman kami dari arah depan.
“ siapa” sambut Yogi dari bagian tengah, bak tak mau ketinggalan informasi
Amir dan Dian, lihat lha duduknya berdua-duaan”, sahutnya kembali
“cieee cieeee cieee cieee,” sambut yang lain.
“Levi request lagu Empat mata Bicara,” sambut yogi kembali
Senda gurau teman-teman terlihat sangat ceria menghilangkan rasa lelah selama kegiatan, dengan hadirnya sepasang muda-mudi lagi yang menjadi bahan olokan di dalam bus dengan bernyanyi bersama dan sambil bersanda gurau mengolok Amir dan Dian, sehingga menambah suasana makin asyik.
“ciee ciee, Anum cemburu,” tambah salah satu teman kami.
“ hahahahahaha” ketawa teman-teman memukau
“ Lev, Levi request lagu Mau dibawa kemana hubungan kita, “ sahut lagi dari belakang.
Sambil mendengarkan lagu, bertubi-tubi bagaikan diserang habis-habisan Amir, Dian, dan Anum menjadi bahan Candaan kami, di dalam bus sehingga suasana dikala itu yang serasa lelah hilang begitu saja tanpa jejak dalam diri kami.


















Part 4, 22 November 2013, Go To UGM & KRATON YOGYAKARTA

Ketika pagi di Kota Yogyakarta masih diselimuti embun yangdingin menyelimuti dan menusuk kulit kami, membuat enggan menyibak selimut yang menutup badan ditambah kasur empuk yang sangat menggoda dan jauh berbeda dengan kasur di kost (eehhh mas kok jadi curhat!!), namun kami sadar dipagi yang ceria ini, kami harus kembali beraktifitas. Dengan tanpa ragu lagi, kami segera mandi dan bersiap untuk sarapan pagi bersama-kawan-kawan lainnya di lantai 2.
Pagi ini kami kembali menuju kampus UGM dengan agenda “pengenalan kampus UGM”. Memang agenda ini sangat perlu, mengingat UGM merupakan kampus Nomor dua terbaik di Indonesia setelah Institut Tekhnologi Bandung (ITB) dan karena Alumni-Almuni UGM banyak yang menduduki posisi penting dipemerintahan. Maksud dari pengenalan kampus UGM adalah agar kami tahu, apa yang membuat UGM menjadi sebuah kampus yang di perhitungkan di Indonesia sehingga menghasilkan lulusan-lulusan yang berpotensi dan mampu bersaing didunia kerja.
Pengenalan pertama kami dimulai dengan mengunjungi perpustakaan pusat UGM. Disini kami diarahkan bagaimana cara buka situs-situs web yang ada di UGM. Selanjutnya kami di bagi menjadi empat kelompok dan setiap kelompok terdapat satu orang pemandu yang nantinya akan mengarahkan dan menjelaskan bagian-bagian apa yang terdapat di perpustakaan pusat UGM. Dengan Sangat Detil Kami Mendapatkan Semua data mengenai perpustakaan pusat UGM.
Selesai di perpustakaan pusat UGM, kami menuju ruang PSDI, dimana diruangan ini kami mendapatkan penjelasan mengenai sistem akademik yang digunakn di kampus UGM, mulai dari alamat web, dan jaringan Wifi yang tersebar luas diarea UGM. PSDI ini kalau di Untan sama dengan Pusat Komputer (Puskom). Kami pun menyimak dengan seksama penjelasan dari staff PSDI.
Ketika matahari pagi mulai meninggi dan menampakkan keperkasaannya, kami keluar dari gedung PSDI dengan muka lusuh karena belum makan,hahaha.Namun bagi kami teriknya sinar matahari tiada arti ketika mendengar suara adzan yang berkumandang dari TOA masjid. Kami yang muslim segera bergegas menuju masjid untuk malaksanakan Sholat Jumat. Selesai sholat, kami pun makan bersama.
Dengan kegagahannya matahari yang memancarkan sinar sehingga perih dimata dan kulit. Kami bergegas menuju bus dan bersiap-siap lepas landas menuju KratonYogyakarta. Ketika tiba di Kraton ada sedikit guratan kesedihan di wajah kami, karena ini adalah hari jumat, maka Kraton Cepat tutup. Maka dari itu agenda kami yang seharusnya mengunjungi Kraton, dialihkan untuk melihat sekeliling Kraton, dengan menaiki sebuah kendaraan khas Indonesia yang hampir punah di gerus zaman kami menuju museum kereta Kraton yang berlokasi sekitar 100m sebelah Barat Kraton Yogyakarta, kereta adalah kendaraan utama dimasa dahulu, dan juga sekaligus sebagai pusaka kraton, oleh karena itu untuk melestarikan dan menjaganya, di bangunlah museum ini.

“Ini Namanya Kereta Kyai Garuda Yeksa, yang merupakan kereta yang dipergunakan untuk acara kirab dalam rangkaian penobatan Sri Sultan Hamengkubuwono VI sampai X, kereta ini di tarik oleh 4 Ekor Kudaaaa,......”Dengan logat dan gaya bicara yang khas seorang pemandu memberikan penjelasan kepada kami mengenai sejarah Kereta Kraton satu persatu. Hampir semua kereta kraton tersebut berumur puluhan bahkan ratusan tahun, Nama-nama dari kereta yang dipamerkan di museum tersebut antar lain, kereta Kyai Jongwiyat, Kereta Kyai Jolodoro, Kereta Roto Biru, Kereta kyai Rejo Pawoko, kereta Landower, kereta Premili, kereta Kus sepuluh, kereta kapuitin, kereta kyai Kutha Kaharjo, Kereta kus gading, kereta kyai puspoko manik, kereta roto Praloyo, kereta kyai jetayu, kereta kyai harsunaba, kereta kyai wimono putro, kereta kyai manik retno, kereta kanjeng nyai jimad, kereta mondro juwolo, kereta garudo yeksa, kereta Landower Wisman, kereta Landower surabaya, kereta kyai noto puro. Selain kereta yang dipamerkan, ada juga replika pelana milik Sultan HB VIII, yaitu pelana Kyai Cekatha. Pelana sultan yang asli dengan berhiaskan emas dan butiran berlian.
Tanpa terasa selesai mutar-mutar didalam museum kamipun malanjutkan perjalanan berkelana kami,untuk menuju sebuah tempat yang lebih indah lagi yang sudah terkenal kepelosok penjuru kota-kota di Indonesia, karena disini kami akan mendapatkan ilmu dan pelajaran yang sangat berharga, selain ini pengalaman pertama, ini juga merupakan sebuah ukiran indah dalam hidup kamiyaitu pantai Parangtritis, siang itu kami akan menuju pantai Parangtritis. Pantai yang asri, dengan ke indahan alam dan kebudayaan tradisionak yang masih sangat melekat disana.
Matahari siang seakan ikut marah dengan kami, yang kami naiki seakan bukanbus lagi, namun sebuah kereta yang sudah berumur 100 tahun yang oleng ke kiri dan oleng ke kanan ketika dinaiki 60 orang,  keadaan ini membuat kami terpukul. Ac mobil yang seharusnya menyejukkan badan, serasa malah menambah panasnya suasana ini, ketika kami tidak jadi berangkat ke pantai Parangtritis. “Tidak jadi berangkat ke pantai Parangtritis bukan sebuah masalah bagi kami”, namun yang menjadi masalah adalah ketika orang yang seharusnya kami perhatikan yaitu Ketua Comdev Ibu Entin malah ketinggalan bus, beliau ketingalan bus bukan karena asyik-asyiknya belanja hingga lupa waktu berkumpul, melainkan karena beliau ke ATM,  mengambil uang untuk agenda kami besok yang direncanakan akan pergi ke Solo. ‘’Ini semua terjadi begitu saja, tanpa ada niat untuk meninggalkan Ibu Maafkan anak-anakmu ini Bu’’.
Akhirnya kami semua sepakat dengan di Komando oleh Ibu Dini, untuk pulang ke penginapan dan ke pantai Parangtritisnya dibatalkan. Karena kami tidak ingin bersenang-senang setelah melakukan sebuah kesalahan sehingga semua itu terjadi. Kamipun istirahat lebih awal, dan ada juga sebagian kawan-kawan yang jalan menikmati udara malam Kota Yogyakarta.










Part 5, 23 November 2013 Kereta Api go Klaten
 
Masih ingat lagu ini sejak kita masih kecil.
Naik Kereta api:               
Naik kereta api ... tut ... tut ... tut, Siapa hendak turut Ke Bandung ... Surabaya
Bolehlah naik dengan percuma,. .
Ayo temanku lekas naikKeretaku, . .
tak berhenti lama 
Cepat kretaku jalan ...tut...tut...tut
Banyak penumpang turut
K'retaku sudah penat  Karena beban terlalu berat
Di sinilah ada stasiun Penumpang semua turun”
Ya, di pagi itu kami kembali bangun awal kawan, hanya untuk berburu karcis kereta Api, menuju kota Klaten seperti biasa setelah kami bersiap-siap, kami langsung menuju Stasiun. Sesuai kesepakatan pada saat Briefing ketua kelompok dan panitia, agenda kami hari ini akan menuju stasiun kereta api Yogyakarta, mengganti agenda ke Solo. Ini akan menjadi pengalaman pertama dari sebagian kami, karena di Kalimantan Barat belum ada stasiun kereta api, jadi menurut kami naik kereta api merupakan suatu cerita tersendiri bagi kami. Kesenangan pun nampak di guratan-guratan wajah kawan-kawan semua, tentunya senang merasakan naik kereta api, yang bebas macet, bebas tilang, bebas dari polusi. Prriiiiiiiiiiittttt, suara kereta akan memulai perjalanan, Sepanjang perjalananKami naik kereta api menuju Klaten kami memandangi asri nya pesona alam yang kami lewati, terbentang sawah-sawah yang tertata rapi, serta gunung merapi yang terlihat jelas dan masih menganga bagaikan akan meluapkan kembali Larvanya seakan-akan mengulangi kembali erupsinya, ini semua merupakan sebuah rangkaian sejarah perjalanan kami kawan, untuk mengetahui begitu indah dan luar biasanya Tuhan menciptakan Alam semesta, walau pun dengan padatnya penduduk di pulau jawa, tapi alam nya masih tertata rapi, dan indah untuk dipandang mata.
Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih setengan jam, kami pun tiba di Klaten. Sambil menunggu bus jemputan yang akan membawa kami menuju Candi Prambanan, kesempatan ini digunakan untuk foto bersama dan membeli sarapan pagi.
Foto By : Habib Grafhy

Waktu menunjukkan sekitar pukul 14.30, kami sampai di kebun binatang gembiraloka Yogyakarta. Sebelum kami berpencar, kami makan bersama dulu, setelah itu acara bebas mengelilingi kebun binatang dengan catatan jam 17.00 sudah ngumpul kembali dalam bus, apabila terlambat, maka akan selamanya di kebun Binatang (hehehehehe).
“simpanlha pisang nya tuch, ntar kita kasihkan saudaramu”, Canda Arie kepada salah satu teman kami dengan menunjukkan pisang yang di bagikan sebagai makan siang kami,.
“enak aja, ya gak lah ndak kha kau udah janjian dengan saudaramu disini, temuin lha, bawakan makanannya tuch” jawabnya dengan hati kesal, bak muka merah padam.

“ciee, yang mau ketemu sama saudaranya, yuks lah aku antar” Tambah jang joko, yang ikut-ikutan nimbrung.
Tanpa terasa canda gurau teman-teman terus saling bersaut-sautan bagaikan burung yang di ikut sertakan dalam perlombaan, (hahahaha, suasananya pas banget di kebun binatang,ckckckck), hingga fajar menyinsing di ufuk barat dan enggan bertemu kami lagi pada sore itu.
Selesai sudah rangkaian acara harian kami di Kota Yogyakarta dengan ditutup berkunjung ke kebun Binatang Gembiraloka. Malamnya kami makan bersama di penginapan, sebelum makan bersama di mulai, setiap kelompok berdasarkan intstruksi Pak Togar menyampaikan Kesan dan Pesan terhadap kegiatan ini. Selesai penyampaian Kesan dan Pesan dari setiap ketua kelompok dan anggota kelompok, dilanjutkan dengan sambutan oleh Bu Entin. Setelah itu baru dilanjutkan dengan makan bersama dan sekaligus perayaan ulang tahun kawan kami.
Selesai makan, kamipun bergegas menuju kamar masing-masing, dengan satu tujuan yaitu packing barang. Ketua kelompok wajib menimbang barang bawaan atau koper setiap anggotanya, karena takut over bagasi. Selesai ditimbang koper harus segera diantar ke bagasi bus, agar besok pagi-pagi tidak kewalahan mengangkut barang bawaan.
Malamnya kami tidur dengan nyenyak membawa mimpi-mimpi selama kami berada di Kota Yogyakarta ini, terlintas dibenak mereply kembali apa yang sudah kami lakukan di Yogyakarta ini. Banyak hal yang kami dapatkan disini, di Kota ini, mulai dari ilmu pengetahuan, sosial budaya, pengalaman, semangat perjuangan dan lain sebagainya. Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, karena yang kami dapatkan disini tak akan bisa hanya diwakilkan dengan kata demi kata. Waktu 6 hari kebersamaan kita terasa begitu singkat, tiada terasa ini malam terakhir kita di Kota ini, malam yang ditemani suara jangkrik yang semakin malam semakin sunyi. Kami semua terlelap dalam alunan mimpi, mimpi akan semua kebersamaan kami disini.
Pagi ini, merupakan udara pagi Yogyakarta terakhir yang kami hirup. Karena pada pagi ini kami akan pulang menuju Kota Pontianak. Bus yang akan membawa kami menuju bandara sudah dipanaskan, seakan bus ini berkata “ ye ye ye, kalian pulang, pulang ke Pontianak”, kata-kata itu seolah-olah terngiang-ngiang di kepala kami.
Bagaikan Sebuah lagu ciptaan salah satu musisi indonesia, Band Ungu :
Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu, masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna...
Terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu nikmati bersama suasana Yogya,.......
Di persimpangan langkahku terhenti, ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera orang duduk bersila,..
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu merintih sendiri ditelan deru kotamu.....
Walau kini kau tlah tiada, tak kembali namun kotamu hadirkan senyummu abadi izinkanlah aku untuk selalu pulang lagibila hati mulai sepi tanpa terobati
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu merintih sendiri ditelan deru kota,...
Walau kini kau tlah tiada, tak kembali namun kotamu hadirkan senyummu abadi izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi (untuk selalu pulang lagi),.
bila hati mulai sepi tanpa terobati (bila hati mulai sepi tanpa terobati)
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi (izinkanlah lagi),.....
bila hati mulai sepi tanpa terobati (selalu pulang lagi, selalu pulang lagi),..
Cipt : Band Ungu

Serasa kami tak ingin meninggalkan kota ini.

Salam Jumpa, Kota Yogyakarta.       
Salam Sukses Sahabat BIDIKMISI.


No comments:

Post a Comment