Sebut
saja namanya Padil, lahir dikeluarga yang tidak mampu secara ekonomi tidak
membunuh karakternya yang semangat dan energik. Semangat dalam menantang
kejamnya hidup yang keras dan penuh tantangan, energik dalam mendapatkan apa
yang menjadi impiannya walau tanpa didukung secara materil dari keluarganya.
Inilah Padil kecil yang telah beranjak dewasa dan telah memperoleh gelar
sarjana yang memiliki kisah hidup yang bertolak belakang dari apa yang ada
sekarang. Sekarang sedang bersiap mengikuti proses beasiswa Magisternya.
Flashback..
Padil
kecil hidup dalam keluarga yang tidak mampu, ayah hanya bekerja sebagai petani
kecil ditambah usia yang sudah semakin tua membuat penghasilan yang hanya cukup
untuk makan sehari-hari bahkan kadangkala kurang. Keadaan ini menuntut Padil
ikut menanggung beban ekonomi keluarganya, sebisa mungkin padil membantu orang
tuanya secara ekonomi, walau dia sadar bahwa masa kecil kebanyakan anak-anak
sebayanya asyik dengan permainan-permainan masa kecilnya yang menyenangkan. Itu
semua tidak membuatnya iri maupun menyesali sisi kehidupan yang berkecukupan
tidak berpihak padanya, dengan senang hati Padil kecil sambil sekolah berjualan
Nasi Bungkus (nasi yang dibungkus daun pisang kalau dikampung Padil), dan
berjualan Permen, seringkali mendapat olokan dari teman-temannya karena harus
sembari jualan disekolah.
Padil
kecil juga sedikit tersingkir dari dunia hiruk pikuknya masa kecil yang
menyenangkan, karena dia harus ikut orang tuanya tidur didukuh yang serba tidak
ada, tidak ada listrik, mainan keren, teman bermain, dan tontonan yang asyik.
Ah
hidup ini memang nggak asyik” pikir Padil
Setiap
hari sepulang sekolah dia membantu orangtuanya disawah, menggarap sawah. Ini
semua untuk mengurangi beban hidup supaya tidak membeli padi atau beras yang
sangat mahal. Namun tetap kehidupan tidak berpihak pada mereka walau kerja
keras sudah, berusaha dan berdoa sudah. Ini bukan wujud putus asa, namun tidak
bolehkah petani kecil sedikit berkeluh kesah akan hidupnya kepada sang pencipta?
Sekarang...
Padil
dengan bekal semangat dan keyakinan akan menjadi orang sukses, bisa duduk
dibangku kuliah dengan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia (Beasiswa Bidikmisi). Dengan semangat dan keyakinan tersebutlah yang
membuat Padil segera ingin menyelesaikan studinya, dengan bukti selesai dalam
waktu 3 tahun 7 bulan. Tidak sampai disitu, semangat untuk mengembangkan diri
dan menambah ilmu melalui pendidikan tidak pernah mati dalam diri Padil, dengan
penuh keyakinan dia bilang dengan ayahnya ingin melanjutkan S2, seperti tanpa
kapoknya jadi mahasiswa S1 saja sering puasa dan harus banting tulang mencari
tambahan untuk tetap bertahan di rantau, kini malah mau melanjutkan S2 di
rantau juga. Tentu dia sadar resiko yang akan ditanggung dan harus dihadapi
serta ditaklukkan.
Melalui
Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau Beasiswa Pendidikan Indonesia
(BPI) yang ditawarkan langsung melalui Email untuk lulusan cumlaude dari
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Padil mencoba mendaftarkan diri. Dan
alhamdulilah ternyata kembali Padil dinyatakan lulus seleksi mandiri dan harus
mengikuti seleksi selanjutnya yaitu wawancara. Disinilah cerita ini berawal,
biaya transportasi dan akomodasi selama seleksi wawancara di pulau jawa
ditanggung sendiri oleh peserta. Kebingungan kembali menghampiri Padil, dia
sangat sadar bahwa keuangan yang ada tidak akan cukup untuk membeli tiket
pesawat dan lain-lainnya selama disana. Saat-saat seperti inilah peran keluarga
tercinta sangat membantu dan pembuktian bahwa mereka sangat peduli dengan
pendidikan Padil demi masa depannya, ketika diberitahu akan melakukan seleksi
wawancara di Jogjakarta abang Padil segera bermusyawarah dengan keluarga
terutama ayah bagaimana caranya agar terkumpul biaya untuk pergi. Akhirnya,
tanpa berat hati karena demi pendidikan anaknya ayah Padil menjual sebidang
tanah. Ketika diberitahu tentang hal ini Padil hanya bisa menangis haru, betapa
pengorbanan keluarga terutama ayah dan abang saya untuk Padil, Kapan Padil bisa
membalas semua ini, Padil berjanji dalam dirinya pengorbanan ini akan dibayar
dengan kesuksesannya kelak. Amiiin
Sedikit
lega, hasil wawancara selama satu jam di gedung UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
dibayar tuntas dengan tiket kelulusan beasiswa. Tanpa sia-sia berangkat dari
Kalimantan ke Jogjakarta menantang kejamnya kehidupan akhirnya dinyatakan
LULUS. Sangat bermanfaat motivasi “Man Jadda Wa Jadda” dan “Man Shabara Zhafira”
dan bekal slogan motivasi diri “datang jauh-jauh dari kalimantan buat apa kalau
tidak LULUS”.
Bismillah,,,
Thanks To Allah SWT.
(y)
ReplyDelete