Wednesday, July 30, 2014

SEBIDANG TANAH UNTUKMU NAK...





Sebut saja namanya Padil, lahir dikeluarga yang tidak mampu secara ekonomi tidak membunuh karakternya yang semangat dan energik. Semangat dalam menantang kejamnya hidup yang keras dan penuh tantangan, energik dalam mendapatkan apa yang menjadi impiannya walau tanpa didukung secara materil dari keluarganya. Inilah Padil kecil yang telah beranjak dewasa dan telah memperoleh gelar sarjana yang memiliki kisah hidup yang bertolak belakang dari apa yang ada sekarang. Sekarang sedang bersiap mengikuti proses beasiswa Magisternya.

Flashback..
Padil kecil hidup dalam keluarga yang tidak mampu, ayah hanya bekerja sebagai petani kecil ditambah usia yang sudah semakin tua membuat penghasilan yang hanya cukup untuk makan sehari-hari bahkan kadangkala kurang. Keadaan ini menuntut Padil ikut menanggung beban ekonomi keluarganya, sebisa mungkin padil membantu orang tuanya secara ekonomi, walau dia sadar bahwa masa kecil kebanyakan anak-anak sebayanya asyik dengan permainan-permainan masa kecilnya yang menyenangkan. Itu semua tidak membuatnya iri maupun menyesali sisi kehidupan yang berkecukupan tidak berpihak padanya, dengan senang hati Padil kecil sambil sekolah berjualan Nasi Bungkus (nasi yang dibungkus daun pisang kalau dikampung Padil), dan berjualan Permen, seringkali mendapat olokan dari teman-temannya karena harus sembari jualan disekolah.
Padil kecil juga sedikit tersingkir dari dunia hiruk pikuknya masa kecil yang menyenangkan, karena dia harus ikut orang tuanya tidur didukuh yang serba tidak ada, tidak ada listrik, mainan keren, teman bermain, dan tontonan yang asyik.
Ah hidup ini memang nggak asyik” pikir Padil
Setiap hari sepulang sekolah dia membantu orangtuanya disawah, menggarap sawah. Ini semua untuk mengurangi beban hidup supaya tidak membeli padi atau beras yang sangat mahal. Namun tetap kehidupan tidak berpihak pada mereka walau kerja keras sudah, berusaha dan berdoa sudah. Ini bukan wujud putus asa, namun tidak bolehkah petani kecil sedikit berkeluh kesah akan hidupnya kepada sang pencipta?

Sekarang...
Padil dengan bekal semangat dan keyakinan akan menjadi orang sukses, bisa duduk dibangku kuliah dengan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Beasiswa Bidikmisi). Dengan semangat dan keyakinan tersebutlah yang membuat Padil segera ingin menyelesaikan studinya, dengan bukti selesai dalam waktu 3 tahun 7 bulan. Tidak sampai disitu, semangat untuk mengembangkan diri dan menambah ilmu melalui pendidikan tidak pernah mati dalam diri Padil, dengan penuh keyakinan dia bilang dengan ayahnya ingin melanjutkan S2, seperti tanpa kapoknya jadi mahasiswa S1 saja sering puasa dan harus banting tulang mencari tambahan untuk tetap bertahan di rantau, kini malah mau melanjutkan S2 di rantau juga. Tentu dia sadar resiko yang akan ditanggung dan harus dihadapi serta ditaklukkan.
Melalui Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) yang ditawarkan langsung melalui Email untuk lulusan cumlaude dari Menteri Keuangan Republik Indonesia, Padil mencoba mendaftarkan diri. Dan alhamdulilah ternyata kembali Padil dinyatakan lulus seleksi mandiri dan harus mengikuti seleksi selanjutnya yaitu wawancara. Disinilah cerita ini berawal, biaya transportasi dan akomodasi selama seleksi wawancara di pulau jawa ditanggung sendiri oleh peserta. Kebingungan kembali menghampiri Padil, dia sangat sadar bahwa keuangan yang ada tidak akan cukup untuk membeli tiket pesawat dan lain-lainnya selama disana. Saat-saat seperti inilah peran keluarga tercinta sangat membantu dan pembuktian bahwa mereka sangat peduli dengan pendidikan Padil demi masa depannya, ketika diberitahu akan melakukan seleksi wawancara di Jogjakarta abang Padil segera bermusyawarah dengan keluarga terutama ayah bagaimana caranya agar terkumpul biaya untuk pergi. Akhirnya, tanpa berat hati karena demi pendidikan anaknya ayah Padil menjual sebidang tanah. Ketika diberitahu tentang hal ini Padil hanya bisa menangis haru, betapa pengorbanan keluarga terutama ayah dan abang saya untuk Padil, Kapan Padil bisa membalas semua ini, Padil berjanji dalam dirinya pengorbanan ini akan dibayar dengan kesuksesannya kelak. Amiiin
Sedikit lega, hasil wawancara selama satu jam di gedung UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dibayar tuntas dengan tiket kelulusan beasiswa. Tanpa sia-sia berangkat dari Kalimantan ke Jogjakarta menantang kejamnya kehidupan akhirnya dinyatakan LULUS. Sangat bermanfaat motivasi “Man Jadda Wa Jadda” dan “Man Shabara Zhafira” dan bekal slogan motivasi diri “datang jauh-jauh dari kalimantan buat apa kalau tidak LULUS”.

Bismillah,,, Thanks To Allah SWT.

1 comment: