Friday, October 16, 2015

LOBUR-CERITA RAKYAT NUSANTARA NANGA SOKAN

“LOBUR”
CERITA LEGENDA RAKYAT NANGA SOKAN
KABUPATEN MELAWI-KALIMANTAN BARAT
Oleh : Ahirul Habib Padilah



Nanga Sokan merupakan salah satu wilayah pedalaman di Kalimantan Barat atau lebih tepatnya berada di Kabupaten Melawi Kecamatan Sokan. Berada jauh di pedalaman Kalimantan Barat menyebabkan banyaknya kepercayaan mistis masyarakat di sana ditambah dengan keberagaman kejadian yang menurut kepercayaan masyarakat setempat sebagai akibat dari melanggar larangan atau pantangan yang bisa jadi berupa pantangan adat. Nilai-nilai kebudayaan, adat istiadat yang masih kuat dipertahankan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari membuat masyarakat Sokan boleh dikatakan unik.
Salah satu contohnya adalah kereja sama[1]sebagai representatif dari nilai kebudayaan dalam mengerjakan berbagai pekerjaan secara bersama-sama baik atas kepentingan bersama atau bahkan kepentingan individu yang kita tahu dimasa sekarang sangat susah ditemui terutama jika kita bandingkan dengan keadaan di kota yang cenderung apatis. Nilai budaya dan norma berjalan bersamaan tanpa adanya perbedaan yang membuat masyarakat sana memiliki keunikan sendiri dalam melakukan tindakan dan mengambil keputusan tertentu.

Namun, sadar tidak sadar secara alami dimasyarakat Sokan walau tidak ada peraturan adat tertulis dalam aturan melakukan kerjasama atau membantu tetangga yang sedang memiliki gawai mereka mematuhi semua kebiasaan tersebut dengan berlandaskan kekerabatan dan kebersamaan. Kekerabatan dan kebersamaan seolah menjadi kunci dalam proses berlangsungnya kehidupan mereka yang kaya akan adat istiadat.
“aah sungguh indah hidup di kampung yang semuanya sungguh masih natural jauh dari hiruk pikuk kota”
Pergi ke sawah atau ladang menjadi sebuah kesenangan anak-anak untuk membantu orangtuanya menggarap sawah atau hanya sekedar melepas penatnya berada di sekolah. Karena memang berada di sawah membuat pikiran tenang dan merasa nyaman ditemani hilir mudik angin sepoi-sepoi menyapu wajah dan badan sembari mendengarkan kicauan burung serta binatang lainnya yang beragam. Sawah di sana jauh berbeda dengan sawah di perkotaan yang kesemuanya dilakukan dengan alat canggih dan modern, sawah di sana sedikit banyak masih dilakukan secara alami membuat semakin terasanya suasana pedesaan yang memikat hati.
Nanga Sokan sendiri memiliki kekayaan sejarah yang sangat menarik, beberapa diantara masyarakat Sokan sendiri adalah keturunan Kerajaan Sokan dengan ciri khas berawalan Abang[2] Gusti dan Dayang. Lepas dari itu semua berdasarkan cerita para orangtua atau tetua yang merupakan keturunan raja, Nanga Sokan memiliki cerita yang sempat menggemparkan. Cerita ini bahkan tersebar ke desa sekitar karena memang mengandung unsur adat istiadat yang sangat kental yang berlaku dalam masyarakat disana.
Di Nanga Sokan terdapat danau yang memiliki kisah dibalik terciptanya danau tersebut tidak kalah menarik dengan cerita Danau Toba dan di tengah-tengah danau tersebut juga  terdapat bekas pondok atau rumah, namun bukan bekas rumah penduduk atau sebagainya hanya melainkan bekas pembangunan yang gagal karena berbagai cerita mistis dibalik asal mula munculnya danau. Danau itu bernama Danau Lobur, konon danau tersebut berasal dari pelanggaran salah satu masyarakat yang memiliki hobby berburu hewan terhadap pantangan masyarakat sekitar yang masih sangat kuat memegang kepercayaan adat istiadat nenek moyang mereka.





LOBUR

Di sebuah desa di wilayah Kalimantan Barat-Kabupaten Melawi hidup sekelompok masyarakat yang kaya akan adat istiadatnya. Mereka hidup dalam keseimbangan adat yang sangat kental dan harus dipatuhi. Mereka memnuhi kebutuhan sehari-hari dengan berladang, bersawah, menoreh getah dan kadang berburu hewan iar dalam hutan yang masih banyak.
Suatu hari penduduk desa Nanga Sokan mengadakan gawai nikahan salah satu penduduknya. Dalam aturan adat di Sokan ketika ada gawai seperti ini semua penduduknya harus pergi pongil[3]ikut merayakan gawai tersebut tanpa terkecuali. Pada waktu itu pongil merupakan adat mereka yang tidak boleh dilanggar.
Namun berbeda dengan Pak Kelok dan istrinya. Pak Kelok yang lebih memilih pergi ngipak[4] ke hutan dibandingkan pergi pongil, sedangkan istrinya lebih memilih berada dirumah menunggu suaminya pulang berburu.Senapang lantak[5] dan perbekalan berburu sudah disiapkan Pak Kelok, singkat cerita ketika matahari mulai meninggi diapun berangkat ngipak mengabaikan gawai yang sedang berlangsung.
Ditengah jalan berangkat ngipak Pak Kelok berlintas dengan penduduk lainnya yang pergi pongel, melihat Pak Kelok menenteng senapang lantak, penduduk pun bertanya ;
Penduduk :nak kemonai aba Kelok?” nadak pongil pai duan[6]?
Pak Kelok : “Kin am pongel, aku nak ngipak tuk[7]”;
Penduduk : “nadakkah kalau lagik begawai kita nak boleh ngipak ke rimak, pantangan ba[8]”;
Pak Kelok : “kalau aku angkat pongel paling aku dapat semangguk daging sapi am, kalau aku ngipak dapat sikuk kijank’ cukup ke’ dimakant serumah[9]”;
Sambil merengut si penduduk pun berlalu meninggalkan Pak Kelok, Pak Kelok pun melanjutkan perjalanan pergi menuju hutan yang masih asri dikampung tersebut tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sungai bomant’, sungai yang bermuara dihulu kampung Sokan yang melintasi pada bukit batu adalah yang menjadi tujuan ngipak pak Kelok. Menurut perhitungannya dibukit ini sangat besar kemungkinan dia akan bertemu dengan kijang dan hewan lainnya dikarenakan selain dilintasi sungai juga terdapat beberapa pohon buah yang biasa dimakan oleh hewan seperti kijang dan lainnya.
Menjelang siang, akhirnya pak Kelok tiba di tempat tujuannya berburu, sembari melepas lelah dia mencari tempat yang pas untuk bersembunyi guna mengintip ativitas hutan untuk mencari mangsanya yaitu hewan yang berkeliaran di bawah pohon. Sedangkan di kampung, menjelang siang adalah pada saat dimana para penduduk makan besar diiringi musik khas kampung menikmati gawai yang sedang berlangsung.
Samar-samar dirumah Pak Kelok, istrinya juga mendengar alunan musik penduduk yang sedang begawai, namun hatinya enggan bergabung karena tidak ada yang menemani sedangkan ibu-ibu lainnya pergi dengan suaminya. Dia berpikir lebih baik menanti suaminya dirumah dengan harapan membawa setidaknya satu ekor hewan hasil tangkapan ngipak sehingga dia dan suaminya bisa makan daging sepuasnya. Ketika matahari meninggi berada dipuncak singgasananya membuat bayangan semakin pendek istri Pak Kelok ahkhirnya tertidur pulas, sedikit banyak harapan sang suami mendapatkan hasil buruan sangat besar mempengaruhi pikirannya.

Dalam tidurnya dia bermimpi namun seperti benar-benar terjadi antara setengah sadar sang istri melihat suaminya sambil menenteng senapang lantak bertemu dengan kijang putih memiliki tanduk berkilau indah yang bahkan diapun baru kali ini melihatnya. Dia melihat suaminya juga merasa heran melihat kijang berwarna putih tersebut, namun keinginan menembak dan membawa pulang daging kijang tersebut lebih besar tanpa berpikir kenapa ada kijang berwarna putih, maka Pak Kelok mengendap-endap disemak sembari mengarahkan senapang lantaknya ke arah kijang putih tersebut yang terdengar hanya deru napasnya ditambah indahnya nyanyian penghuni hutan serta deru aliran sungai bomant Pak Kelok memicingkan mata dan tangannya siap menarik pelatuk senapangnya. Sebelum sempat suaminya menarik pelatuk, dalam mimpinya dia mendengar suara ledakan yang maha dahsyat diikuti ledakan senapang lantak suaminya, semenjak itu dalam mimpinya dia tidak bisa lagi melihat sang suami karena pada saat itu juga tanah longsor seketika dan menghambataliran sungai bomant.
Tiba-tiba sang istri terhenyak bangun dari tidur mendengar suara ledakan yang menggemparkan dirinya dan penduduk yang sedang begawai. Setengah sadar sang istri berlari kepintu masih samar-samar terdengar longsoran tanah meluluh lantahkan bukit batu, dia mencubit tangannya sendiri ; terasa sakit, berarti ini bukan mimpi. “Ya Allah apa yang terjadi” lirihnya dalam hati sembari menerka sebenarnya yang terjadi dan apa kaitannya dengan mimpinya yang memang sebenarnya adalah kejadian nyata. Cuaca yang awalnya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap, awan hitam menutupi kampung secara tiba-tiba membuat hati sang istri kian gelisah menanti suaminya pulang dari hutan.
Sementara penduduk yang begawai, menghentikan musik dan makan mereka serta mencari darimana sumber suara yang begitu dahsyat membuat tanah bergetar dan cuaca berubah.
“Tidak salah lagi ini suara itu bersumber dari bukit batu yang dilintasi sungai bombant di hulu sana”; teriak salah satu penduduk”;
Penduduk pun pulang pongelan dengan berbagai pertanyaan dalam benak mereka, sebenarnya apa yang terjadi?; sama halnya dengan salah satu penduduk yang sebelumnya ketemu dengan Pak Kelok dijalan ketika Pak Kelok pergi ngipak dan dia pergi pongil, dia mencoba menghubungkan kejadian tadi dengan Pak Kelok dan lebih menguatkan lagi anggapannya bahwa ini semua ada hubungan dengan Pak Kelok adalah sumber suara letusan tadi adalah bersumber dari hutan yang menjadi tujuan pak kelok ngipak. Namun, dia membuang jauh-jauh pikirannya, dan bergumam “semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan”.
Di perjalanan pulang penduduk menemukan hal yang janggal  ketika mereka melintasi jembatan diatas sungai bombant, sungai yang biasanya dipenuhi air layaknya sungai-sungai lainnya tiba-tiba mengering, yang mereka lihat hanya bekas didasar aliran sungai yang sudah kotis[10]. Mereka mencoba mengaitkan semua kejadian yang mereka alami mulai dari suara letusan, di hutan hulu sungai ini sampai mengeringnya sungai ini, sehingga membuat mereka penasaran.
Istri Pak Kelok sendiri di rumah gelisah tiada tara, berjalan kesana kemari. Ke dapur salah, duduk di ruang tamu juga salah, akhirnya dia memutuskan mencari tahu dengan pergi ke luar rumah dan menemui penduduk sekitar yang sedang berkumpul dan membicarakan keanehan yang sedang terjadi.

Melalui diskusi yang alot dan berdasarkan saran para tetua kampung dan tetua adat, mereka memutuskan pergi ke hutan hulu kampung guna mencari tahu penyebab suara letusan dan kenapa sungai bombant mengering, karena mereka tahu ada sebuah pelangaran yang terjadi yaitu ada salah satu penduduknya yang pergi ke hutan saat ada gawai berlangsung.Siapa lagi selain Pak Kelok. Para tetua adat manggut-manggut hampir tidak percaya setelah mendengar cerita istri Pak Kelok dan salah satu penduduk yang sempat berpapasan dengan Pak Kelok dijalan ketika akan pergi ngipak, tidak percaya akan adanya penduduk kampung Sokan yang berani melanggar setelah sekian lama pantangan tersebut mereka jalani, namun pada hari itu benar-benar terjadi. Selain mencari tahu penyebab suara dan sungai mengering mereka juga mencari tahu keberadaan Pak Kelok dengan harapan tidak terjadi apa-apa dengan Pak Kelok.
Ketika matahari mulai turun, menunjukkan bahwa sore akan segera tiba sebagian besar orang dewasa dan ibu-ibu pergi mencari tahu ke hulu kampung. Berbuyun-buyun mereka pergi dengan rasa penasaran di hati yang memuncak, sambil mempercepat langkah, sementara istri Pak Kelok juga ikut serta dalam rombongan penduduk yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tentu setelah mengumpulkan segenap tenaga karena menangis dan sempat pingsan beberapa saat karena sampai sore juga suaminya belum pulang. Sekarang penduduk Sokan yakin, bahwa semua kejadian ini ada hubungannya dengan Pak Kelok yang dianggap para tetua adat telah melanggar pantangan.
Setelah melewati jalan berlembah, mereka akhirnya tiba dihutan kaki bukit batu. Betapa terkejutnya mereka, sebagian beristiqfar melihat didepan mata kaki bukit batu yang mereka tahu adalah aliran sungai bombant serta dikelilingi pohon-pohon alami hutan kini berubah. Kelihatan hanya dataran air keruh kecoklatan serta akar-akar pohon tumbang yang tenggelam ditelan air, bukit batu kini hanya kelihatan tebing-tebing jurang tanah kuning bekas longsoran tanah. Serasa tidak percaya, namun terintas dalam benak mereka dimana Pak Kelok berada, keyakinan mereka kalau bisa ketemu dengan Pak Kelok mungkin mereka akan mendapatkan penjelasan runtut apa yang telah terjadi sehingga menyebabkan tanah bukit longsor dan menjadi layaknya danau.

Dengan sigap, penduduk berusaha menyisir pinggiran air  danau tersebut berusaha menemukan Pak Kelok yang berdasarkan cerita istrinya tadi pagi bahwa suaminya akan pergi berburu ke bukit batu. Namun, bukit batu sendiri telah longsor dan seolah tenggelam dalam sungai bomant yang secara nyata terpampang di depan mata telah berubah seperti sebuah pulau. Pikiran yang tidak-tidak merasuki istri Pak Kelok, sambil berteriak memanggil suaminya ia menangis bahkan pingsan. Setelah sekian jam waktu pencarian, matahari telah lama tenggelam dalam peraduannya, dingin kian menyengat kulit karena cuaca sangat buruk, kilat menyambar, gerimis pun turun semenjak tadi sore. Namun, mereka tetap tidak menemukan Pak Kelok sementara malam semakin larut. Para tetua berkumpul, bermusyawarah untuk mencari jalan keluar ditemani binatang hutan yang semakin keras suaranya terdengar ditelinga ditambah bau daunan segar sisa-sisa tumbangnya pohon-pohon besar.
Turut dalam musyawarah mereka adalah istri Pak Kelok, sebelum para tetua berbicara, mereka menyuruh istri Pak Kelok menceritakan apakah ada kejadian yang janggal ketika suaminya pergi ngipak. Dengan suara bergetar karena isak tangis ungkapan ketakutan, kesedihan tentang keberadaan suaminya istri Pak Kelok menceritakan semua kejadiannya sampai pada saat dimana dia bermimpi sebelum mendengar suara letusan. Setelah menyimak cerita istrinya Pak Kelok, para tetua terkejut, cerita dalam mimpi namun benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Hal ini membuat para tetua semakin meyakinkan bahwa ini merupakan bukan kejadian biasa, melainkan ada hubungannya dengan pantangan yang telah dilanggar. Para tetua pun menyuruh ibu-ibu yang lainnya membawa itri Pak Kelok pulang agar bisa menenagkan diri dan beristirahat karena cuaca sangat buruk. Tentu para tetua melanjutkan musyawarah mereka guna mengambil kesimpulan dengan fakta yang ada bahwa sebenarnya apa yang terjadi. Musyawarah tidak berlangsung lama karena mereka hanya cukup mengaitkan semua fakta dan cerita yang ada bahwa memang kampung mereka telah menerima akibat dari pelanggaran pantangan yaitu LOBUR. Lobur adalah anggapan masyarakat Sokan sebagai kiamat kecil yang mana hancur leburnya alam akibat ulah manusia dari melanggar peraturan adat yang biasa berlaku di Sokan. Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa ini merupakan akibat dari pelanggaran yang telah dilakukan. Dan mereka sepakat menamakan danau yang merupakan dulunya aliran sungai bombant dan longsoran bukit batu tersebut dengan nama DANAU LOBUR.
Setelah kejadian tersebut hari-hari berjalan dengan normal, tentu mereka lebih hati-hati dalam menjalankan apa yang menjadi pantangan adat atau pantangan kampung mereka. Namun, setelah beberapa hari ada salah satu penduduk yang bermimpi berkaitan dengan kejadian yang membuat Pak Kelok hilang serta tanah longsor menjadi sebuah danau, membuat dia harus menceritakan kepada penduduk dan para tetua.

Mimpi penduduk tersebut adalah tentang dimana dia bertemu dengan Pak Kelok yang telah menjelma menjadi seekor lelabi[11]dengan kepala sebesar ayak[12]dan badan sebesar layan[13], sedangkan senapang lantak Pak Kelok berubah menjadi ular yang besar. Bahkan konon katanya lelabi wujud dari Pak Kelok ini menurut penduduk Sokan masih sering nampak berjemur di tepian danau. Sedangkan ularnya sebagai wujud dari senapang lantak Pak Kelok masih sering berkeliaran baik dihutan maupun disungai dan bersarang di danau Lobur. Terjawab sudah lewat mimpi tersebut apa yang terjadi dengan Pak Kelok dan menjawab semua pertanyaan penduduk kemana Pak Kelok menghilang. Sedangkan istri Pak Kelok sendiri sedikit banyak sudah bisa menerima kejadian ini, dengan ikhlas dan mengambil hikmah dari kejadian ini dia selalu mendoakan suaminya dan tentu berharap hal serupa tidak terjadi lagi dengan penduduk lainnya.
Percaya tidak percaya danau lobur ini mengandung nilai mistis adalah dengan pembuktian ketika danau ini dituba[14]sama sekali tidak berpengaruh walau sudah puluhan kilogram tuba dimasukkan dalam danau Lobur ini, padahal ikan menurut penduduk Sokan sangat banyak didalam danau ini. Ini menjadi pelajaran besar dan berharga bagi masyarakat Sokan.
THANKS a LOT for NARASUMBER :
PAK ABANG TAPARUDIN
MARI SAMA-SAMA KITA LESTARIKAN CERITA-CERITA DARI PARA TETUA YANG BANYAK MENGANDUNG MAKNA AKAN NILAI BUDAYA DAN ADAT ISTIADAT
“DENGAN SEGALA KERENDAHAN HATI SAYA PERSEMBAHKAN TULISAN INI KEPADA MASYARAKAT NANGA SOKAN DAN SEMUA PEMBACA”

_____END_____






[1] Kerja sama atau gotong royong
[2] Nama penduduk yang masih memiliki keturunan raja disana
[3] Kondangan
[4] Berburu hewan liar dihutan
[5] Senapang dengan peluru rakitan sendiri
[6] Mau kemana Bg Kelok? Tidak pergi kondangankah abang?
[7] Kalianlah yang pongel, aku mau pergi berburu ini
[8] Bukankah kalau lagi ada acara nikahan, kita tidak boleh pergi ke hutan, pantangan bg
[9] Kalau aku pergi kondangan cuma dapat semangkok saja daging sapi, tapi kalau aku pergi berburu dapat seekor kijang cukup untuk dimakan satu rumah.
[10] Kering
[11] Labi-labi
[12] Alat untuk memisahkan beras dan biji padi
[13] Tikar ayaman dari daun
[14] Diracun 

No comments:

Post a Comment