“LOBUR”
CERITA LEGENDA RAKYAT NANGA SOKAN
KABUPATEN MELAWI-KALIMANTAN BARAT
Oleh : Ahirul Habib Padilah
Nanga Sokan merupakan salah satu
wilayah pedalaman di Kalimantan Barat atau lebih tepatnya berada di Kabupaten
Melawi Kecamatan Sokan. Berada jauh di pedalaman Kalimantan Barat
menyebabkan banyaknya kepercayaan mistis masyarakat di sana ditambah dengan keberagaman
kejadian yang menurut kepercayaan masyarakat setempat sebagai akibat dari melanggar
larangan atau pantangan yang bisa jadi berupa pantangan adat. Nilai-nilai
kebudayaan, adat istiadat yang masih kuat dipertahankan oleh masyarakat dalam
kehidupan sehari-hari membuat masyarakat Sokan boleh dikatakan unik.
Salah satu contohnya adalah kereja sama[1]sebagai
representatif dari nilai kebudayaan dalam mengerjakan berbagai pekerjaan secara
bersama-sama baik atas kepentingan bersama atau bahkan kepentingan individu
yang kita tahu dimasa sekarang sangat susah ditemui
terutama jika
kita bandingkan dengan keadaan di kota yang
cenderung apatis. Nilai budaya dan norma berjalan bersamaan tanpa adanya
perbedaan yang membuat masyarakat sana memiliki keunikan sendiri dalam
melakukan tindakan dan mengambil keputusan tertentu.
Namun, sadar tidak sadar secara alami
dimasyarakat Sokan walau tidak ada peraturan adat tertulis dalam aturan
melakukan kerjasama atau membantu tetangga yang sedang memiliki gawai mereka
mematuhi semua kebiasaan tersebut dengan berlandaskan kekerabatan dan
kebersamaan. Kekerabatan dan kebersamaan seolah menjadi kunci dalam proses
berlangsungnya kehidupan mereka yang kaya akan adat istiadat.
“aah sungguh indah hidup di kampung yang semuanya sungguh masih
natural jauh dari hiruk pikuk kota”
Pergi ke sawah atau ladang menjadi
sebuah kesenangan anak-anak untuk membantu orangtuanya menggarap sawah atau
hanya sekedar melepas penatnya berada di sekolah. Karena memang berada di sawah membuat pikiran tenang dan
merasa nyaman ditemani hilir mudik angin sepoi-sepoi menyapu wajah dan badan
sembari mendengarkan kicauan burung serta binatang lainnya yang beragam. Sawah
di sana jauh
berbeda dengan sawah di perkotaan yang kesemuanya dilakukan dengan alat canggih
dan modern, sawah di sana sedikit banyak masih dilakukan secara
alami membuat semakin terasanya suasana pedesaan yang memikat hati.
Nanga Sokan sendiri memiliki kekayaan
sejarah yang sangat menarik, beberapa diantara masyarakat Sokan sendiri adalah
keturunan Kerajaan Sokan dengan ciri khas berawalan Abang[2] Gusti dan Dayang. Lepas dari itu semua berdasarkan cerita para orangtua atau
tetua yang merupakan keturunan raja, Nanga Sokan memiliki cerita yang sempat
menggemparkan. Cerita ini bahkan tersebar ke desa sekitar karena memang
mengandung unsur adat istiadat yang sangat kental yang berlaku dalam masyarakat
disana.
Di
Nanga Sokan terdapat danau yang memiliki kisah dibalik terciptanya danau
tersebut tidak kalah menarik dengan cerita Danau Toba dan di tengah-tengah danau
tersebut juga terdapat bekas pondok atau
rumah, namun bukan bekas rumah penduduk atau sebagainya hanya melainkan bekas
pembangunan yang gagal karena berbagai cerita mistis dibalik asal mula
munculnya danau. Danau itu bernama Danau Lobur, konon danau tersebut berasal
dari pelanggaran salah satu masyarakat yang memiliki hobby berburu hewan terhadap
pantangan masyarakat sekitar yang masih sangat kuat memegang kepercayaan adat
istiadat nenek moyang mereka.
LOBUR
Di
sebuah desa di wilayah Kalimantan Barat-Kabupaten Melawi hidup sekelompok
masyarakat yang kaya akan adat istiadatnya. Mereka hidup dalam keseimbangan
adat yang sangat kental dan harus dipatuhi. Mereka memnuhi kebutuhan
sehari-hari dengan berladang, bersawah, menoreh getah dan kadang berburu hewan
iar dalam hutan yang masih banyak.
Suatu
hari penduduk desa Nanga Sokan mengadakan gawai nikahan salah satu penduduknya.
Dalam aturan adat di Sokan ketika ada gawai seperti ini semua penduduknya harus
pergi pongil[3]ikut
merayakan gawai tersebut tanpa terkecuali. Pada waktu itu pongil merupakan adat mereka yang tidak boleh
dilanggar.
Namun
berbeda dengan Pak Kelok dan istrinya. Pak Kelok yang
lebih memilih pergi ngipak[4] ke hutan dibandingkan pergi pongil, sedangkan
istrinya lebih memilih berada dirumah menunggu suaminya pulang berburu.Senapang lantak[5] dan perbekalan berburu sudah disiapkan Pak
Kelok, singkat cerita ketika matahari mulai meninggi diapun berangkat ngipak mengabaikan gawai yang sedang
berlangsung.
Ditengah
jalan berangkat ngipak Pak Kelok
berlintas dengan penduduk lainnya yang pergi pongel, melihat Pak Kelok menenteng senapang lantak, penduduk pun bertanya ;
Pak Kelok : “Kin am pongel,
aku nak ngipak tuk[7]”;
Penduduk : “nadakkah
kalau lagik begawai kita nak boleh ngipak ke rimak, pantangan ba[8]”;
Pak Kelok : “kalau
aku angkat pongel paling aku dapat semangguk daging sapi am, kalau aku ngipak dapat sikuk kijank’
cukup ke’ dimakant serumah[9]”;
Sambil
merengut si penduduk pun berlalu meninggalkan Pak Kelok, Pak Kelok pun
melanjutkan perjalanan pergi menuju hutan yang masih asri dikampung tersebut
tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sungai bomant’, sungai yang bermuara dihulu kampung
Sokan yang melintasi pada bukit batu adalah yang menjadi tujuan ngipak pak
Kelok. Menurut perhitungannya dibukit ini sangat besar kemungkinan dia akan bertemu
dengan kijang dan hewan lainnya dikarenakan selain dilintasi sungai juga
terdapat beberapa pohon buah yang biasa dimakan oleh hewan seperti kijang dan
lainnya.
Menjelang
siang, akhirnya pak Kelok tiba di tempat tujuannya berburu, sembari melepas lelah dia
mencari tempat yang pas untuk bersembunyi guna mengintip ativitas hutan untuk
mencari mangsanya yaitu hewan yang berkeliaran di bawah pohon. Sedangkan di kampung, menjelang
siang adalah pada saat dimana para penduduk makan besar diiringi musik khas kampung
menikmati gawai yang sedang berlangsung.
Samar-samar
dirumah Pak Kelok, istrinya juga mendengar alunan musik penduduk yang sedang
begawai, namun hatinya enggan bergabung karena tidak ada yang menemani
sedangkan ibu-ibu lainnya pergi dengan suaminya. Dia berpikir lebih baik
menanti suaminya dirumah dengan harapan membawa setidaknya satu ekor hewan hasil
tangkapan ngipak sehingga dia dan suaminya bisa makan daging sepuasnya. Ketika
matahari meninggi berada dipuncak singgasananya membuat bayangan semakin pendek
istri Pak Kelok ahkhirnya tertidur pulas, sedikit banyak harapan sang suami
mendapatkan hasil buruan sangat besar mempengaruhi pikirannya.
Dalam
tidurnya dia bermimpi namun seperti benar-benar terjadi antara setengah sadar
sang istri melihat suaminya sambil menenteng senapang lantak bertemu dengan kijang putih memiliki tanduk
berkilau indah yang bahkan diapun baru kali ini melihatnya. Dia melihat
suaminya juga merasa heran melihat kijang berwarna putih tersebut, namun keinginan
menembak dan membawa pulang daging kijang tersebut lebih besar tanpa berpikir
kenapa ada kijang berwarna putih, maka Pak Kelok mengendap-endap disemak
sembari mengarahkan senapang lantaknya ke arah kijang putih tersebut yang
terdengar hanya deru napasnya ditambah indahnya nyanyian penghuni hutan serta
deru aliran sungai bomant Pak Kelok memicingkan mata dan tangannya siap menarik
pelatuk senapangnya. Sebelum sempat suaminya menarik pelatuk, dalam mimpinya
dia mendengar suara ledakan yang maha dahsyat diikuti ledakan senapang lantak
suaminya, semenjak itu dalam mimpinya dia tidak bisa lagi melihat sang suami
karena pada saat
itu juga tanah longsor seketika dan menghambataliran sungai
bomant.
Tiba-tiba
sang istri terhenyak bangun dari tidur mendengar suara ledakan yang
menggemparkan dirinya dan penduduk yang sedang begawai. Setengah sadar sang
istri berlari kepintu masih samar-samar terdengar longsoran tanah meluluh
lantahkan bukit batu, dia mencubit tangannya sendiri ; terasa sakit, berarti
ini bukan mimpi. “Ya Allah apa yang
terjadi” lirihnya dalam hati sembari menerka sebenarnya yang terjadi dan
apa kaitannya dengan mimpinya yang memang sebenarnya adalah kejadian nyata.
Cuaca yang awalnya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap, awan hitam menutupi
kampung secara tiba-tiba membuat hati sang istri kian gelisah menanti suaminya
pulang dari hutan.
Sementara
penduduk yang begawai, menghentikan musik dan makan mereka serta mencari
darimana sumber suara yang begitu dahsyat membuat tanah bergetar dan cuaca
berubah.
“Tidak salah lagi ini suara itu bersumber dari bukit
batu yang dilintasi sungai bombant di hulu sana”;
teriak salah satu penduduk”;
Penduduk pun pulang pongelan dengan berbagai pertanyaan dalam benak mereka, sebenarnya apa yang terjadi?; sama
halnya dengan salah satu penduduk yang sebelumnya ketemu dengan Pak Kelok
dijalan ketika Pak Kelok pergi ngipak
dan dia pergi pongil,
dia mencoba menghubungkan kejadian tadi dengan Pak Kelok dan lebih menguatkan
lagi anggapannya bahwa ini semua ada hubungan dengan Pak Kelok adalah sumber
suara letusan tadi adalah bersumber dari hutan yang menjadi tujuan pak kelok ngipak. Namun, dia membuang jauh-jauh
pikirannya, dan bergumam “semoga tidak
terjadi hal yang tidak diinginkan”.
Di perjalanan pulang penduduk menemukan hal yang
janggal ketika mereka melintasi jembatan
diatas sungai bombant, sungai yang biasanya dipenuhi air layaknya sungai-sungai
lainnya tiba-tiba mengering, yang mereka lihat hanya bekas didasar aliran
sungai yang sudah kotis[10].
Mereka mencoba mengaitkan semua kejadian yang mereka alami mulai dari suara
letusan, di hutan hulu sungai ini sampai mengeringnya sungai ini, sehingga
membuat mereka penasaran.
Istri Pak Kelok sendiri di rumah gelisah tiada
tara, berjalan kesana kemari. Ke dapur salah, duduk di ruang tamu juga
salah, akhirnya dia memutuskan mencari tahu dengan pergi ke luar rumah dan
menemui penduduk sekitar yang sedang berkumpul dan membicarakan keanehan yang
sedang terjadi.
Melalui diskusi yang alot dan berdasarkan saran para
tetua kampung dan tetua adat, mereka memutuskan pergi ke hutan hulu kampung
guna mencari tahu penyebab suara letusan dan kenapa sungai bombant mengering,
karena mereka tahu ada sebuah pelangaran yang terjadi yaitu ada salah satu
penduduknya yang pergi ke hutan saat ada gawai berlangsung.Siapa lagi selain
Pak Kelok. Para tetua adat manggut-manggut hampir tidak percaya setelah
mendengar cerita istri Pak Kelok dan salah satu penduduk yang sempat berpapasan
dengan Pak Kelok dijalan ketika akan pergi ngipak,
tidak percaya akan adanya penduduk kampung Sokan yang berani melanggar
setelah sekian lama pantangan tersebut mereka jalani, namun pada hari itu
benar-benar terjadi. Selain mencari tahu penyebab suara dan sungai mengering
mereka juga mencari tahu keberadaan Pak Kelok dengan harapan tidak terjadi
apa-apa dengan Pak Kelok.
Ketika matahari mulai turun, menunjukkan bahwa sore akan segera
tiba sebagian besar orang dewasa dan ibu-ibu pergi mencari tahu ke hulu
kampung. Berbuyun-buyun mereka pergi dengan rasa penasaran di hati yang memuncak,
sambil mempercepat langkah, sementara istri Pak Kelok juga ikut serta dalam
rombongan penduduk yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tentu setelah
mengumpulkan segenap tenaga karena menangis dan sempat pingsan beberapa saat
karena sampai sore juga suaminya belum pulang. Sekarang penduduk Sokan yakin,
bahwa semua kejadian ini ada hubungannya dengan Pak Kelok yang dianggap para
tetua adat telah melanggar pantangan.
Setelah
melewati jalan berlembah, mereka akhirnya tiba dihutan kaki bukit batu. Betapa
terkejutnya mereka, sebagian beristiqfar melihat didepan mata kaki bukit batu
yang mereka tahu adalah aliran sungai bombant serta dikelilingi pohon-pohon
alami hutan kini berubah. Kelihatan hanya dataran air keruh kecoklatan serta
akar-akar pohon tumbang yang tenggelam ditelan air, bukit batu kini hanya
kelihatan tebing-tebing jurang tanah kuning bekas longsoran tanah. Serasa tidak
percaya, namun terintas dalam benak mereka dimana Pak Kelok berada, keyakinan
mereka kalau bisa ketemu dengan Pak Kelok mungkin mereka akan mendapatkan
penjelasan runtut apa yang telah terjadi sehingga menyebabkan tanah bukit
longsor dan menjadi layaknya danau.
Dengan
sigap, penduduk berusaha menyisir pinggiran air danau tersebut berusaha menemukan Pak Kelok
yang berdasarkan cerita istrinya tadi pagi bahwa suaminya akan pergi berburu ke
bukit batu. Namun, bukit batu sendiri telah longsor dan seolah tenggelam dalam
sungai bomant yang secara nyata terpampang di depan mata telah berubah seperti sebuah pulau. Pikiran
yang tidak-tidak merasuki istri Pak Kelok, sambil berteriak memanggil suaminya
ia menangis bahkan pingsan. Setelah sekian jam waktu pencarian, matahari telah
lama tenggelam dalam peraduannya, dingin kian menyengat kulit karena cuaca
sangat buruk, kilat menyambar, gerimis pun turun semenjak tadi sore. Namun, mereka
tetap tidak menemukan Pak Kelok sementara malam semakin larut. Para tetua
berkumpul, bermusyawarah untuk mencari jalan keluar ditemani binatang hutan yang
semakin keras suaranya terdengar ditelinga ditambah bau daunan segar sisa-sisa
tumbangnya pohon-pohon besar.
Turut
dalam musyawarah mereka adalah istri Pak Kelok, sebelum para tetua berbicara,
mereka menyuruh istri Pak Kelok menceritakan apakah ada kejadian yang janggal
ketika suaminya pergi ngipak. Dengan suara bergetar karena isak tangis ungkapan
ketakutan, kesedihan tentang keberadaan suaminya istri Pak Kelok menceritakan
semua kejadiannya sampai pada saat dimana dia bermimpi sebelum mendengar suara
letusan. Setelah menyimak cerita istrinya Pak Kelok, para tetua terkejut,
cerita dalam mimpi namun benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Hal ini
membuat para tetua semakin meyakinkan bahwa ini merupakan bukan kejadian biasa,
melainkan ada hubungannya dengan pantangan yang telah dilanggar. Para tetua pun
menyuruh ibu-ibu yang lainnya membawa itri Pak Kelok pulang agar bisa
menenagkan diri dan beristirahat karena cuaca sangat buruk. Tentu para tetua
melanjutkan musyawarah mereka guna mengambil kesimpulan dengan fakta yang ada
bahwa sebenarnya apa yang terjadi. Musyawarah tidak berlangsung lama karena
mereka hanya cukup mengaitkan semua fakta dan cerita yang ada bahwa memang
kampung mereka telah menerima akibat dari pelanggaran pantangan yaitu LOBUR. Lobur
adalah anggapan masyarakat Sokan sebagai kiamat kecil yang mana hancur leburnya
alam akibat ulah manusia dari melanggar peraturan adat yang biasa berlaku di
Sokan. Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan
menyampaikan kepada masyarakat bahwa ini merupakan akibat dari pelanggaran yang
telah dilakukan. Dan mereka sepakat menamakan danau yang merupakan dulunya
aliran sungai bombant dan longsoran bukit batu tersebut dengan nama DANAU
LOBUR.
Setelah
kejadian tersebut hari-hari berjalan dengan normal, tentu mereka lebih
hati-hati dalam menjalankan apa yang menjadi pantangan adat atau pantangan kampung
mereka. Namun, setelah beberapa hari ada salah satu penduduk yang bermimpi
berkaitan dengan kejadian yang membuat Pak Kelok hilang serta tanah longsor
menjadi sebuah danau, membuat dia harus menceritakan kepada penduduk dan para
tetua.
Mimpi
penduduk tersebut adalah tentang dimana dia bertemu dengan Pak Kelok yang telah
menjelma menjadi seekor lelabi[11]dengan
kepala sebesar ayak[12]dan
badan sebesar layan[13],
sedangkan senapang lantak Pak Kelok berubah menjadi ular yang besar. Bahkan
konon katanya lelabi wujud dari Pak Kelok ini menurut penduduk Sokan masih
sering nampak berjemur
di tepian danau. Sedangkan ularnya sebagai wujud
dari senapang lantak Pak Kelok masih sering berkeliaran baik dihutan maupun
disungai dan bersarang di danau Lobur. Terjawab sudah lewat mimpi tersebut apa
yang terjadi dengan Pak Kelok dan menjawab semua pertanyaan penduduk kemana Pak
Kelok menghilang. Sedangkan istri Pak Kelok sendiri sedikit banyak sudah bisa
menerima kejadian ini, dengan ikhlas dan mengambil hikmah dari kejadian ini dia
selalu mendoakan suaminya dan tentu berharap hal serupa tidak terjadi lagi
dengan penduduk lainnya.
Percaya
tidak percaya danau lobur ini mengandung nilai mistis adalah dengan pembuktian
ketika danau ini dituba[14]sama
sekali tidak berpengaruh walau sudah puluhan kilogram tuba dimasukkan dalam danau Lobur ini, padahal ikan menurut
penduduk Sokan sangat banyak didalam danau ini. Ini menjadi pelajaran besar dan
berharga bagi masyarakat Sokan.
THANKS a LOT for NARASUMBER
:
PAK ABANG TAPARUDIN
MARI SAMA-SAMA KITA LESTARIKAN
CERITA-CERITA DARI PARA TETUA YANG BANYAK MENGANDUNG MAKNA AKAN NILAI BUDAYA
DAN ADAT ISTIADAT
“DENGAN SEGALA KERENDAHAN HATI SAYA PERSEMBAHKAN TULISAN INI KEPADA
MASYARAKAT NANGA SOKAN DAN SEMUA PEMBACA”
_____END_____
[1] Kerja
sama atau gotong royong
[2] Nama penduduk yang masih memiliki
keturunan raja disana
[3] Kondangan
[5] Senapang
dengan peluru rakitan sendiri
[6] Mau
kemana Bg Kelok? Tidak pergi kondangankah abang?
[7]
Kalianlah yang pongel, aku mau pergi berburu ini
[8] Bukankah
kalau lagi ada acara nikahan, kita tidak boleh pergi ke hutan, pantangan bg
[9] Kalau
aku pergi kondangan cuma dapat semangkok saja daging sapi, tapi kalau aku pergi
berburu dapat seekor kijang cukup untuk dimakan satu rumah.
[10] Kering
[11]
Labi-labi
[12] Alat untuk memisahkan beras
dan biji padi
[13] Tikar ayaman dari daun
[14] Diracun

No comments:
Post a Comment