Friday, July 3, 2015

CATATAN HATI SEORANG ANAK PETANI

Perjalanan ke Jatinangor, 23 Juni 2015


Perjalanan panjangku tak akan pernah berakhir pada titik ini, selama napas ini masih berhembus, kaki ini masih harus terus melangkah, mata ini harus terus menatap tajam mencari peluang kehidupan yang sesungguhnya. Aku lahir dengan suasana kehidupan yang keras, sedikit banyak mempengaruhi jiwa ini agar tidak mudah menyerah pada keadaan bagaimanapun.
Yang terpenting aku harus selalu sadar, aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa dan bukan anak pejabat yang sok banyak gaya dengan bangga memamerkan harta orang tua yang kalau dia sadar itu hanya sebuah titipan sementara.
“kehidupan sesungguhnya akan segera menyambutmu nak, bila kau terus berpoya-poya dengan harta orang tua dan kuliah kau sia-siakan bagaimana nasib keluargamu kelak”
 Aku hanya anak petani dipedalaman sana, pedalaman yang terlupa bahkan hampir tidak masuk peta. Walau begitu aku selalu bangga walau makan seadanya, walau hidup hanya bertemankan sepi. 
Aku bukan anak manja yang digigit semut saja mengadu dan minta dibelai manja, beban dipundak ini adalah apa yang menjadi beban orang tua juga menjadi beban kami walau usia masih dini.  Beban derita kami rasa sejak awal mata membuka dan melihat dunia, bahkan seolah menjadi teman nyata kami dalam menjalani hari-hari para anak petani.  Bila guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa walau dengan gaji yang membuat dia sejahtera, lalu petani berhakkah menjadi pahlawan sumber kehidupan bangsa?
“Ahhh sudahlah lupakan”
Terlalu banyak yang terjadi dalam hidupku, aku selalu berada dipersimpangan, persimpangan yang menentukan takdir hidupku. Kadang aku dalam kebingungan, dari persimpangan yang aku temui aku harus memilih simpang mana yang akan aku lewati untuk mencapai tujuan akan arti hidupku yang sesungguhnya. Kadang aku sadar, hidup ini terlalu singkat untuk aku memikirkan persimpangan mana yang akan aku ambil, banyak waktu terbuang menandakan kian sempitnya waktu untuk aku terus berjalan dan menentukan pilihan. Kadang aku ingin beristirahat sejenak melepas lelah di persimpangan, duduk menikmati pemandangan didepan dengan jutaan persimpangan sambil berharap mendapat hidayah simpang mana yang akan mengantarku ke jalan, jalan yang di nanti banyak orang, jalan yang aku berharap diujung sana ada tangan halus dan lembut menyambut kedatanganku dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Aku terlalu lelah jika aku menemui jalan yang diujung sana aku selalu tak dianggap. Aku telah banyak melalui beban derita yang seakan sungkan lepas dari hidup nyata ini.

Bandung, 27 Juni 2015
Kala aku merasa sendiri dan terasingkan
Bang Padil



No comments:

Post a Comment