Hi Blogger apa kabar ni?
baru sempat posting lagi ni ceritanya..
sibuk kuliah dan prepar ujian..
selamat malam yaaa
salam sahabat dari POJOK...
Selamat bekerja matanya.. hihihi
SEDEKAHLAH SELAGI BISA !!!
“KAKEK PERLU BENSIN”
Oleh : Ahirul Habib Padilah
(Bg Padil)
Seperti
lumrahnya mahasiswa/i lainya ketika selesai kelas pergi ke kantin dan taman di
sekitaran kampus kali ini saya dan teman-teman pergi ke taman yang berada
dibawah pohon dekat kampus, menikmati alam terbuka menurut kami lebih tepat.
Nampak bersih, asri dan nyaman untuk sekedar melepas lelah dan penat seusai
kuliah sembari menikmati es kelapa atau siomay yang berjualan tak jauh dari
pagar kampusku dekat jalan raya. Sembari minum es kelapa yang begitu nikmat
tatkala matahari menyinari bumi dengan teriknya, apalagi minum sambil duduk
dikursi dibawah pohon yang rindang ditambah angin sepoi-sepoi membelai rambut
dan naluri, kami bersenda gurau kadang tertawa dengan topik bahasan teman yang
kadang membuat tertawa ria. Dengan semangat saya memamerkan handphone keluaran
terbaru Nokia X2 Xpress Music yang baru saya beli dengan harga diatas satu juta
kepada teman-teman. Lalu dengan semangat mereka mencoba hasil jepretan kamera
Nokia tersebut yang berkekuatan 5MP kala itu sudah diatas rata-rata.
Namun,
ditengah-tengah tawa kami yang sedang bersantai menikmati waktu istirahat dari
lelah dan penatnya kuliah dan foto-foto. Datang seorang kakek yang sudah sangat
tua dengan pakaian lusuh, baju compang camping dengan bekas tambalan dan
jahitan dimana-mana, celana pendek yang telah nampak kumal dan kotor,
menggunakan topi berwarna biru, sendal jepit serta tangannya yang sudah tidak kekar lagi
mendorong sepeda motor Astrea putih bututnya. Dengan muka memelas si kakek
menyapa kami yang tengah asyik menikmati minuman :
“Assalammualaikum Nak, Bapak
kehabisan bensin; apakah anak ada uang Rp. 5000 untuk bapak isi bensin?” (dulu bensin di SPBU masih Rp. 4500/liter)
Kami
dengan berjuta ekspresi dan penuh kecurigaan langsung mengira bapak ini adalah
tukang minta-minta dengan alasan-alasan seperti ini. Acuh tak acuh kami dengan
teganya menjawab :
“nggak ada pak, kami mahasiswa yang
uang perbulannya aja masih minta sama orangtua”
Seusai
menjawab demikian kami berkemas dan meninggalkan kakek tersebut dalam
kebingungan dan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Padahal tidak banyak
yang kakek tersebut minta hanya Rp. 5000 yang untuk isi ulang pusa saja tidak
cukup. Kebetulan kost saya hanya berjarak 3 menit dari kampus tempat saya
kuliah. Namun apa yang saya rasakan ketika nyampai di kost, saya merasa ada
sesuatu yang janggal dan salah dalam diri saya membiarkan seorang kakek tua
dengan sepeda motor bututnya ditengah panas terik mentari disiang ini. Tanpa
pikir panjang, saya mencari botol guna diisi langsung dengan bensin yang saya dapatkan
dieceran pinggir jalan dan mencari kakek tua tersebut di taman tempat saya dan
teman-teman duduk bersantai tadi. Namun sekian menit berlalu, menoleh kekiri
dan kekanan saya sama sekali tidak melihat sang kakek. Tidak putus asa saya
mencari di ruas jalan yang kemungkinan kakek lewati. Namun setelah detik, menit
bahkan jam berlalu saya tidak menemukan sang kakek dengan motornya.
Saya
pikir mungkin sudah ada yang membantu atau memang sang kakek adalah kiriman
Tuhan menguji niat sedekah kami mahasiswa yang tingkat keegoisannya sangat
tinggi, dalam logika saya bila tidak ada yang membantu sang kakek maka dia
dalam waktu kurang dari 6 menit (saya
pulang ke kost dan mencari botol serta mengisi bensin ke dalam botol) maka
radius ketika kakek pergi dari taman tersebut tidak lebih dari 50m. Namun
ketika saya cari dalam radius yang lebih dari 50m kakek sudah tidak bisa saya
temukan. Sambil jalan pulang saya berpikir mungkin ini adalah ladang pahala
dari Allah yang saya lewati begitu saja tanpa saya panen kebaikan dan
manfaatnya, satu lagi titik hitam yang entah seberapa besar dihati ini
tergores.
Keesokan
harinya saya mengikuti sebuah seminar ilmiah yang dihadiri kebanyakan mahasiswa
dari berbagai fakultas digedung Rektorat tempat saya kuliah dulu. Seminar diadaan
tepat direktorrat lantai 3 (tiga) yang memiliki kapasitas ruangan sampai
ratusan orang, namun peserta yang hadir tidak sampai memenuhi ruangan rektorat
ini. Disebelah pojok luar ruangan utama lantai 3 gedung rektorat ini memiliki
sebuah ruangan kecil yang oleh pihak universitas dijadikan sebagai mushola atau
tempat ibadah umat Islam layaknya masjid. Seminar yang diadakan kebetuan dari
pagi sampai sore, maka dari itu ketika waktu adzan sholat dzuhur tiba kami
dalam ruangan segera keluar untuk melaksanakan sholat sekaligus istirahat makan
siang (ISHOMA). Disinilah letak inti ceritanya, ketika saya akan sholat saya
meninggakan Handphone yang baru beberapa minggu saya beli dalam laci meja, saya
tinggal sholat dan antri mengambil makan.
Dalam
waktu kurang dari 15 menit saya sudah kembali ke meja tempat saya duduk dalam
ruangan. Setelah menikmati makan siang saya mengambil handphone dalam laci meja
yang saya tinggalkan tadi, tangan saya meraba dalam laci namun sama sekali
tidak saya temukan, saya raba lagi keseluruhan laci namun hasilnya tetap sama
tidak menemukan handphone tersebut. Belum puas dengan diraba pakai tangan saya
jongkok mengintip kedalam laci meja yang saya lihat hanya ruangan hampa tanpa
ada apa-apa. Kepanikan menghampiri saya, kalut dan kacau pikiran membuat saya
menghabiskan waktu istirahat dengan bertanya kesana kemari apakah ada yang
melihat handphone saya, semua sudah saya periksa saku baju, saku celana, tas
sampai saya keluarkan semua isinya namun tetap tidak ada handphone tersebut.
Lelah,
lemah dan lesu saya terduduk, ditengah-tengah kekalutan saya tersebut tiba-tiba
pikiran saya terfokus dan teringat pada satu hal yaitu sang kakek yang
membutuhkan bensin kemaren. Saya tidak tahu pasti, kenapa tiba-tiba pikiran
saya terarah untuk mengingat sang kakek yang kelelahan mendorong motor sebagai
akibat dari keegoisan kami yang pelit berbagi walau sedikit saja dari bagian
uang jajan kami. Sekarang apa yang saya rasakan, secara tiba-tiba saya merasa
di hati ini ikhlas akan kehilangan handphone tersebut dan menyesali kenapa saya
kemaren didetik-detik sang kakek meminta bantuan hati ini sama sekali tidak
tergerak membantunya. Mungkin dari teman-teman yang lain sayalah paling merasa
bersalah karena saya yang menjawab ketika kakek tersebut meminta bantuan dengan
jawaban yang tentu membuat kakek tersebut putus asa. Saya pikir inilah peljaran
dari Tuhan yang sangat berarti dalam hidup saya mengenai keajabiban sedekah.
Mengambil
hikmah dari cerita diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ketika datang
kesempatan untuk bersedekah jangan sia-siakan, ambil kesempatan tersebut.
Memang sebenarnya masalah sedekah bukan hanya menunggu kesempatan datang,
kapanpun kita bisa sedekah. Kadang-kadang ketika kesempatan itu datang kita
tidak menyadarinya, mungkin hanya masalah persoalan hati bagaimana kita
menyadari hal yang semu. Hati yang bersih tidak akan melewati kesempatan emas.
____________________SEKIAN____________________
TERIMA KASIH TELAH MAMPIR MEMBACA
SEMOGA HAL YANG SAMA TIDAK TERJADI PADA KITA
DAN SEMOGA MENDAPATKAN HIKMAH DARI CERITA DIATAS
____________________AMIIIIN____________________
SALAM
BANDUNG, 20 MEI 2015
PENULIS
No comments:
Post a Comment