Hari ini adalah hari kelahiranku, kala mataku terbuka melihat keindahan dunia, kakiku merah tanganku tergenggam. Orang-orang disekitarku tertawa bahagia, sekelumit doa mereka peruntukkan diriku yang belum mengerti apa-apa agar kelak menjadi anak sholeh yg berguna bagi keluarga, bangsa, negara serta Agama.
Bila kita ingat bahwa pada hari menjelang aku dilahirkan, sang ibu sakit dan menderita serta meregang nyawa. Menangis, menjerit dan meronta-ronta. Tak lupa pula disertai erangan rintihan, lontaran keluh dan cucuran peluh, serta tetesan darah. Mata berkaca-kaca dan mulut berkomat-komit dari bibir tipis ibunda. Memanjatkan seonggok doa yang terpatah-patah. Memohon pada Sang Maha Hidup, agar diri kita hadir ke dunia fana ini dengan selamat dan tak kurang apa-apa.
Perkenankan di hari kelahiran ini, aku mengenang akan sosok ibundaku, yang kini telah genap 8 tahun 8 hari kepergiannya dalam pangkuan Illahi. Aku ingin mengenangkan akan kebaikan dan kasih sayangnya nan tulus dan tiada bertepi itu. Mengandung diriku kurang lebih 9 bulan dalam rahim dengan limpahan segenap cintanya. Membelai dan mengelus-elus perut sembari mengajak diriku berbicara walau ia tau diriku masih bisu. soal itu aku tidak mengingat, namun samar-samar sentuhan jari jemari di perut ibu itu karena jalinan ikatan batin, masih terasa hangat dan lembut di lubuk kalbu.
Oleh karena semua itu, di hari peringatan kelahiranku ini, telah kukirim secarik doa pada-Nya. Menghaturkan ucapan lirih terima kasih, akan perjuangan ibunda di kala diriku masih dalam rahim dan sampai hari ini. Yang telah mengajariku mengucapkan dari mulai sepatah kata hingga beratus-ratus kata. Membimbing dan mendidik di kala kecil tentang makna akan keberadaan dan kehadiran diriku di dunia, menjagaku, menasehatiku dan berjuang penuh peluh demi membesarkanku.
Kupejamkan mata sejenak, mengingat hari-hari yang telah lampau dan kita lalui. Sahabat dan saudara datang dan pergi silih berganti. Suka dan duka telah kukecap, serta sepenggal pengalaman hidup kureguk bersamamu bunda. Keberhasilan pernah diraih, namun kegagalan juga tak kuasa kutolak. Kesemuanya terkenang-kenang, akan menjadi serpihan-serpihan ornamen dan cerita indah di bingkai langit pikiranku.
Mengenang itu, sepantasnya pula daku hari ini menundukkan kepala. Bersimpuh dan sujud kepada Sang Pencipta yang maha segala-galanya, akan nikmat dan karunia serta berkah akan kehadiranku didunia ini.
Pada hari ini, dari tiap-tiap tahun dan bulan terlewati sampailah pada hari ini, hari dimana aku menangis akan indahnya dunia, yang pada saat ini aku bertanya-tanya ; untuk apa aku hadir didunia ini?,; apakah diriku telah membawa manfaat ke masyarakat atau setidaknya keluarga kecil di dukuh sana?; sebagian telah kujawab sendiri tanpa tahu makna pasti akan esensi fakta dari semua kata-kata yang belum terwakili secara nyata.
***
Telah kugoreskan di awal tulisan sebaris untaian kata, “Tatkala lahir, diriku menangis sedangkan orang-orang disekelilingku tersenyum dan tertawa bahagia.” Pada saatnya nanti, “Ketika ajal menjemput, ingin diriku menyunggingkan senyum dan tawa bahagia. Sementara, orang-orang disekelilingku meneteskan air mata.“
Bukan air mata lantaran kesedihan semata-mata akan kepergianku saat ruh berpisah dari raga yang fana berlumur dosa ini. Namun air mata untuk mengingat dan mengenang, sedikit saja akan kebaikan selama aku bernafas didunia ini. Yang pernah kutorehkan, di hari-hari singkat namun serasa panjang pada hidup dan kehidupanku.
Jika kelahiran merupakan awal keberangkatan, maka kematian adalah akhir kepulangannya. Batas-batas diantara keduanya tipis; setipis embun dikaca. Lantaran itu, kala hari kelahiran tiba dan mengingatkannya, sudah sepantasnya pula kita mengingat akan hari kematian. Socrates pernah menyatakan, “Ketika aku meneliti rahasia kehidupan ketemukan maut, dan ketika kutemukan maut kutemukan sesudahnya kehidupan abadi. Karena itu kita harus prihatin dengan kehidupan dan bergembira dengan kematian karena kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.” hidup dalam keabadian yang sesungguhnya. Dengan mengingat pula kematian yang kadang datang tiba-tiba itu, maka saya kembali bertanya di usia yang ke 23 tahun ini : sudahkah diri ini berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa, bangsa dan agama....
Kala Usia Makin TUA
Bandung, 12 Mei 2015
Perjalanan Panjang....
12 Mei 1992 - 12 Mei 2015
No comments:
Post a Comment