Bagaimana mungkin Indonesia yang
memiliki kekayaan alam, sumber daya manusia yang hebat, ragam budaya yang
melimpah bisa terpuruk seperti ini ? bagaimana mungkin program –program
pembangunan lima tahunan yang menguras sumber daya alam, tenaga berjuta-juta petani
dan buruh, sampai-sampai mengadaikan generasi lewat utang luar negeri dan
lelang berbagai aset BUMN yang bermuara pada kebangkrutan negara ini ? Aksi
“reformasi” oleh para aktivis mahasiswa yang pernah kita banggakan menggeser
kekuasaan 32 tahun pada tahun 1998 dengan tawaran sejumlah harapan, namun
ternyata tidak kunjung membawa hasil yang signifikan dari harapan tersebut di
hari ini. keadaan semakin buruk bahkan semakin parah dengan pukulan keras dari
berbagai sudut dan faktor baik politik yang semakin lepas kendali, ekonomi dan
isu-isu kemananan manusia.
Indonesia banyak muncul di
televisi-televisi nasional bahkan Internasional, namun bukan sebagai negara
yang dipenuhi cerita sukses tentang pengelolaan negara yang baik dan benar
dengan sumber daya alam yang berlimpah. Sementara itu, di mata dunia Indonesia
dikenakan peringkat oleh lembaga-lembaga pemantau internasional yang
memperjelas carut marut yang sedang terjadi bahwa Indonesia saat ini sedang
sakit bahkan sekarat. Sekarang, segala macam masalah tertumpuk di satu meja
menjadi PR yang harus diselesaikan : masalah kemiskinan, pengangguran,
kelaparan, penyakit menular, kebodohan, narkotika, pembunuhan, korupsi,
premanisme, sektarianisme dan masalah yang paling parah adalah Korupsi, Kolusi
dan Nepotisme (KKN) merajalela.
Tanpa kita sadari, neoliberalisme
yang merupakan inti dari ideologi dan kiprah globalisasi telah merasuki sistem
kita. Walau kata neoliberlisme masih asing dan belum sepopuler yang sering kita
dengar yaitu “komunisme” atau “kapitalisme”, namun walau masih asing bagi kita
dampak dari neoliberalisme sendiri telah mempengaruhi entah itu ekonomi,
politik, kebudayaan kita dan lain-lain. Neoliberalisme tidak hanya mengacu pada
sebuah referen baru tetapi juga membelah orang-orang menjadi kelompok-kelompok
: pendukung, penerima, pengagum, penolak, bahkan orang-orang yang tidak
bersikap.
Neoliberalisme merupakan sebuah
hal yang baru dengan bukti baru dibicarakan sekitar 10-15 tahun terakhir oleh
kalangan-kalngan tertentu. Dengan adanya neoliberalisme, orang melihat sebuah
gerakan baru yang belum pernah terlihat sebelumnya yaitu adanya gerakan yang
serentak mengarah kepada pemujaan pasar (Fundamentalisme pasar). Orang-orang
ini percaya bahwa tidak hanya produksi, distribusi dan konsumsi yang tunduk
terhadap hukum pasar, tetapi seluruh kehidupan. Dikenal istilah “mekanisme
pasar” yang tidak hanya dipakai untuk mengatur ekonomi sebuah negara tetapi
juga untuk mengatur ekonomi global. Sebuah produk tidak hanya dipasarkan dalam
negeri, tetapi juga harus di pasarkan ke luar negeri. Begitu juga dengan
investasi yang bukan hanya ditanamkan secara lokal tetapi juga harus masuk ke
seluruh pelosok bumi mengikuti hukum supply
and demand. Ini menyebabkan istilah “political
economy” ditinggalkan dan
sekarang orang-orang menyebutnya dengan istilah “international political economy”.

No comments:
Post a Comment