Oleh : Ahirul Habib Padilah
Kembali aku tersungkur...
Duduk diam dan
bisu diatas gundukan tanah merah dan batu nisan ini. Hembusan angin sepoi-sepoi
membuat gesekan antar daun pepohonan
dekat makammu. Seperti alunan musik nostalgia membawaku dalam kesendirian
terbang melayang menuju masa dimana kita selalu bersama melewati malam dan
siang disini. Menghabiskan waktu pagi di
dukuh kita yang di penuhi kebun dan sayuran hasil terampilnya tanganmu dalam
bertani. Melewati malam penuh bintang ditemani pelita dan cerita penyejuk jiwa
serta pelukan hangat darimu untukmu.
Hari-hariku
berwarna penuh makna, bersemangat dalam menjalani hidup dengan nasehat-nasehat
penuh pengalaman hidupmu untukku dalam mengarungi dan menantang kejamnya hidup.
Dalam letihmu kau
selalu ada nuatku, selalu senyum tatkala aku bermanja yang sebenarnya membuat
bebanmu tambahnyata. Sedikitpunkau tidak prnah mengeluh. Kalaupun keluar kata,
adalah kalimah surga sebuah doa darimu untukku. Aku tahu, tersirat jelas dimatamu ada garisan keriput
mulai menyerang diusiamu yang sudah tidak muda lagi dan dengan kondisi hidup
begini. Namun, di depan anak-anakmu ini kau nampak tegar dan kuat, jarimu yang
lentik kini kasar dan pecah-pecah, mata indahmu dengan tatapan teduh dan berwibawa
penuh kasih sayang kini merona dan layu.
Aku genggam erat
tanah merah makammu yang telah mengering ini. Seakan aku sedang menggengam
tanganmu yang selalu bisa membuatku semangat melewati hari-hari pilu. Kucium
nisanmu seakan ku sedang mencium kening keriputmu yang penuh keringat dari
lelah dan panasnya terik mentari kala kau merawat kebunmu. Langit mendung, awan
bergumpal hitam, menunjukkan kekuasaannya dan kegagahannya membuatku tersadar
terlalu asyik bernostalgia bersamamu ibu, melewati masa lalu kita yang penuh
tawa bahagia tanpa sadar aku hanya duduk sendiri saat ini tanpa sandaran bahumu
yang selalu menemani yang telah ikut pergi bersamamu dan tidak akan kembali.
Pergi.... iyaaa
PERGI !!!
PERGI dengan
sejuta kasih sayang yang ada padamu
PERGI dengan
pelukan hangatmu kala mengantarku tidur
PERGI dengan
senyum sejuta semangat penuh wibawa dan arti kehidupan
Oh IBU....
Tahukah dirimu
KINI aku miskin kasih sayang dan
bahkan aku tidak tahu kemana aku harus mengemis kasih sayang seperti yang aku
dapat darimu terkecuali kepada TUHAN..
Tahukah dirimu
Aku melewati malam dingin tanpa
pelukan hangat penuh cinta darimu..
Hanya tetesan air mata menemani
tidurku setelah kau tiada...
Tetesan air mata kala kusadar
tidak ada lagi tangan melingkar memelukku dengan cinta..
Tahukah dirimu
Aku rindu masa dimana aku
menggenggam tanganmu kala kita berjalan bersama, sambil menatap wajahmu yang
teduh penuh perjuangan demi anak-anakmu ini. Aku rindu akan kasih sayangmu yang
selalu membuatku bangga akan arti hadirku didunia ini. Memang kadang aku akui
bu, keegoaan anak-anakmu ini membuat goresan luka di hatimu, membuatmu berdoa
sepanjang malam, doa untuk ampunan anak-anakmu dalam diam dan bisu, tak
terbersit sedikitpun kata kasar, cacian dan makian darimu untukku. Dirimu selalu
hanya dengan senyum dan bilang kepadaku :
“nak
itu salah, jangan dilakukan lagi ya”
Namun
kadang kami sebagai anakmu terlalu kalut pikirannya, nasehat manis darimu kami
sangka marah, kalau sudah begini sangat mudah mulut kami berkesimpulan :
Ahh ibu nggak sayang aku, lebih
sayang kakak dan abang !!!”
Ibu tidak adil !!!
Baru kini kusadar bu...
Dalam lelahmu berjuang
membesarkan kami
Kau selalu membagi waktu...
Kau selalu membagi tenaga...
Kau selalu senyum walau pahitnya
hidup menggerogotimu
Tanpa kami tahu, kau simpan
sendiri demi kami anakmu.
Lengkap sudah beban derita yang
engkau punya
NAMUN
Yang keluar dari mulutmu selalu
nasehat indah dan doa
Doa yang menggemparkan dunia dan
surga...
Hujan turun dengan derasnya, membasahi tanah pemakaman
dan pepohonan di sekitar makam ibu. Aku masih terduduk terpaku mengingat betapa
naifnya diriku terhadap ibu. Tetesan air mata menyatu dengan air hujan, mata
memerah, pipi merona.
Kini aku tak bisa memeluk, mencium keningmu bu, aku
tidak bisa memegang erat tanganmu untuk minta maaf. Aku hanya bisa berdoa dalam
diri semoga kau bahagia di alam sana....
Amiiiiiin
Bandung,
24
Maret 2015 14:34
Kutulis
Kala hujan sebagai ungkapan rasa rindu
Mengenang
7 tahun 10 bulan kepergianmu IBU....

No comments:
Post a Comment