Tuesday, March 24, 2015

NOSTALGIA BERSAMAMU IBU




Oleh : Ahirul Habib Padilah

Kembali aku tersungkur...
Duduk diam dan bisu diatas gundukan tanah merah dan batu nisan ini. Hembusan angin sepoi-sepoi membuat  gesekan antar daun pepohonan dekat makammu. Seperti alunan musik nostalgia membawaku dalam kesendirian terbang melayang menuju masa dimana kita selalu bersama melewati malam dan siang disini.  Menghabiskan waktu pagi di dukuh kita yang di penuhi kebun dan sayuran hasil terampilnya tanganmu dalam bertani. Melewati malam penuh bintang ditemani pelita dan cerita penyejuk jiwa serta pelukan hangat darimu untukmu.
Hari-hariku berwarna penuh makna, bersemangat dalam menjalani hidup dengan nasehat-nasehat penuh pengalaman hidupmu untukku dalam mengarungi dan menantang kejamnya hidup.
Dalam letihmu kau selalu ada nuatku, selalu senyum tatkala aku bermanja yang sebenarnya membuat bebanmu tambahnyata. Sedikitpunkau tidak prnah mengeluh. Kalaupun keluar kata, adalah kalimah surga sebuah doa darimu untukku. Aku tahu,  tersirat jelas dimatamu ada garisan keriput mulai menyerang diusiamu yang sudah tidak muda lagi dan dengan kondisi hidup begini. Namun, di depan anak-anakmu ini kau nampak tegar dan kuat, jarimu yang lentik kini kasar dan pecah-pecah, mata indahmu dengan tatapan teduh dan berwibawa penuh kasih sayang kini merona dan layu.
Aku genggam erat tanah merah makammu yang telah mengering ini. Seakan aku sedang menggengam tanganmu yang selalu bisa membuatku semangat melewati hari-hari pilu. Kucium nisanmu seakan ku sedang mencium kening keriputmu yang penuh keringat dari lelah dan panasnya terik mentari kala kau merawat kebunmu. Langit mendung, awan bergumpal hitam, menunjukkan kekuasaannya dan kegagahannya membuatku tersadar terlalu asyik bernostalgia bersamamu ibu, melewati masa lalu kita yang penuh tawa bahagia tanpa sadar aku hanya duduk sendiri saat ini tanpa sandaran bahumu yang selalu menemani yang telah ikut pergi bersamamu dan tidak akan kembali.
Pergi.... iyaaa PERGI !!!
PERGI dengan sejuta kasih sayang yang ada padamu
PERGI dengan pelukan hangatmu kala mengantarku tidur
PERGI dengan senyum sejuta semangat penuh wibawa dan arti kehidupan

Oh IBU....
Tahukah dirimu
KINI aku miskin kasih sayang dan bahkan aku tidak tahu kemana aku harus mengemis kasih sayang seperti yang aku dapat darimu terkecuali kepada TUHAN..

Tahukah dirimu
Aku melewati malam dingin tanpa pelukan hangat penuh cinta darimu..
Hanya tetesan air mata menemani tidurku setelah kau tiada...
Tetesan air mata kala kusadar tidak ada lagi tangan melingkar memelukku dengan cinta..

Tahukah dirimu
Aku rindu masa dimana aku menggenggam tanganmu kala kita berjalan bersama, sambil menatap wajahmu yang teduh penuh perjuangan demi anak-anakmu ini. Aku rindu akan kasih sayangmu yang selalu membuatku bangga akan arti hadirku didunia ini. Memang kadang aku akui bu, keegoaan anak-anakmu ini membuat goresan luka di hatimu, membuatmu berdoa sepanjang malam, doa untuk ampunan anak-anakmu dalam diam dan bisu, tak terbersit sedikitpun kata kasar, cacian dan makian darimu untukku. Dirimu selalu hanya dengan senyum dan bilang kepadaku :
“nak itu salah, jangan dilakukan lagi ya”
Namun kadang kami sebagai anakmu terlalu kalut pikirannya, nasehat manis darimu kami sangka marah, kalau sudah begini sangat mudah mulut kami berkesimpulan :

Ahh ibu nggak sayang aku, lebih sayang kakak dan abang !!!”
Ibu tidak adil !!!


Baru kini kusadar bu...
Dalam lelahmu berjuang membesarkan kami
Kau selalu membagi waktu...
Kau selalu membagi tenaga...
Kau selalu senyum walau pahitnya hidup menggerogotimu
Tanpa kami tahu, kau simpan sendiri demi kami anakmu.
Lengkap sudah beban derita yang engkau punya

NAMUN
Yang keluar dari mulutmu selalu nasehat indah dan doa
Doa yang menggemparkan dunia dan surga...


Hujan turun dengan derasnya, membasahi tanah pemakaman dan pepohonan di sekitar makam ibu. Aku masih terduduk terpaku mengingat betapa naifnya diriku terhadap ibu. Tetesan air mata menyatu dengan air hujan, mata memerah, pipi merona.
Kini aku tak bisa memeluk, mencium keningmu bu, aku tidak bisa memegang erat tanganmu untuk minta maaf. Aku hanya bisa berdoa dalam diri semoga kau bahagia di alam sana....

Amiiiiiin





Bandung,
24 Maret 2015   14:34
Kutulis Kala hujan sebagai ungkapan rasa rindu
Mengenang 7 tahun 10 bulan kepergianmu IBU....

No comments:

Post a Comment