Perjalanan ke Jatinangor, 23 Juni 2015
Perjalanan panjangku
tak akan pernah berakhir pada titik ini, selama napas ini masih berhembus, kaki
ini masih harus terus melangkah, mata ini harus terus menatap tajam mencari
peluang kehidupan yang sesungguhnya. Aku lahir dengan suasana kehidupan yang keras,
sedikit banyak mempengaruhi jiwa ini agar tidak mudah menyerah pada keadaan
bagaimanapun.
Yang terpenting aku
harus selalu sadar, aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa dan bukan anak pejabat
yang sok banyak gaya dengan bangga memamerkan harta orang tua yang kalau dia
sadar itu hanya sebuah titipan sementara.
“kehidupan
sesungguhnya akan segera menyambutmu nak, bila kau terus berpoya-poya dengan
harta orang tua dan kuliah kau sia-siakan bagaimana nasib keluargamu kelak”
Aku hanya anak petani dipedalaman sana,
pedalaman yang terlupa bahkan hampir tidak masuk peta. Walau begitu aku selalu
bangga walau makan seadanya, walau hidup hanya bertemankan sepi.
Aku bukan anak manja
yang digigit semut saja mengadu dan minta dibelai manja, beban dipundak ini adalah
apa yang menjadi beban orang tua juga menjadi beban kami walau usia masih dini.
Beban derita kami rasa sejak awal mata
membuka dan melihat dunia, bahkan seolah menjadi teman nyata kami dalam
menjalani hari-hari para anak petani. Bila guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa
walau dengan gaji yang membuat dia sejahtera, lalu petani berhakkah menjadi
pahlawan sumber kehidupan bangsa?
“Ahhh
sudahlah lupakan”
Terlalu banyak yang
terjadi dalam hidupku, aku selalu berada dipersimpangan, persimpangan yang
menentukan takdir hidupku. Kadang aku dalam kebingungan, dari persimpangan yang
aku temui aku harus memilih simpang mana yang akan aku lewati untuk mencapai
tujuan akan arti hidupku yang sesungguhnya. Kadang aku sadar, hidup ini terlalu
singkat untuk aku memikirkan persimpangan mana yang akan aku ambil, banyak
waktu terbuang menandakan kian sempitnya waktu untuk aku terus berjalan dan
menentukan pilihan. Kadang aku ingin beristirahat sejenak melepas lelah di
persimpangan, duduk menikmati pemandangan didepan dengan jutaan persimpangan
sambil berharap mendapat hidayah simpang mana yang akan mengantarku ke jalan,
jalan yang di nanti banyak orang, jalan yang aku berharap diujung sana ada
tangan halus dan lembut menyambut kedatanganku dengan penuh cinta dan kasih
sayang.
Aku terlalu lelah
jika aku menemui jalan yang diujung sana aku selalu tak dianggap. Aku telah
banyak melalui beban derita yang seakan sungkan lepas dari hidup nyata ini.
Bandung, 27
Juni 2015
Kala aku
merasa sendiri dan terasingkan
Bang Padil