Pasir Panjang 1 Singkawang
Monday, October 7, 2013
Sunday, October 6, 2013
SEKILAS PERJALANAN HIDUP AHIRUL HABIB PADILAH MANSYUR
Pontianak, 12 Desember 2012
Nama lengkap saya adalah Ahirul Habib Padilah yang biasa
dipanggil Habib
Saya dilahirkan disebuah Desa yang
begitu terpencilnya, begitu jauhnya dari kehidupan kota, pada tanggal 12 Mei
1992. Jarak dari Desa saya ke Provinsi Kalimantan Barat (Pontianak) adalah 700
km. adapun Desa tersebut bernama Desa
Nanga Sayan, Kecamatan Sayan, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat. Saya
adalah seorang anak dukuh yang jauh dari hiruk pikuknya kehidupan kota, Ayah
saya Mansurdin (73 tahun) hanya seorang petani karet yang 1 harinya dapat 3 kg,
dan sudah 5 tahun hidup dalam kesendirian ditinggal oleh ibu saya (Alm. Ayang
Halimah) yang meninggal pada tanggal 04 Mei 2007 dikarenakan penyakit Ginjal.
Ayah saya sekarang sudah tidak mampu lagi bekerja, dikarenakan tuntutan umur
yang mengharuskannya merelakan sisa hidupnya dirumah meratapi nasibnya dalam
kesendirian.
kini saya menimba ilmu di Universitas
Tanjungpura Pontianak, program studi Ilmu Politik, angkatan 2010 (semester 5)
dengan IP 4, IPK 3.73.
saya merupakan seorang anak dukuh, yang
memiliki semangat untuk maju. Maju dalam hal pendidikan. Namun saya sadar,
semangat saya ini tidak ada artinya, karena ekonomi keluarga yang jauh
dikatakan cukup. Apalagi semenjak ditinggal orang yang menjadi panutan dan
pembimbing hidup saya selain ayah, kehidupan kami sekeluarga serasa kembali ke
titik awal kehidupan dan harus mulai dari NOL lagi. Pasca ditinggal seorang
ibu, waktu itu saya akan menghadapi UAS, kakak saya harus tinggal tempat orang
demi tuntutan ekonomi keluarga. Saya tinggal sama ayah saya, saya sempat
bingung pertamanya, mau sekolah atau kerja, karena kalau saya sekolah siapa
yang akan mencari makan sehari-hari saya dan ayah saya. Akhirnya saya tetap ingin sekolah dan saya
memilih sekolah di SMA Citra Nasa yang masuk siang, paginya saya gunakan untuk
menoreh getah karet, 2 tahun saya jalani kehidupan seperti itu, pagi noreh dan
siang-sore sekolah dengan jarak dari rumah ke-sekolah 4 km saya tempuh dengan
jalan kaki. Tahun ketiga disekolah tersebut, mengalami perubahan bahwa sekolah
tersebut menjadi SMAN 1 Sayan dan akan masuk pagi, tentu saja ini menjadi kabar
gembira bagi siswa-siswa lain, namun lain hal-nya dengan saya, serasa ada petir
disiang bolong saya mendengar kabar tersebut, berbagai pertanyaan-pertanyaan
muncul dikepala saya, siapa yang akan membiayai sekolah saya, saya sambil noreh
saja, sering kesusahan biaya hidupnya, apalagi tidak noreh?, siapa yang mau
peduli dengan anak dukuh seperti saya?, anak terpencil, miskin serta tak punya
apa-apa?. Saya berpikir keras ketika itu, akhirnya untuk makan sehari-hari,
saya memilih pulang sekolah jam 13.30, saya noreh getah. Itu saya lakukan
sampai saya selesai SMA. Dan alhamdulilah, walau dikelas saya yang jumlahnya 19
orang rata-rata anak pegawai dan orang tuanya berpenghasilan tetap, masalah
prestasi saya tidak kalah dari mereka, bahkan saya bisa dikatakan selalu unggul
dari mereka. Padahal mereka pergi sekolah pakai motor, istirahat makan
dikantin, sedangkan saya jalan kaki, istirahat lebih memilih baca buku
pelajaran dikelas, bukan karena tidak mau gabung dengan kawan-kawan dikantin,
tapi karena saya memang tidak punya uang jajan.
Selesai SMA kebingungan kembali
menghampiri saya si anak dukuh ini, bingung bukan karena memilih universitas,
kota mana yang menjadi tujuan menuntut ilmu dan jurusan apa yang akan saya
ambil, melainkan karena saya memiliki panggilan hati kecil saya untuk tetap
melanjutkan ke Perguruan Tinggi, namun saya sadar untuk sekolah saya sampai
menamatkan SMA saja sudah banting tulang habis-habisan, apalagi sampai kuliah
yang biayanya sampai jutaan, uang 1 juta saja saya belum pernah lihat waku itu
apalagi megangnya.
Alhamdulilah, Allah selalu membukakan
jalan bagi hambanya yang memiliki niat suci, niat untuk berubah ke arah yang
lebih baik, dengan adanya beasiswa Bidikmisi ini saya bisa menggapai mimpi saya
yaitu duduk dibangku kuliah yang saya pikir sangat mustahil untuk kuliah, tapi
buktinya sekarang saya benar-benar terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah
perguruan tinggi ternama di Kalimantan Barat dan lebih membanggakan lagi saya
kuliah tanpa biaya sepeserpun, bahkan per bulannya di berikan uang sebagai
biaya hidup selama kuliah. Betapa bahagianya ayah saya mendengar saya bisa
kuliah dengan beasiswa ini, sujud syukur beberapa kali dia lakukan serta
tetesan air mata bahagianya terus mengalir sambil memeluk saya. Dan perlu diketahui
dengan dibukanya beasiswa Bidikmisi ini secara tidak langsung memotivasi dan
menumbuhkan semangat ingin kuliah bagi para siswa di SMA maupun yang masih SMP,
untuk belajar lebih giat lagi guna mencapai nilai yang paling baik agar bisa
masuk Beasiswa Bidimisi ini. Bagi saya dunia pendidikan baru dibuka, Selamat
datang para pemimpin dunia dari Dukuh.
Setelah 2 tahun saya kuliah dan
sekarang sudah masuk tahun ketiga, saya mendapatkan sebuah undangan untuk
menghadiri acara Forum Bidimisi Nasional di Jakarta. Langsung terlintas dalam
benak saya bagaimana rasanya naik pesawat?, seperti apa ya Jakarta yang
merupakan iukota Negara Indonesia, tempat tinggal Presiden, para menteri dan
para orang-orang hebat?. Pertanyaan itu terjawab semuanya pada tanggal 5-8 Desember
2012, saya benar-benar naik pesawat yang merupakan mimpi saya sejak Sekolah
Dasar dulu dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar seperti bapak Mendikbud yang
membuat saya selalu rindu, Pak Chairul Tanjung yang memiliki latar belakang
kehidupan yang hampir sama dengan para mahasiswa penerima Bidikmisi, masuk TV
yang merupakan mimpi banyak orang, pergi ke Taman Impian Ancol yang merupakan
pengalaman pertama yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya,
bahkan akan saya ceritakan kepada anak cucu saya nantinya. Siapa yang menyangka
saya seorang anak petani karet yang hanya berpenghasilan 3 kg 1 hari, anak
dukuh jauh dari hiruk pikuknya kehidupan kota, miskin, bisa merasakan semua itu
dengan Gratis. Padahal saya pikir, mendapatkan beasiswa ini saja sudah syukur
alhamdulilah, rupanya Allah punya rencana yang lebih besar lagi buat saya dan
mahasiswa/i Bidikmisi lainnya.
Akhir kata saya ingin mengucapkan
terima kasih yang tak terhingga kepada bapak Mendikbud (Moch. Nuh) yang telah
mengubah mimpi saya menjadi kenyataan. Dan saya sangat terinspirasi dengan
kata-kata bapak yaitu “membeli masa depan
dengan harga sekarang”. Banyak salam dari teman-teman serta masyarakat
kelas bawah lainnya pak, untuk bapak tercinta. Saya sangat mengidolakan bapak,
kalau ada waktu, bapak datang ke Pontianak, biar saya siapkan jeruk manis khas
Pontianak dan oleh-oleh lainnya pak. Terima kasih.
PENGALAMAN HIDUP SEORANG ANAK DUKUH
Part 1
Nanga Sayan,
MASA kecil penuh keceriaan dan kebahagian
dilalui seperti anak pedukuhan pada umumnya. Jika anak-anak dikota-kota besar
sibuk dengan permainan ala modern mereka anak-anak didukuh hanya bisa membuat
main dengan gaya tradisional dan kreatif dari barang-barang bekas atau ranting
pohon. Begitu juga dengan saya dan anak-anak lainnya, ketika musimnya main
mobil-mobilan, sia anak dukuh ini sibuk mencari beterai senter atau radio bekas
guna di ambil bagian ujungnya untuk digunakan sebagai ban dari mobil tersebut. Tentu
mobil ini bukan digerakkan dengan remote control, melainkan dengan tali rapia
yang diikatkan pada depan mobil tersebut dan Tarik kemana-mana, sangat
tradisional asyik sekali hidup didukuh.
Dulu ketika masih kecil atau waktu sekolah
dasar (SD), saya disekolahkan oleh orang tua saya kesekolah SDN 09 SAYAN. Waktu
pertama sekali sekolah, belum tau apa-apa, masih bingung. Saya ingat sekali
pada waktu itu, saya kelas 01 Sekolah Dasar, saya mengenal beberapa guru. Yaitu Pak Suwandi, Pak
Aseanus, Ibu Eni, Pak Arpendi dll. Diantara beberapa guru itu, yang paling saya
takuti adalah pak Arpendi yang mengajar Matematika dan saya ingat bahwa pak
Arpendi dijuluki anak-anak sebagai guru yang paling garang disekolah, saya
sendiri sering menangis apabila pak Arpendi masuk kelas, dikarenakan saking
takutnya, untung saya memiliki seorang kakak perempuan yang pada waktu itu
sekolah di SD yang sama, kakak saya bernama Sukhairullida yang duduk dikelas 03
SD ketika saya kelas 01. Pak Arpendi sendiri tak jarang ban motornya kempes,
karena memang sengaja dikempesin oleh anak-anak yang degil. Sedangkan Ibu Eni dikenal
sebagai guru yang lemah lembut, Ibu Eni mangajar Bahasa Indonesia dan dipercaya
sebagai wali kelas 01 mungkin karena sifatnya yang lemah lembut dan mengerti
akan watak anak-anak seumuran saya. Pak
suwandi juga tak kalah menariknya dengan ibu Eni, sangat cocok dengan pelajaran
yang dia ajarkan yaitu Agama Islam dan Bahasa Indonesia. orangnya baik dan
murah senyum. Pak suwandi juga termasuk guru idola disekolah saya waktu itu.
Sedangkan pak Aseanus yang merupakan seorang Muallaf, mengajar olahraga, yang
sangat cocok dan menarik kalau diajar oleh beliau, olahraganya pakai sistem
konsling, minggu ini belajar, maka minggu depan akan praktek.
Kelas
01 saya mengenal banyak teman, sebut saja ada, Aswandi Taimimi yang selalu menyisir
rambutnya dengan model kalau zaman sekarang boleh dikatakan potongan pak BEYE,
Ardiyansah yang memiliki sifat dan rambut seperti anak Rock and Roll walau
sedikit mencolok dan norak serta sedikit lucu, Ilham Saputra yang suka melukis
dan sering minta dibuatin lukisan Dragon Ball oleh saya karena memang waktu itu
ditahun 1998 lagi ngetren filmnya Dragon Ball, Ardi Setiawan sebagai anak yang
paling gemuk dan besar dikelas yang suka ngacauin anak yang lain, kadang-kadang
banyak anak-anak yang kesel, tapi dia tetap kacauin (mane duleee), Wahyuningsih
sebagai juara kelas waktu itu dan sangat pintar, Aan Nirwahdah anak yang
pendiam walau sedikit manja, Sridayanti anak yang suka makan, Rajuandi yang
suka jualan asongan disekolah mulai dari permen, nasi bungkus daun pisang dan
sampai jualan Rokok eceran disekolah (sedikit menantang) ada juga Juhardi anak
yang pendiam, Evi anak pintar yang tak kalah dengan Wahyu walau agak dekil dan
dijuluki Nenek Lampir (hahaha) dan ada juga Elmi anak pindahan dari desa 57
yang suka menebar senyum sana-sini, (itulah sekelumit cerita teman-teman yang
saya ingat). Saya sendiri tak jauh berbeda dengan teman-teman diatas, namun
saya berbeda karena saya dengan keterbatasan yang saya miliki, orang tua walau
sudah bekerja keras, namun tetap dengan penghasilan yang pas-pasan. Sehingga
memaksa saya harus sekolah dari ladang atau rumah pondok (dukuh) di kebun.
Jarak perjalanan dari ladang saya ke sekolah sekitar 45 menit. Untung saya
memiliki seorang kakak yang satu sekolah, sehingga berangkat dan pulang selalu
bareng. Ketika teman-teman semuaya menikmati masa-masa bermain dengan kawan
lainnya disekolah saya dan kakak saya harus sekolah sambil jualan nasi bungkus
daun pisang dan permen. Saya sendiri ketika sekolah sangat jarang bahkan tidak
pernah pakai sandal boro-boro sepatu, paling saya pakai sepatu pada saat
semesteran dan pembagian rapot, itupun sepatu bekas atau pemberian orang. Ini
semua saya lakukan seperti jualan dan segalanya demi membantu perekonomian
keluarga saya. Pada waktu itu Saya memiliki seorang ayah bernama Mansyurdin
yang berumur sekitar 51 tahunan, dan Ibu yang bernama Alm. Ayang Halimah yang
berumur sekitar 48 tahunan, mereka membanting tulang demi menyekolahkan saya
dan kakak serta abang saya yang masih duduk dibangku SMP. Satu hal kesalahan
saya terhadap orang tua terutama ibu yang tidak bisa saya lupakan, ketika itu
pas hari libur hari minggu, ibu saya diberi kelapa oleh tetangga, dan dimakan
bersama-sama dibagi secara adil ke kakak (Sukhairullida) dan abang (Sariaman) saya,
ketika itu mungkin karena saya merasa saya anak bungsu, saya merasa egois dan
harus mendapat bagian yang paling banyak dari saudara-saudara saya, ketika itu
juga saya tendang gelas didepan saya dan depan ibu saya, sehingga airnya tumpah
habis. Setelah kejadian itu saya sangat menyesal dan saya mohon ampunan kepada
tuhan yang maha pengampun, agar dosa saya diampuni. Setelah melewati berbagai
rintangan dan halangan, akhirnya saya bisa sampai diujung perjalanan dibangku
sekolah dasar, saya akan menghadapi ujian akhir sekolah nasional atau EBTANAS
pada waktu itu. Ada sekelumit cerita haru pada saat saya akan menghadapi ujian
akhir, orang tua saya bingung karena ujian akhir sekolah nasional diwajibkan
pakai sepatu bagi para peserta ujian. Apalagi sekolah saya sebagai sekolah
penyelenggara ujian akhir yang nantinya
ada beberapa sekolah yang datang dan ikut ujian disekolah saya. Sedangkan saya
tidak memiliki sepatu, mau beli orang tua saya tidak punya uang. Tapi
Alhamdulilah akhirnya Allah memberi jalan, ada teman saya yang menyedekahkan
sepatunya yang sudah tidak dipakai lagi, sepatunyapun masih bagus menurut
perhitungan saya, tapi bagi dia sudah tidak layak pakai. Saya jadi ingat Allah
itu selalu memberi jalan keluar bagi hamba-Nya yang lagi susah asalkan mau
berusaha dan berdo’a.
Tiba
saatnya pengumuman hasil ujian akhir sekolah, saya dan teman-teman semuanya
dinyatakan lulus. Sujud syukur saya kumandangkan karena setelah melewati waktu
yang panjang dan sedikit melelahkan walau ada keseruan bersama teman-teman
semuanya akhirnya saya selesai dan bisa melanjutkan pendidikan ke Sekolah
Menengah Pertama (SMP) maupun Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dari teman-teman satu
kelas saya yang lulus melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya, saya,
Aswandi, Ilham Saputra, Ardiyansyah, Elmiati, memilih melanjutkan ke Madrasah
Tsanawiyah, sedangkan Evi, Wahyuningsih, Ardi Setiawan, Rajuandi, Juhardi, Aan
Nirwahdah serta Sridayanti melanjutkan ke SMP. Apa boleh buat karena kita
meiliki pilihan sendiri-sendiri, akhirnya kami menjalani aktivitas
masing-masing. Saya, Aswandi, Ilham Saputra dan Ardiyansah masih berteman
dengan akrabnya, pulang pergi sekolah selalu bareng dan tak terpisah seperti
anak Geng. Sedangkan dengan teman yang melanjutkan ke SMP kami juga masih
sering ketemu, karena sekolah yang kami
tuju satu arah namun SMP agak jauh dari Mts. Adapun jarak perjalanan
dari rumah saya ke sekolah lumayan jauh, sekitar 4 km, saya dan ketiga teman
saya selalu jalan kaki, maklum waktu itu dikampung yang namanya kendaraan
bermotor masih sangat asing dan jarang sekali dijumpai, yang populer waktu itu
adalah sepeda. Di MTs ini saya menemukan teman-teman baru, tapi saya tetap
tidak melupakan teman SD saya, teman baru saya antara lain ada Susantono (Anon)
seorang anak yang meiliki suara vocal yang khas dan sangat enak didengar
suaranya dan sering mengikuti lomba baik Tilawah, syarhil Alqur’an, MTq,
Nasyid. Rudi yang mengaku nama dirinya sebagai Enda Ungu padahal bakat dia adalah melukis dan melawak
dengan gaya rambut yang khas dan badan jungkring serta memiliki sifat yang
tidak sabar alias cepat emosi, pernah suatu ketika ada teman main tenis meja
kebetulan Si Rudi ini juga menyukai permainan ini, temannya ini tidak mau
gantian, oleh Rudi Badnya diambil dipatahkan dan dilemparkan jauh-jauh tak jauh
berbeda dengan nasib si bad, netnya juga ditarik secara paksa dan dibuang
begitu saja oleh Rudi, saya waktu itu tak tau apakah Rudi sadar atau tidak
melakukan hal itu namun cerita positifnya dia juga pernah bawa nama sekolah
saya ke tingkat kabupaten dengan mendapat juara 3 lomba melukis. Udi Prayogo
(Udeng) si gendut yang sangat iseng dengan teman-temannya juga meiliki suara
yang indah dan merdu walau sedikit serak dan sedikit kurang teratur mandi dan
makannya (hahaha). Si Aswandi Taimimi mungin saya ceritakan sedikit lagi karena
keadaan dia dan sekarang waktu SD sudah berubah menjadi anak yang tampan namun
agak sedikit gugup alias pemalu. Ardiansyah juga sudah banyak yang berubah, namun
gaya rambutnya tetap anak Rock and Roll tak berubah namun sekarang ditambah
dengan celana Jubrai ala Arafik si penyanyi dangdut maklum MTs pakai celana
panjang. Ilham Saputra juga tak jauh berbeda dengan gaya rambut berdiri
ditengah dan celana jubrai juga. Saya juga tak jauh berbeda dengan teman-teman
diatas, namun saya memilih sekolah di MTs ini bukan hanya karena banyak ilmu
agamanya namun juga karena alasan lainnya, alasan lainnya seperti saya bisa
membantu orang tua saya dipagi hari karena MTs ini sekolah siang, pagi saya
serta kakak saya Sukhairullida motong karet Getah. Diakhir perjalanan sekolah
di MTs ini saya akan menghadapi ujian akhir sekolah atau UAN, namun karena
adanya kebijakan dari pemerintah maka ujian sekolah didahulukan, disini hal
yang tak akan pernah saya lupakan karena
orang yang paling saya hormati, sayangi, serta yang menjadi panutan dan
penyemangat dalam hidup saya di panggil oleh Allah swt. Sedikit cerita ketika
saya akan menghadapi ujian sekolah ibu saya sempat membelikan saya celana
sekolah karena celana saya sudah dianggap tak layak lagi untuk dipakai pada
saat ujian, saya begitu senangnya, dan ketika saya menghadapi ujian ibu saya
selalu merebus telur dan menyiapkan sarapan pagi sebagai pembuka sebelum saya
pergi ujian, karena ibu saya yakin dengan makan telur maka bisa lebih semangat
dan tidak suka lupa. Saya begitu semangat menghadapi ujian ini karena selalu
mendapat support dari ibunda tersayang dan ayah saya. Namun semuanya berbalik
arah, dunia ini rasanya sepi, kehidupan rasanya mati, ketika orang yang paling
saya sayangi dan paling mengerti dengan saya dipanggil oleh Allah SWT,
bertepatan dengan tanggal 04-mei-2007 jam 21:10, padahal beberapa hari kemudian
saya akan menghadapi ujian akhir sekolah serta hari ulang tahun saya yang ke-15
tahun. Pesan terakhir yang saya dengar dari ibu saya adalah, nak kamu harus
mandiri dan jaga diri baik-baik, ketika mengingat hal ini saya jadi ingat semua
apa yang sering ibu saya lakukan kepada saya, memberi nasihat, menyemangati
ketika kita lagi sedih dan terpuruk. Kami semua merasa berduka, saya masih sedikit
bisa mengontrol diri namun lain hal dengan anak perempuan, kakak saya
sukhairullida, dia menangis sampai meraung-raung dan sampai kesakitan sehingga
menyebabkan dia sakit, saya merasa kasian karena kakak saya juga dekat dengan
ibu saya. Ayah saya hanya bisa diam, mulutnya seperti terkunci rapat, berat
rasanya puluhan tahun bersama suka dan duka bersama-sama dilewati dengan penuh
keikhlasan walau hidup kadang tidak berpihak kepada ayah dan ibu, namun ayah
dan ibu saya bisa melewati itu semua berkat rasa ikhlas menjalani kehidupan,
rasa syukur tetap dipanjatkan dengan sang Khalik pemilik segalanya, ciuman
lembut nan indah beserta tetesan air mata untuk yang terakhir kalinya pun
mendarat dipipi dan kening ibu saya.
Suara
bacaan ayat suci alqur’an surah Yasin pun bergema disegala sudut ruangan rumah
saya, ketika itu juga saya menangis tersedu-sedu di dalam pelukan kakak saya,
kaka sulung, dalam tangis tersebut saya mengingat abang saya yang masih
menuntut ilmu di Yogyakarta, dimana abang saya sudah lama tidak bertemu dengan
ibu, terakhir dia bertemu dengan ibu seingat saya adalah sekitar setahun yang
lalu, dia pulang ke kampong membawa pakaian dan kain untuk oleh-oleh ibu saya,
saya ingat waktu itu ibu saya begitu senangnya, namun saya tidak menyangka
kalau itu pakaian yang terakhir yang dapat abang saya berikan kepada ibu saya
dan sampai meninggalnya ibu, abang saya tidak melihatnya, miris rasanya ketika
saya mengingat itu, betapa kasiannya abang saya tidak bisa melihat senyum indah
untuk terakhir kalinya dari seorang ibu yang telah melahirkan dan
membesarkannya hingga bisa seperti sekarang, saya bersyukur karena abang saya
orang tegar dan semangat dalam berusaha dan menuntut ilmu, yakinlah abangku sayang
ibu akan bahagia dengan keberhasilan abang sekarang.
Lepas
dari itu semua pasca meninggalnya ibu, saya sedikit putus asa dan memudarnya
semangat dalam diri saya ini, namun itu semua tidak berlangsung lama, karena
saya sadar kehidupan kita semuanya akan kembali dan menghadap Allah sang
pencipta dengan segala dosa dan pahala dan apa yang kita lakukan selama kita
hidup didunia ini, kita harus mempertanggung jawabkannya. Kira-kira begitulah
kutipan yang saya dapat dari guru ngaji dikampung saya.
Part 2
“Kehidupan
harus terus berlanjut” kata ayah saya disuatu pagi mengejutkan saya ketika lagi
duduk menghadap ke arah lapangan dibelakang rumah kami, kamu harus bisa
mewujudkan cita-cita dan keinginan dari ibumu agar ibumu bahagia di alam sana. Pagi
itu saya berjanji dalam hati bahwa saya akan membuktikan saya bisa bangkit dari
semua ini. Seusai ujian Madrasah Tsanawiyah saya melanjutkan pendidikan ke
Sekolah Menengah Atas (SMA) Citra Nasa (Sekarang SMA Negeri 1 Sayan), betapa
bahagianya saya bisa melanjutkan pendidikan dan bisa bertemu sahabat-sahabat
lama waktu sekolah dasar dulu seperti Epi, Ardi Setiawan, Aan Nirwahdah. Dan teman-teman baru seperti Ice Rosmitasari
yang agak pemalu namun sedikit agak mempesona dengan rambut terurai panjang dan
sering menjadi sasaran kejahilan kawan-kawan cowok, Julianingsih di kenal
sebagai anak pemalu yang pendiam sampai-sampai cowok pun tidak pernah punya dan
juga objek yang empuk bagi kejahilan kawan-kawan, Sintamiati anak tomboy dengan
lengan baju sekolah yang dilipat, tidak jarang menjadi teguran para guru, namun
tetap anggun menurut saya serta pekerja keras, Desi Ratnasari dengan gayanya sok jagoan disekolah (haha) dan
dengan rok pendeknya yang menjadi perhatian anak-anak cowok dan Desi ini adalah
sahabat akrabnya Ice waktu SMA dulu, Julianto hobby main bola kaki namun
sedikit jahil disekolah dengan gaya
kepo-nya suka ngacauian anak-anak, Hidayat seorang mantan anak kepala sekolah
yang suka kebut-kebutan dijalan dengan motornya sampai beberapa kali
kecelakaan, Meji Efendi anak yang mudah
tersulut emosinya sampai pernah suatu kejadian Meji kelahi dengan kepala
sekolah gara-gara masalah sepele tapi masih bisa didamaikan, Restu Julia (Veri)
anak yang degil dan suka ngacauin anak-anak dengan gayanya yang kocak
mengundang tawa teman-teman.
Part 3
Nanga Sayan,
Seperti pagi-pagi
biasanya, saya siap-siap untuk pergi ke sekolah. Jarak sekolah 4 km saya tempuh
dengan jalan kaki. Kelas XII SMAN 1 Sayan hanya berjumlah 19 orang dan semuanya
pakai motor, kecuali saya setiap hari harus menempuh jarak 4 km dengan berjalan
kaki yang menyebabkan badan saya bercucuran keringat. Namun semua itu
terbalaskan dengan rasa haus akan ilmu yang akan saya teguk pada hari itu, rasa
capek ditambah dengan keringatan tak ada artinya bila dibandingkan dengan ilmu
yang saya dapat. Tidak memiliki sepeda motor
seperti teman-teman lainnya, tak menghalangi langkah kaki saya untuk tetap dengan semangat menuntut ilmu
walau harus berhadapan dengan jarak sekolah yang memang seharusnya ditempuh
dengan kendaraan.
Setelah selesai SMA
nanti didalam diri saya memang memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan
ke Perguruan Tinggi, namun saya sadar semangat saya ini percuma, karena saya
hanya punya semangat tanpa didukung
ekonomi keluarga yang memadai. Bapak saya yang sudah tua tak mampu lagi untuk
menjadi tulang punggung keluarga.
apabila pulang dari sekolah jam 13.00
saya harus pergi ke kebun untuk noreh karet untuk makan sehari-hari saya
dan Ayah saya. Namun semangat saya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi bagai
sang surya di pagi hari yang baru saja melewati malam yang gelap gulita, saya
dan teman-teman saya dikejutkan dengan adanya pengumuman bahwa perguruan tinggi
negeri membuka beasiswa bagi anak daerah perbatasan, terpencil, dan miskin
marginal yang berprestasi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi melalui program
Bidikmisi. Saya sangat senang, dan saya langsung meminta formulir
pendaftarannya dan dengan segera memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan.
Semangat untuk melanjutkan pendidikan saya serasa menemukan harapan baru yang
mana harapan tersebut pada awalnya hampir menemukan jalan buntu.
Setelah menghadapi UAN
dan UAS saya tidak hanya berpangku tangan. Setiap pagi-pagi sekali jam 5.00
saya harus segera bangun dan siap-siap untuk pergi ke kebun, setiap hari saya
harus noreh karet untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Namun semua rasanya berbalik arah
dengan kenyataan kehidupan saya, serasa kehidupan saya kembali ke titik
awal kehidupan ketika, pulang dari kebun melihat dirumah ada bapak kepala
sekolah sedang mengobrol dengan Ayah saya, rupanya bapak kepala sekolah
tersebut menyampaikan berita bahagia bahwa saya diterima sebagai penerima
bidikmisi di prodi ilmu politik. Sujud syukur dan tetesan air mata serta pelukan dari Ayah tercinta
menjadi satu dalam kebahagian yang serasa belum percaya. saya seorang anak
dukuh, miskin dan jauh dari kehidupan kota maupun provinsi bisa melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi dengan
beasiswa penuh outreaching dan saya belum pernah ke Pontianak sebelum mendapatkan beasiswa ini. Saya akan jaga amanah ini sampai
saya selesai nanti, karena setiap amanah yang kita emban akan kita pertanggung
jawabkan dihadapan Allah SWT.
Cita-cita
saya :
Seseorang belum tentu ingin memiliki
cita-cita sesuai dengan basic ilmu yang dia kuasai, begitu juga dengan saya,
walau saya kuliah di Prodi ilmu politik, namun cita-cita saya ingin menjadi pengusaha
dan jurnalist sukses. Terbesit juga dalam benak saya untuk menjadi anggota
dewan, mungkin ini terinspirasi melihat realita para anggota dewan saat ini
yang berkecimpung didunia politik, namun tak mengerti apa itu politik yang
sebenarnya. Yang mereka jalankan hanya politik yang menguntungkan pribadi yang
menyebabkan maraknya kasus-kasus korupsi. Padahal jadi pemimpin hanya
bermodalkan kejujuran, bertanggungjawab serta anti korupsi sudah bisa eksis.
Yang
ingin dimiliki dan diperbuat :
Saya ingin memiliki
sebuah rumah yang layak untuk orang yang paling saya cintai dan saya sayangi
didunia ini, yaitu Ayah saya. Begitu lama sudah beliau hidup dalam kesusahan,
seolah-olah kemiskinan sudah menjadi sahabat dalam kehidupannya dan tak mau
beranjak dari kehidupannya. Beliau Tinggal dirumah yang masih jauh dikatakan
layak membuat saya ingin menjadikan rumah serta dengan fasilitas yang
selayaknya untuk ditempati Ayah saya dalam menghabiskan sisa hidupnya dirumah
tersebut.
Bagi saya kebahagian
orang tua, adalah kebahagian saya juga, apalagi saya hanya memiliki Ayah, sedangkan ibu saya telah lama meninggalkan
kami sejak 5 tahun yang lalu tepatnya tanggal 4 Mei 2007 yang juga meninggalkan
sebuah cita-cita mulia dengan Ayah saya
yang belum terlaksana dan belum tentu bisa terlaksana, karena cita-cita
tersebut hanya sebuah niat, yang dalam kehidupan keluarga saya tidak akan
mungkin terlaksana, tapi betul apa kata almarhum ibu saya tidak ada salahnya
kita punya niat, masalah terlaksana atau tidaknya itu urusan Allah SWT. Demi
keinginan mulia tersebut, apabila saya sukses nanti, hal pertama yang akan saya
perbuat adalah menunaikan ibadah haji bagi Ayah saya agar ibu saya bisa
tersenyum bahagia di alam sana. Amiiiieeeen.
Bersambung....
Bersambung....
Contoh Praktikum II Ilmu Politik
HALAMAN PENGESAHAN
PROSES PELAKSANAAN
FUNGSI LEGISLASI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH (DPRD) KOTA PONTIANAK 2012
DI SUSUN OLEH :
AHIRUL HABIB PADILAH
E02110059
DOSEN PEMBIMBING PRAKTIKUM II
Dr. BAKRAN SUNI, M. Ag
NIP. 1959 121219 9002 1001
PONTIANAK…………………..
KETUA LABORATORIUM IA FISIP UNTAN
DHIDIK APRIYANTO, SE,. M. Si
NIP. 1976 0405200604 1001
PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, karena
atas berkat dan Rahmat-Nya yang senantiasa menyertai segala kegiatan Penulis,
sehingga Penulis dapat menyusun Praktikum ini dalam keadaan sehat tanpa
kekurangan apapun.
Terima kasih juga Penulis ucapkan kepada Dosen, Bapak
Dr. Bakran Suni, M. Ag selaku dosen
pembimbing pada mata kuliah Praktikum ini, serta pihak-pihak yang telah
membantu Penulis dalam penyusunan praktikum ini sehingga Penulis dapat
menyelesaikannya.
Materi yang Penulis bahas kali ini adalah tentang “Proses Pelaksanaan Fungsi Legislasi Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak 2012”. Semoga materi yang
bahas ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membaca dan mempelajarinya.
Penulis sadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan praktikum ini. Namun
patutlah kita belajar bersama-sama, saling mengisi kekurangan kita untuk
menjadi warga Negara yang baik yaitu dengan menjadi mahasiswa/i yang berakhlak
mulia serta berprestasi yang nantinya akan membuat Negara kita menuju pada
Negara sejahtera.
Pontianak, Juni 2013
Penulis
ABSTRAK
PROSES PELAKSANAAN
FUNGSI LEGISLASI DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DI KOTA PONTIANAK 2012
Sesuai
dengan UU No. 32 tahun 2004 DPRD Kota Pontianak selaku Lembaga Legislatif
mempunyai fungsi Legislasi, Budgeting dan Controling. Fungsi
Legeslasi DPRD selaku “pembuat”, Pembahas dan pemutus sebuah produk hukum yang
berupa Peraturan Daerah, dimana Peraturan Daerah akan menjadi dasar
berkehidupan masyarakat. Faktor Transparansi dan kontrol publik terhadap fungsi
legeslasi DPRD menjadi penting dalam rangka menciptakan sistem pemerintahan
yang baik di daerah. Dalam fungsi Legeslasinya DPRD tidak dapat di biarkan
berjalan sendiri tanpa kontrol, penting dibuka pintu akses publik terhadap
pembuatan Peraturan Daerah. Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah yang dibentuk di setiap propinsi dan kabupaten/ kota pada umumnya
dipahami sebagai lembaga yang menjalankan kekuasaan legilsatif, dan karena itu
biasa disebut dengan lembaga legilsatif di daerah. Akan tetapi, sebenarnya
fungsi legislatif di daerah, tidaklah sepenuhnya berada di tangan DPRD seperti
fungsi DPR-RI dalam hubungannya dengan Presiden sebagaimana ditentukan dalam
Pasal 20 ayat (1) juncto Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 hasil Perubahan Pertama.
Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 menyeburkan bahwa DPR memegang kekuasaan membentuk
UU, dan Pasal 5 ayat (1) menyatakan bahwa Presiden berhak mengajukan RUU kepada
DPR. Sedangkan kewenangan untuk menetapkan Peraturan Daerah (Perda), baik
daerah propinsi maupun kabupaten/kota, tetap berada di tangan Gubernur dan
Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD. Karena itu, dapat dikatakan bahwa
Gubernur dan Bupati/Walikota tetap merupakan pemegang kekuasaan eksekutif dan
sekaligus legislatif, meskipun pelaksanaan fungsi legislatif itu harus
dilakukan dengan persetujuan DPRD yang merupakan lembaga pengontrol terhadap
kekuasaan pemerintahan di daerah.
Kata
kunci : DPRD, Legislasi, UUD
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………….. i
Abstrak……………………………………………………………………... ii
Daftar Isi…………………………………………………………………… iii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………….. 1
1. 1 Latar
Belakang………………………………………………… 1
1. 2 Identifikasi
Permasalah……………………………………….. 5
1. 3 Fokus
Penelitian……………………………………………….. 6
1. 4 Rumusan
Masalah……………………………………………... 6
1. 5 Tujuan
Penelitian……………………………………………… 6
1. 6 Manfaat
Penelitian…………………………………………….. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………... 8
2. 1 Teori……………………………………………………………. 8
2. 2 Hasil
Penelitian yang Relevan……………………………….... 12
2. 3 Kerangka
Pikir Penelitian…………………………………….. 14
2. 4 Pernyataan
Penelitian…………………………………………. 15
BAB III PENUTUP………………………………………………………... 16
3. 1 Jenis
Penelitian………………………………………………… 16
3. 2 Tempat dan
Waktu Penelitian………………………………… 16
3. 3 Subjek dan
Objek Penelitian………………………………….. 17
3. 4 Instrumen
Penelitian…………………………………………… 17
3. 5 Tekhnik
Pengumpulan Data…………………………………… 17
3. 6 Tekhnik
Analisis Data………………………………………….. 18
3. 7 Tekhnik
Keabsahan Data……………………………………… 20
Daftar Tabel………………………………………………………………… iv
Daftar Pustaka……………………………………………………………....
v
DAFTAR TABEL
Tabel 1………………………………………………………………………… 3
Tabel
2………………………………………………………………………… 4
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Suatu Negara dikatakan Negara demokrasi apabila
pemerintahannya dipegang oleh rakyat. Proses untuk menciptakan pemerintahan
rakyat adalah melalui pemilu untuk menetapkan siapa yang menjadi pemimpin atau
wakil dari rakyat. Hal ini seperti ditegaskan oleh Napitupulu (2005:70) yang
menyatakan bahwa pemilu berarti rakyat melakukan kegiatan-kegiatan memilih
orang atau sekelompok orang menjadi pemimpin rakyat, pemimpin Negara atau
pemimpin pemerintahannya. Hal ini
berarti pemerintahan itu dipilih oleh rakyat. Jadi melalui pemilu rakyat
memunculkan calon pemimpin pemerintahan sebagai bagian dari mekanisme politik
untuk mengartikulasikan aspirasi dan kepentingan warga Negara dalam proses memilih
sebagian rakyat menjadi pemimpin pemerintahan.
Ditinjau dari tatanan politik pemilu diadakan dalam
rangka menciptakan pemerintahan perwakilan (representative
goverment), yakni pemerintahan yang mencerminkan perwakilan dari seluruh
kelompok masyarakat sebagaimana makna pemerintah, dari, oleh dan untuk rakyat
yang menjadi landasan idiil demokrasi. Di Indonesia pemilu dilaksanakan untuk
memilih wakil rakyat, hal ini sesuai dengan sistem demokrasi perwakilan yang di
anutnya. Artinya pemilu dilaksanakan untuk memilih wakil rakyat yang duduk di
lembaga legislative yang lebih dikenal dengan istilah Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR).
Berdasarkan uraian tersebut, diketahui bahwa pemilu
bermanfaat untuk menegakkan legitimasi penguasa dan pemerintah disamping
bermanfaat bagi pembentukan perwakilan rakyat. Hanya saja hasil yang dicapai
lebih bersifat formal, karena itu dalam pembangunan politik, perlu dikembangkan
memanfaatkan pemilu bagi pembentukan legitimasi kekuasaan dan penentuan wakil
rakyat secara material. Keterwakilan politik atau political representative menurut Pitkin sebagaimana dikutip
Budiardjo (1996:45) diartikan sebagai terwakilinya kepentingan anggota
masyarakat oleh wakil-wakil mereka didalam lembaga-lembaga dan proses politik. Kadar
keterwakilan tersebut ditentukan oleh sistem perwakilan politik yang berlaku
dalam masyarakat bersangkutan.
Ditinjau dari konteks dan situasi politik di
Indonesia, peran dan fungsi lembaga perwakilan rakyat sebagaimana termuat dalam
Undang-Undang Nomor 22 tahun 2003 mencakup tiga komponen utama yaitu fungsi
legislasi, anggaran dan pengawasan. Terjadinya perubahan dalam sistem
pemerintahan Republik Indonesia ini juga berdampak pada Undang-Undang yang
mengatur sistem pemerintah daerah dari Undang-Undang No. 5 tahun 1974 dan Undang-Undang No. 22 tahun 1999. Kemudian
Undang-Undang otonomi daerah tersebut disempurnakan menjadi Undang-Undang No.
32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah. Undang-Undang No. 32 tahun 2004
membawa perubahan nuansa demokrasi didaerah, yaitu memberikan kewenangan yang
besar kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk mewujudkan sistem
demokrasi di Indonesia. Pada era reformasi ini, Undang-Undang No. 32 tahun 2004
telah memperkuat fungsi DPRD yang tidak saja berfungsi sebagai pengawas
pemerintah daerah, tetapi juga berfungsi sebagai pembuat peraturan (legislator) dan kebijaksanaan.
Tabel 1
Jumlah Rapat yang Dilakukan dalam
membuat Pearturan Daerah
|
Rapat Pembuatan Peraturan Daerah Kota
Pontianak
|
|
1. Rapat Badan Musyawarah Untuk Mengagendakan
Raperda Yang Telah Diajukan Oleh Walikota Pontianak
2. Rapat Paripurna
3. Tingkat Pertama, Rapat Paripurna
-
Pidato Walikota, Mengenai Raperda Yang Akan
Dibahas
4. Tingkat Kedua, Rapat Paripurna
A.
Pandangan Umum Fraksi-Fraksi
B.
Jawaban Walikota Tentang Pandangan Umum Fraksi DPRD
5. Tingkat Ketiga, Rapat-Rapat Tekhnis
A.
Rapat Interen
B.
Rapat Kerja Bersama Stake Holder
C.
Rapat Kerja Bersama Pakar/Tenaga Ahli
D.
Rapat Kerja Bersama Eksekutif
6. Tingkat Keempat, Rapat Paripurna
A. Laporan Hasil Badan Legislasi
B. Pendapat Akhir Fraksi DPRD
C. Pengambilan Keputusan
D. Sambutan Kepada Daerah
|
Sumber :
DPRD Kota Pontianak
Tabel
2
Peraturan
Daerah Kota Pontianak 2012
|
No
|
Nomor Dan Tahun
|
Nama Perda
|
Tanggal
|
|
1
|
1 Tahun 2012
|
Pertanggungjawaban Pelayanan Anggaran
Pendapatan Dan Belanja Daerah Kota Pontianak Tahun Anggaran 2011
|
23 Juli 2012
|
|
2
|
2 Tahun 2012
|
Perubahan Anggaran Pendapatan Dan
Belanja Daerah Tahun Anggaran 2012
|
17 September 2012
|
|
3
|
3 Tahun 2012
|
Perubahan Atas Aturan Daerah Nomor 4 Tahun
2011 Tentang Retribusi Jasa Umum
|
19 Oktober 2012
|
|
4
|
4 Tahun 2012
|
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Pontianak
Nomor 6 Tahun 2010 Tentang Pajak Daerah Kota Pontianak
|
19 Oktober 2012
|
|
5
|
5 Tahun 2012
|
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Pontianak
Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Retribusi Perizinan Tertentu Kota Pontianak
|
5 Desember 2012
|
|
6
|
6 Tahun 2012
|
Tambahan Setoran Modal Pemerintah Kota
Pontianak Pada Perseroan Terbatas Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat
|
5 Desember 2012
|
|
7
|
7 Tahun 2012
|
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Pontianak
Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Penambahan Penyertaan Modal Pemerintah Kota Pontianak
Pada Badan Usaha Milik Daerah Kota Pontianak
|
5 Desember 2012
|
|
8
|
8 Tahun 2012
|
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Pontianak
Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Tempat Parkir
|
5 Desember 2012
|
|
9
|
9 Tahun 2012
|
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Pontianak
Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Administrasi Kependudukan
|
5 Desember 2012
|
|
10
|
10 Tahun 2012
|
Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Pontianak
Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Khatulistiwa
|
5 Desember 2012
|
|
11
|
11 Tahun 2012
|
Pencegahan Dan Penanggulangan HIV/AIDS
|
5 Desember 2012
|
|
12
|
12 Tahun 2012
|
Penangglangan Kemiskinan Kota
Pontianak
|
5 Desember 2012
|
|
13
|
13 Tahun 2012
|
Penanggulangan Penyakit Menular
|
5 Desember 2012
|
|
|
Jumlah
|
13 Peraturan Daerah
|
|
Sumber : DPRD Kota
Pontianak
Menurut Undang-Undang No. 22/2003 tentang Susduk
MPR, DPR, DPD & DPRD pasal 62 (a) & 77 (a) fungsi pertama DPRD Provinsi
& Kabupaten/kota adalah legislasi. Yang dimaksud legislasi adalah legislasi
fungsi DPRD, untuk membentuk peraturan daerah (dalam Agung Djojosoekarto,
2004:149). Adanya berbagai persoalan yang dihadapi DPRD Kota Pontianak dalam
membuat pertauran daerah sehingga membutuhkan kerja sama yang kuat antar fraksi
dan anggota DPRD Kota Pontianak.
1. 2 Identifikasi
Masalah
Adapun identifikasi masalah yang akan diteliti dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Peranan
DPRD Kota Pontianak dalam menjalankan fungsi legislasi, meliputi :
·
Proses dalam membuat
perundang-undangan di lembaga DPRD Kota Pontianak
·
Aspek-aspek yang
menjadi perhatian DPRD Kota Pontianak dalam menetapkan suatu perundang-undangan
·
Perundang-undangan yang
telah ditetapkan oleh DPRD Kota Pontianak.
b. Faktor penghambat DPRD Kota Pontianak dalam
menetapkan perundang-undangan meliputi :
·
Internal
·
Eksternal
1. 3 Fokus Penelitian
Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No. 10 tahun
2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan yang dimaksud dengan
Peraturan Daerah (Perda) adalah “ peraturan perundang-undangan yang dibentuk
oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dengan persetujuan bersama kepala
daerah”, berkenaan dengan tugas dan fungsi DPRD tersebut agar permasalahan yang
diteliti tidak terlalu luas maka penelitian ini difokuskan pada “Proses
Pelaksanaan Fungsi Legislasi Pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota
Pontianak”.
1. 4 Rumusan Masalah
Agar memudahkan pemecahan masalah bagaimana Proses
Pelaksanaan Fungsi Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) maka dapat
dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana Proses Pelaksanaan Fungsi
Legislasi DPRD Dalam Menyusun Peraturan Daerah (Perda) 2012 Di Kota Pontianak?
1.5 Tujuan Penelitian
Searah
dengan fokus masalah yang diteliti,
maka tujuan penelitian penting untuk dirumuskan agar penelitian tetap sinkron
dengan aspek yang diteliti. Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut
:
1.
5. 1 Ingin mengetahui bagaimana, pembahasan
serta penutupan usulan peraturan daerah yang dilakukan lembaga legislatif Kota
Pontianak
1.
5. 2 Ingin mengungkapkan faktor-faktor apa
saja yang mempengaruhi rendahnya produktifitas DPRD dalam membuat peraturan
daerah di Kota Pontianak
1. 6 Manfaat Penelitian
Berdasarkan persoalan dan tujuan penelitian yang
telah ditetapkan maka manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1.
6. 1 Secara teoritis manfaat penelitian ini,
diharapkan sebagai konstribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan,
khususnya studi tentang fungsi DPRD dalam bekerja membuat peraturan daerah.
1.
6. 2 Secara praktis diharapkan hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rekomendasi dalam pelaksanaan
fungsi legislasi dalam pembuatan undang-undang atau peraturan daerah terutama
wilayah Kota Pontianak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Teori
2. 1. 1 Definisi Badan Legislasi dan Fungsinya
Menurut Budiardjo (2002:173) badan legislative
adalah lembaga yang legislate atau
membuat Undang-Undang dengan anggota-anggotanya dianggap mewakili rakyat.
Sehingga badan ini sering dinamakan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau nama
lain yang sering dipakai adalah parlemen. Oleh karena itu menurut Cipto
(1995:5), bahwa parlemen dalam istilah tekhnis biasanya disebut dengan istilah legislature yang artinya badan pembuat
Undang-Undang atau dalam mana para pembuat Undang-Undang (Legislator) bekerja, sehingga lebih lanjut Cipto (1995:37)
menyatakan bahwa parlemen juga diciptakan untuk memenuhi tuntutan masyarakat
luas akan sebuah lembaga dengan fungsi startegis pokok yakni menyalurkan dan
mencari penyelesaian atas persoalan-persoalan politik serta kenegaraan yang
melibatkan sebagian besar masyarakat.
Searah dengan berbagai pendapat para ahli, diatas,
fungsi DPRD sangat strategis terutama dalam menciptakan suatu masyarakat yang
demokrasi. Demokrasi tidak saja diukur dari banyaknya perundang-undangan yang
mengatur kehidupan masyarakat dan pemerintah, tetapi juga implementasinya harus
sesuai dengan garis kebijaksanaan yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu menurut Apter (1985:288) bahwa dalam
semua sistem demokrasi, fungsi-fungsi legislative yang pertama ialah mewakili
rakyat, yang kedua membuat Undang-Undang. Hal ini menunjukkan bahwa sistem
demokrasi akan terlaksana dengan baik apabila ada perangkat hukum yang mengatur
serta serta adanya pelaksana yaitu pemerintah beserta semua perangkatnya maupun
masyarakat itu sendiri. Selanjutnya pengertian peranan DPRD yang dikemukakan
oleh Sanit (1985:252) yang mengatakan bahwa “peranan DPRD diartikan sebagai
aktifitas yang dilakukan oleh berbagai unsur DPRD seperti anggota, pimpinan
fraksi, komisi dan badan kelengkapan DPRD secara sendiri-sendiri atau secara
bersama-sama yang dilakukan dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi badan
tersebut”.
Sanit (1985:204) juga mengemukakan bahwa “memuaskan
kehendak masyarakat atau keamanan umum adalah esensi dari fungsi anggota serta
badan legislative. Itu sendiri selaku wakil rakyat dilihat dari fungsinya menurut
Pakpahan (1994:18) DPRD mempunyai tugas secara garis besar dapat dibagi tiga
yaitu, legislative function (fungsi
legislatif), controlling function
(fungsi kontrol) dan budgeting function
(fungsi budget atau anggaran). Menurut Marbun (1994:86) fungsi DPRD bila
dikelompokkan adalah fungsi pembuat Undang-Undang da peraturan daerah, fungsi
debat, dan fungsi representasi.
Berbagai pemahaman tersebut diatas sangat jelas
bahwa fungsi DPRD begitu strategis yaitu
sebagai lembaga legislator dengan melakukan fungsi membuat berbagai peraturan
daerah sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah yang melakukan fungsi
mewakili rakyatnya. Baik sebagai penampung maupun penyalur aspirasi masyarakat.
Dengan demikian para wakil rakyat dituntut untuk menyelaraskan berbagai
kehendak atau opini tersebut. Dalam proses perumusan dan pemutusan
kebijaksanaan atas dasar pemikiran tersebut tentang usaha DPRD dalam
menyelaraskan kehendak atau opini rakyat, menuntut perlunya integritas,
kemampuan dan kemandirian anggota DPRD dalam mewujudkan aspirasi masyarakat,
karena banyak kehendak individu, kelompok-kelompok kepentingan yang
mempengaruhi dalam penentuan kebijakan-kebijakan daerah.
Mengenai fungsi DPRD, Budiardjo (2002:182-183)
menyatakan diantara fungsi legislative yang paling penting adalah menentukan policy (kebijakan) dan membuat
Undang-Undang, sehingga dewan perwakilan rakyat diberi hak inisiatif, hak untuk
mengadakan amandemen terhadap rancangan undang-undang yang disusun pemerintah ,
hak budget dan mengontrol badan eksekutif. Dalam arti menjaga supaya semua
tindakan eksekutif sesuai dengan kebijaksanaan-kebijaksaan yang telah
ditetapkan dengan diberi hak-hak control khusus.
2. 1. 2 Profesionalisme
apaun bentuk lembaga, instansi maupun organisasi,
maju tidaknya suatu lembaga/instansi maupun organisasi itu tergantung dari pada
factor “man”, karena meskipun material dan kelengkapan organisasi lainnya telah
terpenuhi, jika sumber daya manusianya tidak memiliki kemampuan dalam
menjalankan tugas dan fungsi lembaga tersebut tidak dapat berjalan sebagaimana
yang diinginkan.
Demikian halnya pada lembaga legislasi sebagai
lembaga yang melakukan 3 fungsi anggaran, pembuat hokum dan pengawasan tentu
keprofesionalisme anggota parlemen sangat dibutuhkan agar ketiga fungsi anggota
parlemen dapat dilaksanakan dengan baik. Sebuatan profesionalisme itu sendiri
berasal dari kata “profesi”. Jadi, berbicara tentang profesionalisme tentu
mengacu pada pengertian profesi, sebagai suatu bidang pekerjaan. Dalam hal
profesi, Tiy, Mc Cully (1969) (dalam Rusyan, 1990:14), mengatakan sebagai : vocation an which professional knowledge of
some department a learning science is used in its application to the other or in
the practice of an art found it, profesionalisme menggunakan tekhnik serta
prosedur yang tertumpu pada landasan intelektual.
2. 1. 3 Produktivitas
menurut dewan produktivitas Nasional (dalam Husein,
2002:9) menjelaskan bahwa produktivitas mengandung arti sebagai perbandingan
antara hasil yang dicapai (output)
dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Dengan kata lain bahwa produktivita smemiliki 2 dimensi,
dimensi pertama adalah efektifitas yang mengarah kepada pencapaian target
berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu. Yang kedua yaitu efisiensi
yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya
atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Manurut Basu Swastha dan Ibnu Sukotjo (1995:281)
produktivitas adalah sebuah konsep yang menggambarakan hubungan antara hasil
(jumlah barang dan jasa) dengan sumber (jumlah tenaga kerja, modal, tanah,
energy, dan sebagainya) yang dipakai untuk menghasilkan hasil tersebut. Sedangkan
George J. Washinis (Rusli Syarif , 1991:1) bahwa produktivitas mencakup 2 konsep
dasar yaitu daya guna dan hasil guna.
2. 1. 4 Faktor yang Mempengaruhi Peran DPRD
menurut Alfian (1990:58) ada dua factor yang
mempengaruhi peranan DPRD sehingga belum berfungsi optimal yaitu, (1)
factor-faktor yang berasal dari DPRD sendiri atau factor Internal yang meliputi
peraturan tata tertib DPRD, mekanisme kerja, kualitas anggota, tenaga ahli,
fasilitas, data dan dana. (2) faktor-faktor yang berasal dari luar DPRD atau faktor
eksternal yang meliputi lingkungan sistem politik, budaya politik dan media
massa.
2. 2 Hasil Penelitian yang Relevan
2. 2. 1
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Marfian
Rifki (2010) dengan judul “Fungsi Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus”. Masalah yang dikaji di dalam
penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah pelaksanaan fungsi legislasi DPRD
Kabupaten Kudus?; (2) Apakah
faktor-faktor yang menjadi penghambat penggunaan fungsi legislasi DPRD
Kabupaten Kudus?; (3) Bagaimanakah anggota DPRD Kabupaten Kudus menggunakan hak
usul inisiatif dalam pengajuan rancangan peraturan daerah?. Tujuan dari
penelitian ini adalah: (1) Mengetahui pelaksanaan fungsi legislasi DPRD
Kabupaten Kudus; (2) Mengetahui faktor-faktor penghambat penggunaan fungsi
legislasi DPRD Kabupaten Kudus; (3) Mengetahui bagaimana anggota DPRD Kabupaten
Kudus menggunakan hak usul inisiatif dalam pengajuan rancangan.
2. 2. 2
Sedangkan penelitian saya ini mengkaji masalah bagaimana, pembahasan serta
penutupan usulan peraturan daerah yang dilakukan lembaga legislatif Kota
Pontianak dan Ingin mengungkapkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
rendahnya produktifitas DPRD dalam membuat peraturan daerah di Kota Pontianak.
2. 3 Kerangka Pikir Penelitian
|
Pearaturan
Daerah
|
|
Legislatif
|
|
Eksekutif
|
|
Factor-Faktor
Yang Mempengaruhi Anggota DPRD Dalam Membuat Peratur Daerah
1.
Faktor Pendukung Interen Dan Eksteren
2.
Faktor Penghambat Interen Dan Eksteren
|
|
Proses
Pembuatan Peraturan Daerah
Proses
Pembahasan Serta Menetapkan Usulan Peraturan Daerah Yang Dilakukan Lembaga
Legislative
|
|
Output
Terwujudnya
peraturan daerah secara terpadu dan sistematis
|
|
Kesimpulan
dan rekomendasi
|
|
Fungsi
Legislatif Menentukan Kebijakan (Policy)
Dan Membuat Undang-Undang Serta Hak Inisiatif Mengadakan Amandemen
Rancangan Undang-Undang
Boediardjo
(2002:182-183)
|
2. 4 Pernyataan Penelitian
Dari permasalahan yang telah dipaparkan serta
kerangka piker yang telah ditetapkan penulis mendapatkan pernyataan penelitian
mengenai proses pelaksanaan fungsi legislasi DPRD Kota Pontianak sudah
maksimal, ini dibuktikan dengan jumlah peraturan daerah yang di hasilkan
sebanyak 13 peraturan daerah yang di setujui DPRD. Dan setelah saya analisis,
dari ketiga belas peraturan daerah tersebut sudah bisa menjembati kepentingan
masyarakat dan mewakili kepentingan masyarakat.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3. 1 Jenis Penelitian
Penentuan jenis penelitian yang akan digunakan
adalah sesuai dengan masalah sifat dan tujuan penelitian. Jenis penelitian yang
akan digunakan adalah kualitatif dalam bentuk deskriptif. Menurut Faisal
(2012:12) bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang didalamnya
terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, analisa, dan menginterprestasikan
kondisi-kondisi sekarang ini. Termasuk berbagaim tipe penelitian, sehingga
ditemukan hubungan yang mungkin terjadi diantara variable-variabel.
3. 2 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini adalah di Kota Pontianak,
khususnya anggota legislative Kota Pontianak. Dengan pertimbangan dalam
pemilihan tempat tersebut adalah bahwasanya di Kota Pontianak anggota
legislative belum sepenuhnya melaksanakan fungsinya dalam menunjang pembangunan
didaerah Kota Pontianak. Sementara anggota legislative sebagai wakil rakyat
tentunya dapat menjembati kepentingan-kepentingan yang dibutuhkan masyarakat
lewat pembangunan dan pembuatan peraturan daerah di Kota Pontianak yang
berpihak pada kepentingan masyarakat.
3. 3 Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah seluruh anggota
legislative Kota Pontianak dan komponen-komponennya yang terkait langsung
dengan proses penyusunan peraturan daerah. Subjek penelitian ini terdiri dari :
ketua DPRD kota pontianak, ketua komisis, unsur pemerintah eksekutif kota
pontianak, tokoh politik dan masyarakat. Tekhnik pemilihan subjek penelitian
digunakan dengan tekhnik bertujuan (purposive)
maksudnya penentuan sumber data diambil kepada orang-orang yang banyak
mengetahui permasalahan atas yang terlibat langsung dalam permasalahan yang
akan diteliti.
3. 4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang terkait dalam Proses Pelaksanaan Fungsi Legislasi Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Di Kota Pontianak 2012. Wawancara dilakukan
dengan menggunakan pedoman pertanyaan yang telah disusun. Selain wawancara,
pengumpulan data dalam penelitian ini juga dilakukan dengan metode pustaka
dimana menggunakan data-data sekunder dengan menggunakan laporan-laporan
sebagai data pendukung penelitian ini.
3. 5 Tekhnik Pengumpulan Data
3. 5. 1
Tekhnik observasi, yaitu melakukan wawancara secara langsung dan dilakukan
secara terbatas, mengenai aktifitas dari subjek yang diteliti dengan didukung
oleh alat panduan observasi yaitu catatan-catatan yang sudah dipersiapkan
sebelumnya dan pencatatan dilakukan saat pengamatan berlangsung.
3. 5. 2
Tekhnik wawancara mendalam, yaitu melakukan Tanya jawab secara langsung dan
mendalam kepada subjek penelitian, guna pemngumpulan data primer dengan mengacu
kepada suatu panduan wawancara yang sudah dipersiapkan sebelumnya agar tidak
menyimpang dari tujuan penelitian.
3. 5. 3
Studi Dokumentasi, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mempelajari
dokumen-dokumen pemerintah yang erat hubungannya dengan materi penelitian dan
di dukung oleh alat, arsip-arsip dan dokumen
3. 6 Tekhnik Analisis Data
Analisis data yang di gunakan dalam
penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Analisis data dalam kualitatif
merupakan proses menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca
dan di interprestasikan. Penelitian kualitatif memandang data sebagai produk
peraturan daerah dan Tarik menarik antar pemerintah (eksekutif) dan DPRD
(legislatif). Tahap analisis menurut Moleong (2004:103)
3. 6. 1 Pengumpulan
Data
sebagai konsep dasar-dasar langkah-langkah yang
dilakukan dalam menganalisa data, pertama mengorganisasikan data, data yang
terkumpul banyak sekali yang terdiri dari catatan lapangan, komentar peneliti,
dokumen berupa laporan dan sebagainya. Sementara pekerjaan analisis data dalam
hal ini adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, dan memberikan kode dan
mengkategorikannya.
3. 6. 2 Reduksi Data
suatu kegiatan, proses pengahalusan atau penelitian
data yang diperoleh dilapangan tersebut untuk lebih menyederhanakan data yang
diperoleh dengan memberi kode. Mengklasifikasi, menelusuri tema-tema, membuat
gagasan, menulis memo, dan memilah bagian-bagian yang tidak relevan dengan
focus penelitian.
3. 6. 3 Penyajian Data
Adalah setelah kegiatan reduksi dilakukan, kemudian
data tersebut disajikan menjadi kumpulan informasi yang telah disusun, sehingga
dari informasi tersebut dapat ditarik kesimpulan sementara yang akan di uji
lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Pada umumnya penyajian
data disajikan dalam bentuk narasi dan tidak menutup kemungkinan penyajian data
dilakukan dengan gambar-gambar matrik agar lebih mudah dimengerti semua pihak.
3. 6. 4 Penarikan
Kesimpulan
merupakan langkah terakhir dari suatu analisis data
yang berusaha mencari arti terhadap data yang disajikan dan berusaha
menghubungkan data dengan gejala social lainnya.
3. 7 Tekhnik Keabsahan Data
Peneliti menggunakan triangulasi
sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya
triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu
yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian
(Moloeng, 2004:330)
Triangulasi dapat dilakukan dengan
menggunakan teknik yang berbeda (Nasution, 2003:115) yaitu wawancara, observasi
dan dokumen. Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data
juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi
juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data,
karena itu triangulasi bersifat reflektif.
Denzin (dalam Moloeng, 2004),
membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan
sumber, metode, penyidik dan teori. Pada penelitian ini, dari keempat macam
triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan dengan
memanfaatkan sumber. Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan
mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu
dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton,1987:331). Adapun
untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai berikut :
3. 7. 1 Membandingkan data hasil pengamatan
dengan data hasil wawancara
3. 7. 2 Membandingkan apa yang dikatakan
orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
3. 7. 3 Membandingkan apa yang dikatakan
orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang
waktu.
3. 7. 4 Membandingkan keadaan dan
perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat dari
berbagai kelas.
3. 7. 5 Membandingkan hasil wawancara
dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
DAFTAR PUSTAKA
Black, A. James, and Dean J.
Champion. 2009. Metode Dan Masalah
Penelitian Sosial. Bandung. Refika Aditama
Irmawan, Riswandha. 2003. Faktor-Faktor yang menghambat Usaha
Optimalisasi Peran DPR RI Dalam Fungsi Legislatif Sistem Politik Indonesia. Jakarta
: Rajawali
Marbun, B. N. 1994. DPRD, Pertumbuhan, Masalah dan Masa Depannya.
Edisi Revisi Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Moleong, J. Lexy. 2001. Metode penelitian Kualitatif. Bandung :
Remaja Rosdakarya
Masyhuri, M. Zainuddin. 2008. Metodologi Penelitian, Pendekatan Praktis
dan Aplikatif. Bandung : Refika Aditama
Pakpahan, Muchtar. 1994. DPR RI Semasa Orde Baru. Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan
Riduwan. 2010. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan Dan Peneliti Pemula.
Bandung. Alfabeta
RI. 1999. Undang-Undang Nomor 22
Tahun 1999. Tentang Pemerintahan Daerah.
Bandung : Citra Umbara
RI. 2004. Undang-Undang Nomor 10
Tahun 2004. Tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan. Bandung : Fokus Media
RI. 2004. Undang-Undang Nomor 34
Tahun 2004. Tentang Peraturan Daerah.
Bandung : Citra Umbara
Sanit, Arbi. 1985. Perwakilan Politik Di Indonesia. Jakarta
: Rajawali
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung
: Alfabeta
Subscribe to:
Comments (Atom)