Pontianak, 12 Desember 2012
Nama lengkap saya adalah Ahirul Habib Padilah yang biasa
dipanggil Habib
Saya dilahirkan disebuah Desa yang
begitu terpencilnya, begitu jauhnya dari kehidupan kota, pada tanggal 12 Mei
1992. Jarak dari Desa saya ke Provinsi Kalimantan Barat (Pontianak) adalah 700
km. adapun Desa tersebut bernama Desa
Nanga Sayan, Kecamatan Sayan, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat. Saya
adalah seorang anak dukuh yang jauh dari hiruk pikuknya kehidupan kota, Ayah
saya Mansurdin (73 tahun) hanya seorang petani karet yang 1 harinya dapat 3 kg,
dan sudah 5 tahun hidup dalam kesendirian ditinggal oleh ibu saya (Alm. Ayang
Halimah) yang meninggal pada tanggal 04 Mei 2007 dikarenakan penyakit Ginjal.
Ayah saya sekarang sudah tidak mampu lagi bekerja, dikarenakan tuntutan umur
yang mengharuskannya merelakan sisa hidupnya dirumah meratapi nasibnya dalam
kesendirian.
kini saya menimba ilmu di Universitas
Tanjungpura Pontianak, program studi Ilmu Politik, angkatan 2010 (semester 5)
dengan IP 4, IPK 3.73.
saya merupakan seorang anak dukuh, yang
memiliki semangat untuk maju. Maju dalam hal pendidikan. Namun saya sadar,
semangat saya ini tidak ada artinya, karena ekonomi keluarga yang jauh
dikatakan cukup. Apalagi semenjak ditinggal orang yang menjadi panutan dan
pembimbing hidup saya selain ayah, kehidupan kami sekeluarga serasa kembali ke
titik awal kehidupan dan harus mulai dari NOL lagi. Pasca ditinggal seorang
ibu, waktu itu saya akan menghadapi UAS, kakak saya harus tinggal tempat orang
demi tuntutan ekonomi keluarga. Saya tinggal sama ayah saya, saya sempat
bingung pertamanya, mau sekolah atau kerja, karena kalau saya sekolah siapa
yang akan mencari makan sehari-hari saya dan ayah saya. Akhirnya saya tetap ingin sekolah dan saya
memilih sekolah di SMA Citra Nasa yang masuk siang, paginya saya gunakan untuk
menoreh getah karet, 2 tahun saya jalani kehidupan seperti itu, pagi noreh dan
siang-sore sekolah dengan jarak dari rumah ke-sekolah 4 km saya tempuh dengan
jalan kaki. Tahun ketiga disekolah tersebut, mengalami perubahan bahwa sekolah
tersebut menjadi SMAN 1 Sayan dan akan masuk pagi, tentu saja ini menjadi kabar
gembira bagi siswa-siswa lain, namun lain hal-nya dengan saya, serasa ada petir
disiang bolong saya mendengar kabar tersebut, berbagai pertanyaan-pertanyaan
muncul dikepala saya, siapa yang akan membiayai sekolah saya, saya sambil noreh
saja, sering kesusahan biaya hidupnya, apalagi tidak noreh?, siapa yang mau
peduli dengan anak dukuh seperti saya?, anak terpencil, miskin serta tak punya
apa-apa?. Saya berpikir keras ketika itu, akhirnya untuk makan sehari-hari,
saya memilih pulang sekolah jam 13.30, saya noreh getah. Itu saya lakukan
sampai saya selesai SMA. Dan alhamdulilah, walau dikelas saya yang jumlahnya 19
orang rata-rata anak pegawai dan orang tuanya berpenghasilan tetap, masalah
prestasi saya tidak kalah dari mereka, bahkan saya bisa dikatakan selalu unggul
dari mereka. Padahal mereka pergi sekolah pakai motor, istirahat makan
dikantin, sedangkan saya jalan kaki, istirahat lebih memilih baca buku
pelajaran dikelas, bukan karena tidak mau gabung dengan kawan-kawan dikantin,
tapi karena saya memang tidak punya uang jajan.
Selesai SMA kebingungan kembali
menghampiri saya si anak dukuh ini, bingung bukan karena memilih universitas,
kota mana yang menjadi tujuan menuntut ilmu dan jurusan apa yang akan saya
ambil, melainkan karena saya memiliki panggilan hati kecil saya untuk tetap
melanjutkan ke Perguruan Tinggi, namun saya sadar untuk sekolah saya sampai
menamatkan SMA saja sudah banting tulang habis-habisan, apalagi sampai kuliah
yang biayanya sampai jutaan, uang 1 juta saja saya belum pernah lihat waku itu
apalagi megangnya.
Alhamdulilah, Allah selalu membukakan
jalan bagi hambanya yang memiliki niat suci, niat untuk berubah ke arah yang
lebih baik, dengan adanya beasiswa Bidikmisi ini saya bisa menggapai mimpi saya
yaitu duduk dibangku kuliah yang saya pikir sangat mustahil untuk kuliah, tapi
buktinya sekarang saya benar-benar terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah
perguruan tinggi ternama di Kalimantan Barat dan lebih membanggakan lagi saya
kuliah tanpa biaya sepeserpun, bahkan per bulannya di berikan uang sebagai
biaya hidup selama kuliah. Betapa bahagianya ayah saya mendengar saya bisa
kuliah dengan beasiswa ini, sujud syukur beberapa kali dia lakukan serta
tetesan air mata bahagianya terus mengalir sambil memeluk saya. Dan perlu diketahui
dengan dibukanya beasiswa Bidikmisi ini secara tidak langsung memotivasi dan
menumbuhkan semangat ingin kuliah bagi para siswa di SMA maupun yang masih SMP,
untuk belajar lebih giat lagi guna mencapai nilai yang paling baik agar bisa
masuk Beasiswa Bidimisi ini. Bagi saya dunia pendidikan baru dibuka, Selamat
datang para pemimpin dunia dari Dukuh.
Setelah 2 tahun saya kuliah dan
sekarang sudah masuk tahun ketiga, saya mendapatkan sebuah undangan untuk
menghadiri acara Forum Bidimisi Nasional di Jakarta. Langsung terlintas dalam
benak saya bagaimana rasanya naik pesawat?, seperti apa ya Jakarta yang
merupakan iukota Negara Indonesia, tempat tinggal Presiden, para menteri dan
para orang-orang hebat?. Pertanyaan itu terjawab semuanya pada tanggal 5-8 Desember
2012, saya benar-benar naik pesawat yang merupakan mimpi saya sejak Sekolah
Dasar dulu dan bertemu dengan tokoh-tokoh besar seperti bapak Mendikbud yang
membuat saya selalu rindu, Pak Chairul Tanjung yang memiliki latar belakang
kehidupan yang hampir sama dengan para mahasiswa penerima Bidikmisi, masuk TV
yang merupakan mimpi banyak orang, pergi ke Taman Impian Ancol yang merupakan
pengalaman pertama yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya,
bahkan akan saya ceritakan kepada anak cucu saya nantinya. Siapa yang menyangka
saya seorang anak petani karet yang hanya berpenghasilan 3 kg 1 hari, anak
dukuh jauh dari hiruk pikuknya kehidupan kota, miskin, bisa merasakan semua itu
dengan Gratis. Padahal saya pikir, mendapatkan beasiswa ini saja sudah syukur
alhamdulilah, rupanya Allah punya rencana yang lebih besar lagi buat saya dan
mahasiswa/i Bidikmisi lainnya.
Akhir kata saya ingin mengucapkan
terima kasih yang tak terhingga kepada bapak Mendikbud (Moch. Nuh) yang telah
mengubah mimpi saya menjadi kenyataan. Dan saya sangat terinspirasi dengan
kata-kata bapak yaitu “membeli masa depan
dengan harga sekarang”. Banyak salam dari teman-teman serta masyarakat
kelas bawah lainnya pak, untuk bapak tercinta. Saya sangat mengidolakan bapak,
kalau ada waktu, bapak datang ke Pontianak, biar saya siapkan jeruk manis khas
Pontianak dan oleh-oleh lainnya pak. Terima kasih.
PENGALAMAN HIDUP SEORANG ANAK DUKUH
Part 1
Nanga Sayan,
MASA kecil penuh keceriaan dan kebahagian
dilalui seperti anak pedukuhan pada umumnya. Jika anak-anak dikota-kota besar
sibuk dengan permainan ala modern mereka anak-anak didukuh hanya bisa membuat
main dengan gaya tradisional dan kreatif dari barang-barang bekas atau ranting
pohon. Begitu juga dengan saya dan anak-anak lainnya, ketika musimnya main
mobil-mobilan, sia anak dukuh ini sibuk mencari beterai senter atau radio bekas
guna di ambil bagian ujungnya untuk digunakan sebagai ban dari mobil tersebut. Tentu
mobil ini bukan digerakkan dengan remote control, melainkan dengan tali rapia
yang diikatkan pada depan mobil tersebut dan Tarik kemana-mana, sangat
tradisional asyik sekali hidup didukuh.
Dulu ketika masih kecil atau waktu sekolah
dasar (SD), saya disekolahkan oleh orang tua saya kesekolah SDN 09 SAYAN. Waktu
pertama sekali sekolah, belum tau apa-apa, masih bingung. Saya ingat sekali
pada waktu itu, saya kelas 01 Sekolah Dasar, saya mengenal beberapa guru. Yaitu Pak Suwandi, Pak
Aseanus, Ibu Eni, Pak Arpendi dll. Diantara beberapa guru itu, yang paling saya
takuti adalah pak Arpendi yang mengajar Matematika dan saya ingat bahwa pak
Arpendi dijuluki anak-anak sebagai guru yang paling garang disekolah, saya
sendiri sering menangis apabila pak Arpendi masuk kelas, dikarenakan saking
takutnya, untung saya memiliki seorang kakak perempuan yang pada waktu itu
sekolah di SD yang sama, kakak saya bernama Sukhairullida yang duduk dikelas 03
SD ketika saya kelas 01. Pak Arpendi sendiri tak jarang ban motornya kempes,
karena memang sengaja dikempesin oleh anak-anak yang degil. Sedangkan Ibu Eni dikenal
sebagai guru yang lemah lembut, Ibu Eni mangajar Bahasa Indonesia dan dipercaya
sebagai wali kelas 01 mungkin karena sifatnya yang lemah lembut dan mengerti
akan watak anak-anak seumuran saya. Pak
suwandi juga tak kalah menariknya dengan ibu Eni, sangat cocok dengan pelajaran
yang dia ajarkan yaitu Agama Islam dan Bahasa Indonesia. orangnya baik dan
murah senyum. Pak suwandi juga termasuk guru idola disekolah saya waktu itu.
Sedangkan pak Aseanus yang merupakan seorang Muallaf, mengajar olahraga, yang
sangat cocok dan menarik kalau diajar oleh beliau, olahraganya pakai sistem
konsling, minggu ini belajar, maka minggu depan akan praktek.
Kelas
01 saya mengenal banyak teman, sebut saja ada, Aswandi Taimimi yang selalu menyisir
rambutnya dengan model kalau zaman sekarang boleh dikatakan potongan pak BEYE,
Ardiyansah yang memiliki sifat dan rambut seperti anak Rock and Roll walau
sedikit mencolok dan norak serta sedikit lucu, Ilham Saputra yang suka melukis
dan sering minta dibuatin lukisan Dragon Ball oleh saya karena memang waktu itu
ditahun 1998 lagi ngetren filmnya Dragon Ball, Ardi Setiawan sebagai anak yang
paling gemuk dan besar dikelas yang suka ngacauin anak yang lain, kadang-kadang
banyak anak-anak yang kesel, tapi dia tetap kacauin (mane duleee), Wahyuningsih
sebagai juara kelas waktu itu dan sangat pintar, Aan Nirwahdah anak yang
pendiam walau sedikit manja, Sridayanti anak yang suka makan, Rajuandi yang
suka jualan asongan disekolah mulai dari permen, nasi bungkus daun pisang dan
sampai jualan Rokok eceran disekolah (sedikit menantang) ada juga Juhardi anak
yang pendiam, Evi anak pintar yang tak kalah dengan Wahyu walau agak dekil dan
dijuluki Nenek Lampir (hahaha) dan ada juga Elmi anak pindahan dari desa 57
yang suka menebar senyum sana-sini, (itulah sekelumit cerita teman-teman yang
saya ingat). Saya sendiri tak jauh berbeda dengan teman-teman diatas, namun
saya berbeda karena saya dengan keterbatasan yang saya miliki, orang tua walau
sudah bekerja keras, namun tetap dengan penghasilan yang pas-pasan. Sehingga
memaksa saya harus sekolah dari ladang atau rumah pondok (dukuh) di kebun.
Jarak perjalanan dari ladang saya ke sekolah sekitar 45 menit. Untung saya
memiliki seorang kakak yang satu sekolah, sehingga berangkat dan pulang selalu
bareng. Ketika teman-teman semuaya menikmati masa-masa bermain dengan kawan
lainnya disekolah saya dan kakak saya harus sekolah sambil jualan nasi bungkus
daun pisang dan permen. Saya sendiri ketika sekolah sangat jarang bahkan tidak
pernah pakai sandal boro-boro sepatu, paling saya pakai sepatu pada saat
semesteran dan pembagian rapot, itupun sepatu bekas atau pemberian orang. Ini
semua saya lakukan seperti jualan dan segalanya demi membantu perekonomian
keluarga saya. Pada waktu itu Saya memiliki seorang ayah bernama Mansyurdin
yang berumur sekitar 51 tahunan, dan Ibu yang bernama Alm. Ayang Halimah yang
berumur sekitar 48 tahunan, mereka membanting tulang demi menyekolahkan saya
dan kakak serta abang saya yang masih duduk dibangku SMP. Satu hal kesalahan
saya terhadap orang tua terutama ibu yang tidak bisa saya lupakan, ketika itu
pas hari libur hari minggu, ibu saya diberi kelapa oleh tetangga, dan dimakan
bersama-sama dibagi secara adil ke kakak (Sukhairullida) dan abang (Sariaman) saya,
ketika itu mungkin karena saya merasa saya anak bungsu, saya merasa egois dan
harus mendapat bagian yang paling banyak dari saudara-saudara saya, ketika itu
juga saya tendang gelas didepan saya dan depan ibu saya, sehingga airnya tumpah
habis. Setelah kejadian itu saya sangat menyesal dan saya mohon ampunan kepada
tuhan yang maha pengampun, agar dosa saya diampuni. Setelah melewati berbagai
rintangan dan halangan, akhirnya saya bisa sampai diujung perjalanan dibangku
sekolah dasar, saya akan menghadapi ujian akhir sekolah nasional atau EBTANAS
pada waktu itu. Ada sekelumit cerita haru pada saat saya akan menghadapi ujian
akhir, orang tua saya bingung karena ujian akhir sekolah nasional diwajibkan
pakai sepatu bagi para peserta ujian. Apalagi sekolah saya sebagai sekolah
penyelenggara ujian akhir yang nantinya
ada beberapa sekolah yang datang dan ikut ujian disekolah saya. Sedangkan saya
tidak memiliki sepatu, mau beli orang tua saya tidak punya uang. Tapi
Alhamdulilah akhirnya Allah memberi jalan, ada teman saya yang menyedekahkan
sepatunya yang sudah tidak dipakai lagi, sepatunyapun masih bagus menurut
perhitungan saya, tapi bagi dia sudah tidak layak pakai. Saya jadi ingat Allah
itu selalu memberi jalan keluar bagi hamba-Nya yang lagi susah asalkan mau
berusaha dan berdo’a.
Tiba
saatnya pengumuman hasil ujian akhir sekolah, saya dan teman-teman semuanya
dinyatakan lulus. Sujud syukur saya kumandangkan karena setelah melewati waktu
yang panjang dan sedikit melelahkan walau ada keseruan bersama teman-teman
semuanya akhirnya saya selesai dan bisa melanjutkan pendidikan ke Sekolah
Menengah Pertama (SMP) maupun Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dari teman-teman satu
kelas saya yang lulus melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya, saya,
Aswandi, Ilham Saputra, Ardiyansyah, Elmiati, memilih melanjutkan ke Madrasah
Tsanawiyah, sedangkan Evi, Wahyuningsih, Ardi Setiawan, Rajuandi, Juhardi, Aan
Nirwahdah serta Sridayanti melanjutkan ke SMP. Apa boleh buat karena kita
meiliki pilihan sendiri-sendiri, akhirnya kami menjalani aktivitas
masing-masing. Saya, Aswandi, Ilham Saputra dan Ardiyansah masih berteman
dengan akrabnya, pulang pergi sekolah selalu bareng dan tak terpisah seperti
anak Geng. Sedangkan dengan teman yang melanjutkan ke SMP kami juga masih
sering ketemu, karena sekolah yang kami
tuju satu arah namun SMP agak jauh dari Mts. Adapun jarak perjalanan
dari rumah saya ke sekolah lumayan jauh, sekitar 4 km, saya dan ketiga teman
saya selalu jalan kaki, maklum waktu itu dikampung yang namanya kendaraan
bermotor masih sangat asing dan jarang sekali dijumpai, yang populer waktu itu
adalah sepeda. Di MTs ini saya menemukan teman-teman baru, tapi saya tetap
tidak melupakan teman SD saya, teman baru saya antara lain ada Susantono (Anon)
seorang anak yang meiliki suara vocal yang khas dan sangat enak didengar
suaranya dan sering mengikuti lomba baik Tilawah, syarhil Alqur’an, MTq,
Nasyid. Rudi yang mengaku nama dirinya sebagai Enda Ungu padahal bakat dia adalah melukis dan melawak
dengan gaya rambut yang khas dan badan jungkring serta memiliki sifat yang
tidak sabar alias cepat emosi, pernah suatu ketika ada teman main tenis meja
kebetulan Si Rudi ini juga menyukai permainan ini, temannya ini tidak mau
gantian, oleh Rudi Badnya diambil dipatahkan dan dilemparkan jauh-jauh tak jauh
berbeda dengan nasib si bad, netnya juga ditarik secara paksa dan dibuang
begitu saja oleh Rudi, saya waktu itu tak tau apakah Rudi sadar atau tidak
melakukan hal itu namun cerita positifnya dia juga pernah bawa nama sekolah
saya ke tingkat kabupaten dengan mendapat juara 3 lomba melukis. Udi Prayogo
(Udeng) si gendut yang sangat iseng dengan teman-temannya juga meiliki suara
yang indah dan merdu walau sedikit serak dan sedikit kurang teratur mandi dan
makannya (hahaha). Si Aswandi Taimimi mungin saya ceritakan sedikit lagi karena
keadaan dia dan sekarang waktu SD sudah berubah menjadi anak yang tampan namun
agak sedikit gugup alias pemalu. Ardiansyah juga sudah banyak yang berubah, namun
gaya rambutnya tetap anak Rock and Roll tak berubah namun sekarang ditambah
dengan celana Jubrai ala Arafik si penyanyi dangdut maklum MTs pakai celana
panjang. Ilham Saputra juga tak jauh berbeda dengan gaya rambut berdiri
ditengah dan celana jubrai juga. Saya juga tak jauh berbeda dengan teman-teman
diatas, namun saya memilih sekolah di MTs ini bukan hanya karena banyak ilmu
agamanya namun juga karena alasan lainnya, alasan lainnya seperti saya bisa
membantu orang tua saya dipagi hari karena MTs ini sekolah siang, pagi saya
serta kakak saya Sukhairullida motong karet Getah. Diakhir perjalanan sekolah
di MTs ini saya akan menghadapi ujian akhir sekolah atau UAN, namun karena
adanya kebijakan dari pemerintah maka ujian sekolah didahulukan, disini hal
yang tak akan pernah saya lupakan karena
orang yang paling saya hormati, sayangi, serta yang menjadi panutan dan
penyemangat dalam hidup saya di panggil oleh Allah swt. Sedikit cerita ketika
saya akan menghadapi ujian sekolah ibu saya sempat membelikan saya celana
sekolah karena celana saya sudah dianggap tak layak lagi untuk dipakai pada
saat ujian, saya begitu senangnya, dan ketika saya menghadapi ujian ibu saya
selalu merebus telur dan menyiapkan sarapan pagi sebagai pembuka sebelum saya
pergi ujian, karena ibu saya yakin dengan makan telur maka bisa lebih semangat
dan tidak suka lupa. Saya begitu semangat menghadapi ujian ini karena selalu
mendapat support dari ibunda tersayang dan ayah saya. Namun semuanya berbalik
arah, dunia ini rasanya sepi, kehidupan rasanya mati, ketika orang yang paling
saya sayangi dan paling mengerti dengan saya dipanggil oleh Allah SWT,
bertepatan dengan tanggal 04-mei-2007 jam 21:10, padahal beberapa hari kemudian
saya akan menghadapi ujian akhir sekolah serta hari ulang tahun saya yang ke-15
tahun. Pesan terakhir yang saya dengar dari ibu saya adalah, nak kamu harus
mandiri dan jaga diri baik-baik, ketika mengingat hal ini saya jadi ingat semua
apa yang sering ibu saya lakukan kepada saya, memberi nasihat, menyemangati
ketika kita lagi sedih dan terpuruk. Kami semua merasa berduka, saya masih sedikit
bisa mengontrol diri namun lain hal dengan anak perempuan, kakak saya
sukhairullida, dia menangis sampai meraung-raung dan sampai kesakitan sehingga
menyebabkan dia sakit, saya merasa kasian karena kakak saya juga dekat dengan
ibu saya. Ayah saya hanya bisa diam, mulutnya seperti terkunci rapat, berat
rasanya puluhan tahun bersama suka dan duka bersama-sama dilewati dengan penuh
keikhlasan walau hidup kadang tidak berpihak kepada ayah dan ibu, namun ayah
dan ibu saya bisa melewati itu semua berkat rasa ikhlas menjalani kehidupan,
rasa syukur tetap dipanjatkan dengan sang Khalik pemilik segalanya, ciuman
lembut nan indah beserta tetesan air mata untuk yang terakhir kalinya pun
mendarat dipipi dan kening ibu saya.
Suara
bacaan ayat suci alqur’an surah Yasin pun bergema disegala sudut ruangan rumah
saya, ketika itu juga saya menangis tersedu-sedu di dalam pelukan kakak saya,
kaka sulung, dalam tangis tersebut saya mengingat abang saya yang masih
menuntut ilmu di Yogyakarta, dimana abang saya sudah lama tidak bertemu dengan
ibu, terakhir dia bertemu dengan ibu seingat saya adalah sekitar setahun yang
lalu, dia pulang ke kampong membawa pakaian dan kain untuk oleh-oleh ibu saya,
saya ingat waktu itu ibu saya begitu senangnya, namun saya tidak menyangka
kalau itu pakaian yang terakhir yang dapat abang saya berikan kepada ibu saya
dan sampai meninggalnya ibu, abang saya tidak melihatnya, miris rasanya ketika
saya mengingat itu, betapa kasiannya abang saya tidak bisa melihat senyum indah
untuk terakhir kalinya dari seorang ibu yang telah melahirkan dan
membesarkannya hingga bisa seperti sekarang, saya bersyukur karena abang saya
orang tegar dan semangat dalam berusaha dan menuntut ilmu, yakinlah abangku sayang
ibu akan bahagia dengan keberhasilan abang sekarang.
Lepas
dari itu semua pasca meninggalnya ibu, saya sedikit putus asa dan memudarnya
semangat dalam diri saya ini, namun itu semua tidak berlangsung lama, karena
saya sadar kehidupan kita semuanya akan kembali dan menghadap Allah sang
pencipta dengan segala dosa dan pahala dan apa yang kita lakukan selama kita
hidup didunia ini, kita harus mempertanggung jawabkannya. Kira-kira begitulah
kutipan yang saya dapat dari guru ngaji dikampung saya.
Part 2
“Kehidupan
harus terus berlanjut” kata ayah saya disuatu pagi mengejutkan saya ketika lagi
duduk menghadap ke arah lapangan dibelakang rumah kami, kamu harus bisa
mewujudkan cita-cita dan keinginan dari ibumu agar ibumu bahagia di alam sana. Pagi
itu saya berjanji dalam hati bahwa saya akan membuktikan saya bisa bangkit dari
semua ini. Seusai ujian Madrasah Tsanawiyah saya melanjutkan pendidikan ke
Sekolah Menengah Atas (SMA) Citra Nasa (Sekarang SMA Negeri 1 Sayan), betapa
bahagianya saya bisa melanjutkan pendidikan dan bisa bertemu sahabat-sahabat
lama waktu sekolah dasar dulu seperti Epi, Ardi Setiawan, Aan Nirwahdah. Dan teman-teman baru seperti Ice Rosmitasari
yang agak pemalu namun sedikit agak mempesona dengan rambut terurai panjang dan
sering menjadi sasaran kejahilan kawan-kawan cowok, Julianingsih di kenal
sebagai anak pemalu yang pendiam sampai-sampai cowok pun tidak pernah punya dan
juga objek yang empuk bagi kejahilan kawan-kawan, Sintamiati anak tomboy dengan
lengan baju sekolah yang dilipat, tidak jarang menjadi teguran para guru, namun
tetap anggun menurut saya serta pekerja keras, Desi Ratnasari dengan gayanya sok jagoan disekolah (haha) dan
dengan rok pendeknya yang menjadi perhatian anak-anak cowok dan Desi ini adalah
sahabat akrabnya Ice waktu SMA dulu, Julianto hobby main bola kaki namun
sedikit jahil disekolah dengan gaya
kepo-nya suka ngacauian anak-anak, Hidayat seorang mantan anak kepala sekolah
yang suka kebut-kebutan dijalan dengan motornya sampai beberapa kali
kecelakaan, Meji Efendi anak yang mudah
tersulut emosinya sampai pernah suatu kejadian Meji kelahi dengan kepala
sekolah gara-gara masalah sepele tapi masih bisa didamaikan, Restu Julia (Veri)
anak yang degil dan suka ngacauin anak-anak dengan gayanya yang kocak
mengundang tawa teman-teman.
Part 3
Nanga Sayan,
Seperti pagi-pagi
biasanya, saya siap-siap untuk pergi ke sekolah. Jarak sekolah 4 km saya tempuh
dengan jalan kaki. Kelas XII SMAN 1 Sayan hanya berjumlah 19 orang dan semuanya
pakai motor, kecuali saya setiap hari harus menempuh jarak 4 km dengan berjalan
kaki yang menyebabkan badan saya bercucuran keringat. Namun semua itu
terbalaskan dengan rasa haus akan ilmu yang akan saya teguk pada hari itu, rasa
capek ditambah dengan keringatan tak ada artinya bila dibandingkan dengan ilmu
yang saya dapat. Tidak memiliki sepeda motor
seperti teman-teman lainnya, tak menghalangi langkah kaki saya untuk tetap dengan semangat menuntut ilmu
walau harus berhadapan dengan jarak sekolah yang memang seharusnya ditempuh
dengan kendaraan.
Setelah selesai SMA
nanti didalam diri saya memang memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan
ke Perguruan Tinggi, namun saya sadar semangat saya ini percuma, karena saya
hanya punya semangat tanpa didukung
ekonomi keluarga yang memadai. Bapak saya yang sudah tua tak mampu lagi untuk
menjadi tulang punggung keluarga.
apabila pulang dari sekolah jam 13.00
saya harus pergi ke kebun untuk noreh karet untuk makan sehari-hari saya
dan Ayah saya. Namun semangat saya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi bagai
sang surya di pagi hari yang baru saja melewati malam yang gelap gulita, saya
dan teman-teman saya dikejutkan dengan adanya pengumuman bahwa perguruan tinggi
negeri membuka beasiswa bagi anak daerah perbatasan, terpencil, dan miskin
marginal yang berprestasi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi melalui program
Bidikmisi. Saya sangat senang, dan saya langsung meminta formulir
pendaftarannya dan dengan segera memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan.
Semangat untuk melanjutkan pendidikan saya serasa menemukan harapan baru yang
mana harapan tersebut pada awalnya hampir menemukan jalan buntu.
Setelah menghadapi UAN
dan UAS saya tidak hanya berpangku tangan. Setiap pagi-pagi sekali jam 5.00
saya harus segera bangun dan siap-siap untuk pergi ke kebun, setiap hari saya
harus noreh karet untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Namun semua rasanya berbalik arah
dengan kenyataan kehidupan saya, serasa kehidupan saya kembali ke titik
awal kehidupan ketika, pulang dari kebun melihat dirumah ada bapak kepala
sekolah sedang mengobrol dengan Ayah saya, rupanya bapak kepala sekolah
tersebut menyampaikan berita bahagia bahwa saya diterima sebagai penerima
bidikmisi di prodi ilmu politik. Sujud syukur dan tetesan air mata serta pelukan dari Ayah tercinta
menjadi satu dalam kebahagian yang serasa belum percaya. saya seorang anak
dukuh, miskin dan jauh dari kehidupan kota maupun provinsi bisa melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi dengan
beasiswa penuh outreaching dan saya belum pernah ke Pontianak sebelum mendapatkan beasiswa ini. Saya akan jaga amanah ini sampai
saya selesai nanti, karena setiap amanah yang kita emban akan kita pertanggung
jawabkan dihadapan Allah SWT.
Cita-cita
saya :
Seseorang belum tentu ingin memiliki
cita-cita sesuai dengan basic ilmu yang dia kuasai, begitu juga dengan saya,
walau saya kuliah di Prodi ilmu politik, namun cita-cita saya ingin menjadi pengusaha
dan jurnalist sukses. Terbesit juga dalam benak saya untuk menjadi anggota
dewan, mungkin ini terinspirasi melihat realita para anggota dewan saat ini
yang berkecimpung didunia politik, namun tak mengerti apa itu politik yang
sebenarnya. Yang mereka jalankan hanya politik yang menguntungkan pribadi yang
menyebabkan maraknya kasus-kasus korupsi. Padahal jadi pemimpin hanya
bermodalkan kejujuran, bertanggungjawab serta anti korupsi sudah bisa eksis.
Yang
ingin dimiliki dan diperbuat :
Saya ingin memiliki
sebuah rumah yang layak untuk orang yang paling saya cintai dan saya sayangi
didunia ini, yaitu Ayah saya. Begitu lama sudah beliau hidup dalam kesusahan,
seolah-olah kemiskinan sudah menjadi sahabat dalam kehidupannya dan tak mau
beranjak dari kehidupannya. Beliau Tinggal dirumah yang masih jauh dikatakan
layak membuat saya ingin menjadikan rumah serta dengan fasilitas yang
selayaknya untuk ditempati Ayah saya dalam menghabiskan sisa hidupnya dirumah
tersebut.
Bagi saya kebahagian
orang tua, adalah kebahagian saya juga, apalagi saya hanya memiliki Ayah, sedangkan ibu saya telah lama meninggalkan
kami sejak 5 tahun yang lalu tepatnya tanggal 4 Mei 2007 yang juga meninggalkan
sebuah cita-cita mulia dengan Ayah saya
yang belum terlaksana dan belum tentu bisa terlaksana, karena cita-cita
tersebut hanya sebuah niat, yang dalam kehidupan keluarga saya tidak akan
mungkin terlaksana, tapi betul apa kata almarhum ibu saya tidak ada salahnya
kita punya niat, masalah terlaksana atau tidaknya itu urusan Allah SWT. Demi
keinginan mulia tersebut, apabila saya sukses nanti, hal pertama yang akan saya
perbuat adalah menunaikan ibadah haji bagi Ayah saya agar ibu saya bisa
tersenyum bahagia di alam sana. Amiiiieeeen.
Bersambung....
Bersambung....
No comments:
Post a Comment