Thursday, May 21, 2015

CERITA BERMAKNA-KAKEK PERLU BENSIN



Hi Blogger apa kabar ni?
baru sempat posting lagi ni ceritanya..
sibuk kuliah dan prepar ujian..
selamat malam yaaa
salam sahabat dari POJOK...
Selamat bekerja matanya.. hihihi

SEDEKAHLAH SELAGI BISA !!!
“KAKEK PERLU BENSIN”
Oleh : Ahirul Habib Padilah
(Bg Padil)

Seperti lumrahnya mahasiswa/i lainya ketika selesai kelas pergi ke kantin dan taman di sekitaran kampus kali ini saya dan teman-teman pergi ke taman yang berada dibawah pohon dekat kampus, menikmati alam terbuka menurut kami lebih tepat. Nampak bersih, asri dan nyaman untuk sekedar melepas lelah dan penat seusai kuliah sembari menikmati es kelapa atau siomay yang berjualan tak jauh dari pagar kampusku dekat jalan raya. Sembari minum es kelapa yang begitu nikmat tatkala matahari menyinari bumi dengan teriknya, apalagi minum sambil duduk dikursi dibawah pohon yang rindang ditambah angin sepoi-sepoi membelai rambut dan naluri, kami bersenda gurau kadang tertawa dengan topik bahasan teman yang kadang membuat tertawa ria. Dengan semangat saya memamerkan handphone keluaran terbaru Nokia X2 Xpress Music yang baru saya beli dengan harga diatas satu juta kepada teman-teman. Lalu dengan semangat mereka mencoba hasil jepretan kamera Nokia tersebut yang berkekuatan 5MP kala itu sudah diatas rata-rata.
Namun, ditengah-tengah tawa kami yang sedang bersantai menikmati waktu istirahat dari lelah dan penatnya kuliah dan foto-foto. Datang seorang kakek yang sudah sangat tua dengan pakaian lusuh, baju compang camping dengan bekas tambalan dan jahitan dimana-mana, celana pendek yang telah nampak kumal dan kotor, menggunakan topi berwarna biru, sendal jepit serta  tangannya yang sudah tidak kekar lagi mendorong sepeda motor Astrea putih bututnya. Dengan muka memelas si kakek menyapa kami yang tengah asyik menikmati minuman :
“Assalammualaikum Nak, Bapak kehabisan bensin; apakah anak ada uang Rp. 5000 untuk bapak isi bensin?”  (dulu bensin di SPBU masih Rp. 4500/liter)
Kami dengan berjuta ekspresi dan penuh kecurigaan langsung mengira bapak ini adalah tukang minta-minta dengan alasan-alasan seperti ini. Acuh tak acuh kami dengan teganya menjawab :
“nggak ada pak, kami mahasiswa yang uang perbulannya aja masih minta sama orangtua”
Seusai menjawab demikian kami berkemas dan meninggalkan kakek tersebut dalam kebingungan dan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Padahal tidak banyak yang kakek tersebut minta hanya Rp. 5000 yang untuk isi ulang pusa saja tidak cukup. Kebetulan kost saya hanya berjarak 3 menit dari kampus tempat saya kuliah. Namun apa yang saya rasakan ketika nyampai di kost, saya merasa ada sesuatu yang janggal dan salah dalam diri saya membiarkan seorang kakek tua dengan sepeda motor bututnya ditengah panas terik mentari disiang ini. Tanpa pikir panjang, saya mencari botol guna diisi langsung dengan bensin yang saya dapatkan dieceran pinggir jalan dan mencari kakek tua tersebut di taman tempat saya dan teman-teman duduk bersantai tadi. Namun sekian menit berlalu, menoleh kekiri dan kekanan saya sama sekali tidak melihat sang kakek. Tidak putus asa saya mencari di ruas jalan yang kemungkinan kakek lewati. Namun setelah detik, menit bahkan jam berlalu saya tidak menemukan sang kakek dengan motornya.
Saya pikir mungkin sudah ada yang membantu atau memang sang kakek adalah kiriman Tuhan menguji niat sedekah kami mahasiswa yang tingkat keegoisannya sangat tinggi, dalam logika saya bila tidak ada yang membantu sang kakek maka dia dalam waktu kurang dari 6 menit (saya pulang ke kost dan mencari botol serta mengisi bensin ke dalam botol) maka radius ketika kakek pergi dari taman tersebut tidak lebih dari 50m. Namun ketika saya cari dalam radius yang lebih dari 50m kakek sudah tidak bisa saya temukan. Sambil jalan pulang saya berpikir mungkin ini adalah ladang pahala dari Allah yang saya lewati begitu saja tanpa saya panen kebaikan dan manfaatnya, satu lagi titik hitam yang entah seberapa besar dihati ini tergores.
Keesokan harinya saya mengikuti sebuah seminar ilmiah yang dihadiri kebanyakan mahasiswa dari berbagai fakultas digedung Rektorat tempat saya kuliah dulu. Seminar diadaan tepat direktorrat lantai 3 (tiga) yang memiliki kapasitas ruangan sampai ratusan orang, namun peserta yang hadir tidak sampai memenuhi ruangan rektorat ini. Disebelah pojok luar ruangan utama lantai 3 gedung rektorat ini memiliki sebuah ruangan kecil yang oleh pihak universitas dijadikan sebagai mushola atau tempat ibadah umat Islam layaknya masjid. Seminar yang diadakan kebetuan dari pagi sampai sore, maka dari itu ketika waktu adzan sholat dzuhur tiba kami dalam ruangan segera keluar untuk melaksanakan sholat sekaligus istirahat makan siang (ISHOMA). Disinilah letak inti ceritanya, ketika saya akan sholat saya meninggakan Handphone yang baru beberapa minggu saya beli dalam laci meja, saya tinggal sholat dan antri mengambil makan.
Dalam waktu kurang dari 15 menit saya sudah kembali ke meja tempat saya duduk dalam ruangan. Setelah menikmati makan siang saya mengambil handphone dalam laci meja yang saya tinggalkan tadi, tangan saya meraba dalam laci namun sama sekali tidak saya temukan, saya raba lagi keseluruhan laci namun hasilnya tetap sama tidak menemukan handphone tersebut. Belum puas dengan diraba pakai tangan saya jongkok mengintip kedalam laci meja yang saya lihat hanya ruangan hampa tanpa ada apa-apa. Kepanikan menghampiri saya, kalut dan kacau pikiran membuat saya menghabiskan waktu istirahat dengan bertanya kesana kemari apakah ada yang melihat handphone saya, semua sudah saya periksa saku baju, saku celana, tas sampai saya keluarkan semua isinya namun tetap tidak ada handphone tersebut.
Lelah, lemah dan lesu saya terduduk, ditengah-tengah kekalutan saya tersebut tiba-tiba pikiran saya terfokus dan teringat pada satu hal yaitu sang kakek yang membutuhkan bensin kemaren. Saya tidak tahu pasti, kenapa tiba-tiba pikiran saya terarah untuk mengingat sang kakek yang kelelahan mendorong motor sebagai akibat dari keegoisan kami yang pelit berbagi walau sedikit saja dari bagian uang jajan kami. Sekarang apa yang saya rasakan, secara tiba-tiba saya merasa di hati ini ikhlas akan kehilangan handphone tersebut dan menyesali kenapa saya kemaren didetik-detik sang kakek meminta bantuan hati ini sama sekali tidak tergerak membantunya. Mungkin dari teman-teman yang lain sayalah paling merasa bersalah karena saya yang menjawab ketika kakek tersebut meminta bantuan dengan jawaban yang tentu membuat kakek tersebut putus asa. Saya pikir inilah peljaran dari Tuhan yang sangat berarti dalam hidup saya mengenai keajabiban sedekah.
Mengambil hikmah dari cerita diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ketika datang kesempatan untuk bersedekah jangan sia-siakan, ambil kesempatan tersebut. Memang sebenarnya masalah sedekah bukan hanya menunggu kesempatan datang, kapanpun kita bisa sedekah. Kadang-kadang ketika kesempatan itu datang kita tidak menyadarinya, mungkin hanya masalah persoalan hati bagaimana kita menyadari hal yang semu. Hati yang bersih tidak akan melewati kesempatan emas.
____________________SEKIAN____________________
TERIMA KASIH TELAH MAMPIR MEMBACA
SEMOGA HAL YANG SAMA TIDAK TERJADI PADA KITA
DAN SEMOGA MENDAPATKAN HIKMAH DARI CERITA DIATAS
____________________AMIIIIN____________________
SALAM
BANDUNG, 20 MEI 2015
PENULIS

Sunday, May 17, 2015