![]() |
| Kabeh - : Lamata Photography |
Rumah usang, peyot dan lusuh penuh kenangn tentang masa kecilku yang haru pilu dan sendu ini adalah istana dalam melepas rindu akan masa-masa di kala itu. Masa di mana aku masih dibelai manja dengan penuh cinta dan kasih sayang. Masa di mana merasa puas bermanja ria walau beban derita sangat nyata di depan mata. Rumah tua-ku, aku akan pulang untuk mengenang, bernostalgia ‘gila’ dengan masa itu. Walau aku tau, kau adalah benda mati yang menyimpan memori kenangan aku dan keluargaku dulu. Kala ini, aku selalu rindu makan bersama walau hanya garam bertemankan nasi yang sesak di mulut kala lauk tidak tersedia. Setidaknya kami makan bersama dan menanggung beban derita selalu bersama, merangkul dan menguatkan kala hidup tidak berpihak pada kita.
Walau nyatanya tatkala aku pulang, semua tak seindah bayangan yang aku kira. Semuanya sudah berubah dari biasanya. Tidak ada titik bermanja ria tatkala aku sudah berusia sedewasa ini. “Tuhan, apakah usia-ku kini merampas semua keasyikanku kala kecil dulu?”. Ketika ‘Aku pulang’ semuanya gersang, hampa, seakan sunyi senyap tanpa suara, tidak ada tangan lembut penuh cinta yang menyambutku di sana, hanya tersisa kenangan bahagia yang kini seakan penuh luka sembari meneteskan air mata. Aku menangis pilu, hatiku sendu dan terlalu cupu untuk melihat semua ini secara nyata yang membuatku duduk dalam bisu karena hati ini seakan tersayat sembilu; ‘hampa’.
Aku bertanya ‘lalu buat apa aku pulang?’ kalau hanya untuk melihat semuanya yang penuh sendu ini Tuhan. Aku terlalu lemah bila harus berdiri tegak di antara kenangan masa lalu akan keluarga bahagia walau hidup seadanya dan selalu bercanda tawa bahagia penuh ceria di antara orang-orang tercinta dalam nostalgia rumah peyot dan usang ini. Kini satu persatu meninggalkan pergi dengan sejuta kenangan di dalam rumah ini, di balik temboknya yang lusuh, lantainya yang rapuh dan atapnya yang tidak teduh lagi, tersimpan berjuta kenangan masa kecil dulu. Aku terpukul mundur duduk bisu dalam ruangan penuh debu ini; ‘debu kenangan’, mengingat dan mengenang seakan aku melihat dan terlintas dalam bayangan mata masa kecil bermain dan di gendong manja ibu yang kini telah bahagia di alam sana ‘aku rindu bu’.
“Kini, abang-abang dan kakak juga sudah menikah semua bu”
Aku masih terlalu asyik dengan pertualanganku mencari arti kehidupan yang membuatku sedikit tersingkir dari menjanya bersama keluarga. Hidup keras bahkan lebih keras tantangan akan kejamnya kehidupan di sini, aku yang menantangnya dengan caraku sendiri “akanku tantang sampai batas manapun, menyerah hanya akan membuatku merasa lemah”. Pulang, hanya sebuah istilah untuk sekedar menghargai jasa seorang ayah yang selalu menantiku dengan bahagia. Semenjak di tinggal ibu, ayah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah. Kadangkala, mengobrol bahagia denganku via telepon genggam sekedar melepas rindu akan hangat canda tawa tentang keadaanku dan keadaannya kini. Hatiku ingin selalu menemanimu menyeruput kopi disetiap pagi ayah, namun apa daya pertualangan mencari dan mendapatkan ilmu belum usai yang kini membuatku terkekang di dunia perantauan dalam seorang diri. Tunggu aku kembali ayah, kembali menemani hari-harimu agar lebih berarti dan aku bisa melaksanakan abdi kepadamu yang seorang diri, i will be back ayah. Tetaplah berteduh di rumah yang menyimpan sejuta kenangan akan cinta dan kasih sayang, kasih sayang orang-orang tersayang yang penuh makna dalam hidup ini.

No comments:
Post a Comment