Sunday, October 18, 2015

PERSEMBAHAN UNTUK-MU IBU

Selamat Ulang Tahun Ahirul Habib Padilah..Selamat Milad Habib...

Hari ini adalah hari kelahiranku, kala mataku terbuka melihat keindahan dunia, kakiku merah tanganku tergenggam. Orang-orang disekitarku tertawa bahagia, sekelumit doa mereka peruntukkan diriku yang belum mengerti apa-apa agar kelak menjadi anak sholeh yg berguna bagi keluarga, bangsa, negara serta Agama. 

Bila kita ingat bahwa pada hari menjelang aku dilahirkan, sang ibu sakit dan menderita serta meregang nyawa. Menangis, menjerit dan meronta-ronta. Tak lupa pula disertai erangan rintihan, lontaran keluh dan cucuran peluh, serta tetesan darah. Mata berkaca-kaca dan mulut berkomat-komit dari bibir tipis ibunda. Memanjatkan seonggok doa yang terpatah-patah. Memohon pada Sang Maha Hidup, agar diri kita hadir ke dunia fana ini dengan selamat dan tak kurang apa-apa.

Perkenankan di hari kelahiran ini, aku mengenang akan sosok ibundaku, yang kini telah genap 8 tahun 8 hari kepergiannya dalam pangkuan Illahi. Aku ingin mengenangkan akan kebaikan dan kasih sayangnya nan tulus dan tiada bertepi itu. Mengandung diriku kurang lebih 9 bulan dalam rahim dengan limpahan segenap cintanya. Membelai dan mengelus-elus perut sembari mengajak diriku berbicara walau ia tau diriku masih bisu. soal itu aku tidak mengingat, namun samar-samar sentuhan jari jemari di perut ibu itu karena jalinan ikatan batin, masih terasa hangat dan lembut di lubuk kalbu. 

Oleh karena semua itu, di hari peringatan kelahiranku ini, telah kukirim secarik doa pada-Nya. Menghaturkan ucapan lirih terima kasih, akan perjuangan ibunda di kala diriku masih dalam rahim dan sampai hari ini. Yang telah mengajariku mengucapkan dari mulai sepatah kata hingga beratus-ratus kata. Membimbing dan mendidik di kala kecil tentang makna akan keberadaan dan kehadiran diriku di dunia, menjagaku, menasehatiku dan berjuang penuh peluh demi membesarkanku. 

Kupejamkan mata sejenak, mengingat hari-hari yang telah lampau dan kita lalui. Sahabat dan saudara datang  dan pergi silih berganti. Suka dan duka telah kukecap, serta sepenggal pengalaman hidup kureguk bersamamu bunda. Keberhasilan pernah diraih, namun kegagalan juga tak kuasa kutolak. Kesemuanya terkenang-kenang, akan menjadi serpihan-serpihan ornamen dan cerita indah di bingkai langit pikiranku.

Mengenang itu, sepantasnya pula daku hari ini menundukkan kepala. Bersimpuh dan sujud kepada Sang Pencipta yang maha segala-galanya, akan nikmat dan karunia serta berkah akan kehadiranku didunia ini. 

Pada hari ini, dari tiap-tiap tahun dan bulan terlewati sampailah pada hari ini, hari dimana aku menangis akan indahnya dunia, yang pada saat ini aku bertanya-tanya ; untuk apa aku hadir didunia ini?,; apakah diriku telah membawa manfaat ke masyarakat atau setidaknya keluarga kecil di dukuh sana?; sebagian telah kujawab sendiri tanpa tahu makna pasti akan esensi fakta dari semua kata-kata yang belum terwakili secara nyata.

*** 

Telah kugoreskan di awal tulisan sebaris untaian kata, “Tatkala lahir, diriku menangis sedangkan orang-orang disekelilingku tersenyum dan tertawa bahagia.” Pada saatnya nanti, “Ketika ajal menjemput, ingin diriku menyunggingkan senyum dan tawa bahagia. Sementara, orang-orang disekelilingku meneteskan air mata.“ 

Bukan air mata lantaran kesedihan semata-mata akan kepergianku saat ruh berpisah dari raga yang fana berlumur dosa ini. Namun air mata untuk mengingat dan mengenang, sedikit saja akan kebaikan selama aku bernafas didunia ini. Yang pernah kutorehkan, di hari-hari singkat namun serasa panjang  pada hidup dan kehidupanku. 

Jika kelahiran merupakan awal keberangkatan, maka kematian adalah akhir kepulangannya. Batas-batas diantara keduanya tipis; setipis embun dikaca. Lantaran itu, kala hari kelahiran tiba dan mengingatkannya, sudah sepantasnya pula kita mengingat akan hari kematian. Socrates pernah menyatakan, “Ketika aku meneliti rahasia kehidupan ketemukan maut, dan ketika kutemukan maut kutemukan sesudahnya kehidupan abadi. Karena itu kita harus prihatin dengan kehidupan dan bergembira dengan kematian karena kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup.” hidup dalam keabadian yang sesungguhnya. Dengan mengingat pula kematian yang kadang datang tiba-tiba itu, maka saya kembali bertanya di usia yang ke 23 tahun ini : sudahkah diri ini berguna bagi keluarga, masyarakat, nusa, bangsa dan agama....



Kala Usia Makin TUA
Bandung, 12 Mei 2015

Perjalanan Panjang....
12 Mei 1992 - 12 Mei 2015

Friday, October 16, 2015

LOBUR-CERITA RAKYAT NUSANTARA NANGA SOKAN

“LOBUR”
CERITA LEGENDA RAKYAT NANGA SOKAN
KABUPATEN MELAWI-KALIMANTAN BARAT
Oleh : Ahirul Habib Padilah



Nanga Sokan merupakan salah satu wilayah pedalaman di Kalimantan Barat atau lebih tepatnya berada di Kabupaten Melawi Kecamatan Sokan. Berada jauh di pedalaman Kalimantan Barat menyebabkan banyaknya kepercayaan mistis masyarakat di sana ditambah dengan keberagaman kejadian yang menurut kepercayaan masyarakat setempat sebagai akibat dari melanggar larangan atau pantangan yang bisa jadi berupa pantangan adat. Nilai-nilai kebudayaan, adat istiadat yang masih kuat dipertahankan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari membuat masyarakat Sokan boleh dikatakan unik.
Salah satu contohnya adalah kereja sama[1]sebagai representatif dari nilai kebudayaan dalam mengerjakan berbagai pekerjaan secara bersama-sama baik atas kepentingan bersama atau bahkan kepentingan individu yang kita tahu dimasa sekarang sangat susah ditemui terutama jika kita bandingkan dengan keadaan di kota yang cenderung apatis. Nilai budaya dan norma berjalan bersamaan tanpa adanya perbedaan yang membuat masyarakat sana memiliki keunikan sendiri dalam melakukan tindakan dan mengambil keputusan tertentu.

Namun, sadar tidak sadar secara alami dimasyarakat Sokan walau tidak ada peraturan adat tertulis dalam aturan melakukan kerjasama atau membantu tetangga yang sedang memiliki gawai mereka mematuhi semua kebiasaan tersebut dengan berlandaskan kekerabatan dan kebersamaan. Kekerabatan dan kebersamaan seolah menjadi kunci dalam proses berlangsungnya kehidupan mereka yang kaya akan adat istiadat.
“aah sungguh indah hidup di kampung yang semuanya sungguh masih natural jauh dari hiruk pikuk kota”
Pergi ke sawah atau ladang menjadi sebuah kesenangan anak-anak untuk membantu orangtuanya menggarap sawah atau hanya sekedar melepas penatnya berada di sekolah. Karena memang berada di sawah membuat pikiran tenang dan merasa nyaman ditemani hilir mudik angin sepoi-sepoi menyapu wajah dan badan sembari mendengarkan kicauan burung serta binatang lainnya yang beragam. Sawah di sana jauh berbeda dengan sawah di perkotaan yang kesemuanya dilakukan dengan alat canggih dan modern, sawah di sana sedikit banyak masih dilakukan secara alami membuat semakin terasanya suasana pedesaan yang memikat hati.
Nanga Sokan sendiri memiliki kekayaan sejarah yang sangat menarik, beberapa diantara masyarakat Sokan sendiri adalah keturunan Kerajaan Sokan dengan ciri khas berawalan Abang[2] Gusti dan Dayang. Lepas dari itu semua berdasarkan cerita para orangtua atau tetua yang merupakan keturunan raja, Nanga Sokan memiliki cerita yang sempat menggemparkan. Cerita ini bahkan tersebar ke desa sekitar karena memang mengandung unsur adat istiadat yang sangat kental yang berlaku dalam masyarakat disana.
Di Nanga Sokan terdapat danau yang memiliki kisah dibalik terciptanya danau tersebut tidak kalah menarik dengan cerita Danau Toba dan di tengah-tengah danau tersebut juga  terdapat bekas pondok atau rumah, namun bukan bekas rumah penduduk atau sebagainya hanya melainkan bekas pembangunan yang gagal karena berbagai cerita mistis dibalik asal mula munculnya danau. Danau itu bernama Danau Lobur, konon danau tersebut berasal dari pelanggaran salah satu masyarakat yang memiliki hobby berburu hewan terhadap pantangan masyarakat sekitar yang masih sangat kuat memegang kepercayaan adat istiadat nenek moyang mereka.





LOBUR

Di sebuah desa di wilayah Kalimantan Barat-Kabupaten Melawi hidup sekelompok masyarakat yang kaya akan adat istiadatnya. Mereka hidup dalam keseimbangan adat yang sangat kental dan harus dipatuhi. Mereka memnuhi kebutuhan sehari-hari dengan berladang, bersawah, menoreh getah dan kadang berburu hewan iar dalam hutan yang masih banyak.
Suatu hari penduduk desa Nanga Sokan mengadakan gawai nikahan salah satu penduduknya. Dalam aturan adat di Sokan ketika ada gawai seperti ini semua penduduknya harus pergi pongil[3]ikut merayakan gawai tersebut tanpa terkecuali. Pada waktu itu pongil merupakan adat mereka yang tidak boleh dilanggar.
Namun berbeda dengan Pak Kelok dan istrinya. Pak Kelok yang lebih memilih pergi ngipak[4] ke hutan dibandingkan pergi pongil, sedangkan istrinya lebih memilih berada dirumah menunggu suaminya pulang berburu.Senapang lantak[5] dan perbekalan berburu sudah disiapkan Pak Kelok, singkat cerita ketika matahari mulai meninggi diapun berangkat ngipak mengabaikan gawai yang sedang berlangsung.
Ditengah jalan berangkat ngipak Pak Kelok berlintas dengan penduduk lainnya yang pergi pongel, melihat Pak Kelok menenteng senapang lantak, penduduk pun bertanya ;
Penduduk :nak kemonai aba Kelok?” nadak pongil pai duan[6]?
Pak Kelok : “Kin am pongel, aku nak ngipak tuk[7]”;
Penduduk : “nadakkah kalau lagik begawai kita nak boleh ngipak ke rimak, pantangan ba[8]”;
Pak Kelok : “kalau aku angkat pongel paling aku dapat semangguk daging sapi am, kalau aku ngipak dapat sikuk kijank’ cukup ke’ dimakant serumah[9]”;
Sambil merengut si penduduk pun berlalu meninggalkan Pak Kelok, Pak Kelok pun melanjutkan perjalanan pergi menuju hutan yang masih asri dikampung tersebut tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sungai bomant’, sungai yang bermuara dihulu kampung Sokan yang melintasi pada bukit batu adalah yang menjadi tujuan ngipak pak Kelok. Menurut perhitungannya dibukit ini sangat besar kemungkinan dia akan bertemu dengan kijang dan hewan lainnya dikarenakan selain dilintasi sungai juga terdapat beberapa pohon buah yang biasa dimakan oleh hewan seperti kijang dan lainnya.
Menjelang siang, akhirnya pak Kelok tiba di tempat tujuannya berburu, sembari melepas lelah dia mencari tempat yang pas untuk bersembunyi guna mengintip ativitas hutan untuk mencari mangsanya yaitu hewan yang berkeliaran di bawah pohon. Sedangkan di kampung, menjelang siang adalah pada saat dimana para penduduk makan besar diiringi musik khas kampung menikmati gawai yang sedang berlangsung.
Samar-samar dirumah Pak Kelok, istrinya juga mendengar alunan musik penduduk yang sedang begawai, namun hatinya enggan bergabung karena tidak ada yang menemani sedangkan ibu-ibu lainnya pergi dengan suaminya. Dia berpikir lebih baik menanti suaminya dirumah dengan harapan membawa setidaknya satu ekor hewan hasil tangkapan ngipak sehingga dia dan suaminya bisa makan daging sepuasnya. Ketika matahari meninggi berada dipuncak singgasananya membuat bayangan semakin pendek istri Pak Kelok ahkhirnya tertidur pulas, sedikit banyak harapan sang suami mendapatkan hasil buruan sangat besar mempengaruhi pikirannya.

Dalam tidurnya dia bermimpi namun seperti benar-benar terjadi antara setengah sadar sang istri melihat suaminya sambil menenteng senapang lantak bertemu dengan kijang putih memiliki tanduk berkilau indah yang bahkan diapun baru kali ini melihatnya. Dia melihat suaminya juga merasa heran melihat kijang berwarna putih tersebut, namun keinginan menembak dan membawa pulang daging kijang tersebut lebih besar tanpa berpikir kenapa ada kijang berwarna putih, maka Pak Kelok mengendap-endap disemak sembari mengarahkan senapang lantaknya ke arah kijang putih tersebut yang terdengar hanya deru napasnya ditambah indahnya nyanyian penghuni hutan serta deru aliran sungai bomant Pak Kelok memicingkan mata dan tangannya siap menarik pelatuk senapangnya. Sebelum sempat suaminya menarik pelatuk, dalam mimpinya dia mendengar suara ledakan yang maha dahsyat diikuti ledakan senapang lantak suaminya, semenjak itu dalam mimpinya dia tidak bisa lagi melihat sang suami karena pada saat itu juga tanah longsor seketika dan menghambataliran sungai bomant.
Tiba-tiba sang istri terhenyak bangun dari tidur mendengar suara ledakan yang menggemparkan dirinya dan penduduk yang sedang begawai. Setengah sadar sang istri berlari kepintu masih samar-samar terdengar longsoran tanah meluluh lantahkan bukit batu, dia mencubit tangannya sendiri ; terasa sakit, berarti ini bukan mimpi. “Ya Allah apa yang terjadi” lirihnya dalam hati sembari menerka sebenarnya yang terjadi dan apa kaitannya dengan mimpinya yang memang sebenarnya adalah kejadian nyata. Cuaca yang awalnya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap, awan hitam menutupi kampung secara tiba-tiba membuat hati sang istri kian gelisah menanti suaminya pulang dari hutan.
Sementara penduduk yang begawai, menghentikan musik dan makan mereka serta mencari darimana sumber suara yang begitu dahsyat membuat tanah bergetar dan cuaca berubah.
“Tidak salah lagi ini suara itu bersumber dari bukit batu yang dilintasi sungai bombant di hulu sana”; teriak salah satu penduduk”;
Penduduk pun pulang pongelan dengan berbagai pertanyaan dalam benak mereka, sebenarnya apa yang terjadi?; sama halnya dengan salah satu penduduk yang sebelumnya ketemu dengan Pak Kelok dijalan ketika Pak Kelok pergi ngipak dan dia pergi pongil, dia mencoba menghubungkan kejadian tadi dengan Pak Kelok dan lebih menguatkan lagi anggapannya bahwa ini semua ada hubungan dengan Pak Kelok adalah sumber suara letusan tadi adalah bersumber dari hutan yang menjadi tujuan pak kelok ngipak. Namun, dia membuang jauh-jauh pikirannya, dan bergumam “semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan”.
Di perjalanan pulang penduduk menemukan hal yang janggal  ketika mereka melintasi jembatan diatas sungai bombant, sungai yang biasanya dipenuhi air layaknya sungai-sungai lainnya tiba-tiba mengering, yang mereka lihat hanya bekas didasar aliran sungai yang sudah kotis[10]. Mereka mencoba mengaitkan semua kejadian yang mereka alami mulai dari suara letusan, di hutan hulu sungai ini sampai mengeringnya sungai ini, sehingga membuat mereka penasaran.
Istri Pak Kelok sendiri di rumah gelisah tiada tara, berjalan kesana kemari. Ke dapur salah, duduk di ruang tamu juga salah, akhirnya dia memutuskan mencari tahu dengan pergi ke luar rumah dan menemui penduduk sekitar yang sedang berkumpul dan membicarakan keanehan yang sedang terjadi.

Melalui diskusi yang alot dan berdasarkan saran para tetua kampung dan tetua adat, mereka memutuskan pergi ke hutan hulu kampung guna mencari tahu penyebab suara letusan dan kenapa sungai bombant mengering, karena mereka tahu ada sebuah pelangaran yang terjadi yaitu ada salah satu penduduknya yang pergi ke hutan saat ada gawai berlangsung.Siapa lagi selain Pak Kelok. Para tetua adat manggut-manggut hampir tidak percaya setelah mendengar cerita istri Pak Kelok dan salah satu penduduk yang sempat berpapasan dengan Pak Kelok dijalan ketika akan pergi ngipak, tidak percaya akan adanya penduduk kampung Sokan yang berani melanggar setelah sekian lama pantangan tersebut mereka jalani, namun pada hari itu benar-benar terjadi. Selain mencari tahu penyebab suara dan sungai mengering mereka juga mencari tahu keberadaan Pak Kelok dengan harapan tidak terjadi apa-apa dengan Pak Kelok.
Ketika matahari mulai turun, menunjukkan bahwa sore akan segera tiba sebagian besar orang dewasa dan ibu-ibu pergi mencari tahu ke hulu kampung. Berbuyun-buyun mereka pergi dengan rasa penasaran di hati yang memuncak, sambil mempercepat langkah, sementara istri Pak Kelok juga ikut serta dalam rombongan penduduk yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tentu setelah mengumpulkan segenap tenaga karena menangis dan sempat pingsan beberapa saat karena sampai sore juga suaminya belum pulang. Sekarang penduduk Sokan yakin, bahwa semua kejadian ini ada hubungannya dengan Pak Kelok yang dianggap para tetua adat telah melanggar pantangan.
Setelah melewati jalan berlembah, mereka akhirnya tiba dihutan kaki bukit batu. Betapa terkejutnya mereka, sebagian beristiqfar melihat didepan mata kaki bukit batu yang mereka tahu adalah aliran sungai bombant serta dikelilingi pohon-pohon alami hutan kini berubah. Kelihatan hanya dataran air keruh kecoklatan serta akar-akar pohon tumbang yang tenggelam ditelan air, bukit batu kini hanya kelihatan tebing-tebing jurang tanah kuning bekas longsoran tanah. Serasa tidak percaya, namun terintas dalam benak mereka dimana Pak Kelok berada, keyakinan mereka kalau bisa ketemu dengan Pak Kelok mungkin mereka akan mendapatkan penjelasan runtut apa yang telah terjadi sehingga menyebabkan tanah bukit longsor dan menjadi layaknya danau.

Dengan sigap, penduduk berusaha menyisir pinggiran air  danau tersebut berusaha menemukan Pak Kelok yang berdasarkan cerita istrinya tadi pagi bahwa suaminya akan pergi berburu ke bukit batu. Namun, bukit batu sendiri telah longsor dan seolah tenggelam dalam sungai bomant yang secara nyata terpampang di depan mata telah berubah seperti sebuah pulau. Pikiran yang tidak-tidak merasuki istri Pak Kelok, sambil berteriak memanggil suaminya ia menangis bahkan pingsan. Setelah sekian jam waktu pencarian, matahari telah lama tenggelam dalam peraduannya, dingin kian menyengat kulit karena cuaca sangat buruk, kilat menyambar, gerimis pun turun semenjak tadi sore. Namun, mereka tetap tidak menemukan Pak Kelok sementara malam semakin larut. Para tetua berkumpul, bermusyawarah untuk mencari jalan keluar ditemani binatang hutan yang semakin keras suaranya terdengar ditelinga ditambah bau daunan segar sisa-sisa tumbangnya pohon-pohon besar.
Turut dalam musyawarah mereka adalah istri Pak Kelok, sebelum para tetua berbicara, mereka menyuruh istri Pak Kelok menceritakan apakah ada kejadian yang janggal ketika suaminya pergi ngipak. Dengan suara bergetar karena isak tangis ungkapan ketakutan, kesedihan tentang keberadaan suaminya istri Pak Kelok menceritakan semua kejadiannya sampai pada saat dimana dia bermimpi sebelum mendengar suara letusan. Setelah menyimak cerita istrinya Pak Kelok, para tetua terkejut, cerita dalam mimpi namun benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Hal ini membuat para tetua semakin meyakinkan bahwa ini merupakan bukan kejadian biasa, melainkan ada hubungannya dengan pantangan yang telah dilanggar. Para tetua pun menyuruh ibu-ibu yang lainnya membawa itri Pak Kelok pulang agar bisa menenagkan diri dan beristirahat karena cuaca sangat buruk. Tentu para tetua melanjutkan musyawarah mereka guna mengambil kesimpulan dengan fakta yang ada bahwa sebenarnya apa yang terjadi. Musyawarah tidak berlangsung lama karena mereka hanya cukup mengaitkan semua fakta dan cerita yang ada bahwa memang kampung mereka telah menerima akibat dari pelanggaran pantangan yaitu LOBUR. Lobur adalah anggapan masyarakat Sokan sebagai kiamat kecil yang mana hancur leburnya alam akibat ulah manusia dari melanggar peraturan adat yang biasa berlaku di Sokan. Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan menyampaikan kepada masyarakat bahwa ini merupakan akibat dari pelanggaran yang telah dilakukan. Dan mereka sepakat menamakan danau yang merupakan dulunya aliran sungai bombant dan longsoran bukit batu tersebut dengan nama DANAU LOBUR.
Setelah kejadian tersebut hari-hari berjalan dengan normal, tentu mereka lebih hati-hati dalam menjalankan apa yang menjadi pantangan adat atau pantangan kampung mereka. Namun, setelah beberapa hari ada salah satu penduduk yang bermimpi berkaitan dengan kejadian yang membuat Pak Kelok hilang serta tanah longsor menjadi sebuah danau, membuat dia harus menceritakan kepada penduduk dan para tetua.

Mimpi penduduk tersebut adalah tentang dimana dia bertemu dengan Pak Kelok yang telah menjelma menjadi seekor lelabi[11]dengan kepala sebesar ayak[12]dan badan sebesar layan[13], sedangkan senapang lantak Pak Kelok berubah menjadi ular yang besar. Bahkan konon katanya lelabi wujud dari Pak Kelok ini menurut penduduk Sokan masih sering nampak berjemur di tepian danau. Sedangkan ularnya sebagai wujud dari senapang lantak Pak Kelok masih sering berkeliaran baik dihutan maupun disungai dan bersarang di danau Lobur. Terjawab sudah lewat mimpi tersebut apa yang terjadi dengan Pak Kelok dan menjawab semua pertanyaan penduduk kemana Pak Kelok menghilang. Sedangkan istri Pak Kelok sendiri sedikit banyak sudah bisa menerima kejadian ini, dengan ikhlas dan mengambil hikmah dari kejadian ini dia selalu mendoakan suaminya dan tentu berharap hal serupa tidak terjadi lagi dengan penduduk lainnya.
Percaya tidak percaya danau lobur ini mengandung nilai mistis adalah dengan pembuktian ketika danau ini dituba[14]sama sekali tidak berpengaruh walau sudah puluhan kilogram tuba dimasukkan dalam danau Lobur ini, padahal ikan menurut penduduk Sokan sangat banyak didalam danau ini. Ini menjadi pelajaran besar dan berharga bagi masyarakat Sokan.
THANKS a LOT for NARASUMBER :
PAK ABANG TAPARUDIN
MARI SAMA-SAMA KITA LESTARIKAN CERITA-CERITA DARI PARA TETUA YANG BANYAK MENGANDUNG MAKNA AKAN NILAI BUDAYA DAN ADAT ISTIADAT
“DENGAN SEGALA KERENDAHAN HATI SAYA PERSEMBAHKAN TULISAN INI KEPADA MASYARAKAT NANGA SOKAN DAN SEMUA PEMBACA”

_____END_____






[1] Kerja sama atau gotong royong
[2] Nama penduduk yang masih memiliki keturunan raja disana
[3] Kondangan
[4] Berburu hewan liar dihutan
[5] Senapang dengan peluru rakitan sendiri
[6] Mau kemana Bg Kelok? Tidak pergi kondangankah abang?
[7] Kalianlah yang pongel, aku mau pergi berburu ini
[8] Bukankah kalau lagi ada acara nikahan, kita tidak boleh pergi ke hutan, pantangan bg
[9] Kalau aku pergi kondangan cuma dapat semangkok saja daging sapi, tapi kalau aku pergi berburu dapat seekor kijang cukup untuk dimakan satu rumah.
[10] Kering
[11] Labi-labi
[12] Alat untuk memisahkan beras dan biji padi
[13] Tikar ayaman dari daun
[14] Diracun 

Friday, July 3, 2015

CATATAN HATI SEORANG ANAK PETANI

Perjalanan ke Jatinangor, 23 Juni 2015


Perjalanan panjangku tak akan pernah berakhir pada titik ini, selama napas ini masih berhembus, kaki ini masih harus terus melangkah, mata ini harus terus menatap tajam mencari peluang kehidupan yang sesungguhnya. Aku lahir dengan suasana kehidupan yang keras, sedikit banyak mempengaruhi jiwa ini agar tidak mudah menyerah pada keadaan bagaimanapun.
Yang terpenting aku harus selalu sadar, aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa dan bukan anak pejabat yang sok banyak gaya dengan bangga memamerkan harta orang tua yang kalau dia sadar itu hanya sebuah titipan sementara.
“kehidupan sesungguhnya akan segera menyambutmu nak, bila kau terus berpoya-poya dengan harta orang tua dan kuliah kau sia-siakan bagaimana nasib keluargamu kelak”
 Aku hanya anak petani dipedalaman sana, pedalaman yang terlupa bahkan hampir tidak masuk peta. Walau begitu aku selalu bangga walau makan seadanya, walau hidup hanya bertemankan sepi. 
Aku bukan anak manja yang digigit semut saja mengadu dan minta dibelai manja, beban dipundak ini adalah apa yang menjadi beban orang tua juga menjadi beban kami walau usia masih dini.  Beban derita kami rasa sejak awal mata membuka dan melihat dunia, bahkan seolah menjadi teman nyata kami dalam menjalani hari-hari para anak petani.  Bila guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa walau dengan gaji yang membuat dia sejahtera, lalu petani berhakkah menjadi pahlawan sumber kehidupan bangsa?
“Ahhh sudahlah lupakan”
Terlalu banyak yang terjadi dalam hidupku, aku selalu berada dipersimpangan, persimpangan yang menentukan takdir hidupku. Kadang aku dalam kebingungan, dari persimpangan yang aku temui aku harus memilih simpang mana yang akan aku lewati untuk mencapai tujuan akan arti hidupku yang sesungguhnya. Kadang aku sadar, hidup ini terlalu singkat untuk aku memikirkan persimpangan mana yang akan aku ambil, banyak waktu terbuang menandakan kian sempitnya waktu untuk aku terus berjalan dan menentukan pilihan. Kadang aku ingin beristirahat sejenak melepas lelah di persimpangan, duduk menikmati pemandangan didepan dengan jutaan persimpangan sambil berharap mendapat hidayah simpang mana yang akan mengantarku ke jalan, jalan yang di nanti banyak orang, jalan yang aku berharap diujung sana ada tangan halus dan lembut menyambut kedatanganku dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Aku terlalu lelah jika aku menemui jalan yang diujung sana aku selalu tak dianggap. Aku telah banyak melalui beban derita yang seakan sungkan lepas dari hidup nyata ini.

Bandung, 27 Juni 2015
Kala aku merasa sendiri dan terasingkan
Bang Padil



Thursday, May 21, 2015

CERITA BERMAKNA-KAKEK PERLU BENSIN



Hi Blogger apa kabar ni?
baru sempat posting lagi ni ceritanya..
sibuk kuliah dan prepar ujian..
selamat malam yaaa
salam sahabat dari POJOK...
Selamat bekerja matanya.. hihihi

SEDEKAHLAH SELAGI BISA !!!
“KAKEK PERLU BENSIN”
Oleh : Ahirul Habib Padilah
(Bg Padil)

Seperti lumrahnya mahasiswa/i lainya ketika selesai kelas pergi ke kantin dan taman di sekitaran kampus kali ini saya dan teman-teman pergi ke taman yang berada dibawah pohon dekat kampus, menikmati alam terbuka menurut kami lebih tepat. Nampak bersih, asri dan nyaman untuk sekedar melepas lelah dan penat seusai kuliah sembari menikmati es kelapa atau siomay yang berjualan tak jauh dari pagar kampusku dekat jalan raya. Sembari minum es kelapa yang begitu nikmat tatkala matahari menyinari bumi dengan teriknya, apalagi minum sambil duduk dikursi dibawah pohon yang rindang ditambah angin sepoi-sepoi membelai rambut dan naluri, kami bersenda gurau kadang tertawa dengan topik bahasan teman yang kadang membuat tertawa ria. Dengan semangat saya memamerkan handphone keluaran terbaru Nokia X2 Xpress Music yang baru saya beli dengan harga diatas satu juta kepada teman-teman. Lalu dengan semangat mereka mencoba hasil jepretan kamera Nokia tersebut yang berkekuatan 5MP kala itu sudah diatas rata-rata.
Namun, ditengah-tengah tawa kami yang sedang bersantai menikmati waktu istirahat dari lelah dan penatnya kuliah dan foto-foto. Datang seorang kakek yang sudah sangat tua dengan pakaian lusuh, baju compang camping dengan bekas tambalan dan jahitan dimana-mana, celana pendek yang telah nampak kumal dan kotor, menggunakan topi berwarna biru, sendal jepit serta  tangannya yang sudah tidak kekar lagi mendorong sepeda motor Astrea putih bututnya. Dengan muka memelas si kakek menyapa kami yang tengah asyik menikmati minuman :
“Assalammualaikum Nak, Bapak kehabisan bensin; apakah anak ada uang Rp. 5000 untuk bapak isi bensin?”  (dulu bensin di SPBU masih Rp. 4500/liter)
Kami dengan berjuta ekspresi dan penuh kecurigaan langsung mengira bapak ini adalah tukang minta-minta dengan alasan-alasan seperti ini. Acuh tak acuh kami dengan teganya menjawab :
“nggak ada pak, kami mahasiswa yang uang perbulannya aja masih minta sama orangtua”
Seusai menjawab demikian kami berkemas dan meninggalkan kakek tersebut dalam kebingungan dan kami pun pulang ke rumah masing-masing. Padahal tidak banyak yang kakek tersebut minta hanya Rp. 5000 yang untuk isi ulang pusa saja tidak cukup. Kebetulan kost saya hanya berjarak 3 menit dari kampus tempat saya kuliah. Namun apa yang saya rasakan ketika nyampai di kost, saya merasa ada sesuatu yang janggal dan salah dalam diri saya membiarkan seorang kakek tua dengan sepeda motor bututnya ditengah panas terik mentari disiang ini. Tanpa pikir panjang, saya mencari botol guna diisi langsung dengan bensin yang saya dapatkan dieceran pinggir jalan dan mencari kakek tua tersebut di taman tempat saya dan teman-teman duduk bersantai tadi. Namun sekian menit berlalu, menoleh kekiri dan kekanan saya sama sekali tidak melihat sang kakek. Tidak putus asa saya mencari di ruas jalan yang kemungkinan kakek lewati. Namun setelah detik, menit bahkan jam berlalu saya tidak menemukan sang kakek dengan motornya.
Saya pikir mungkin sudah ada yang membantu atau memang sang kakek adalah kiriman Tuhan menguji niat sedekah kami mahasiswa yang tingkat keegoisannya sangat tinggi, dalam logika saya bila tidak ada yang membantu sang kakek maka dia dalam waktu kurang dari 6 menit (saya pulang ke kost dan mencari botol serta mengisi bensin ke dalam botol) maka radius ketika kakek pergi dari taman tersebut tidak lebih dari 50m. Namun ketika saya cari dalam radius yang lebih dari 50m kakek sudah tidak bisa saya temukan. Sambil jalan pulang saya berpikir mungkin ini adalah ladang pahala dari Allah yang saya lewati begitu saja tanpa saya panen kebaikan dan manfaatnya, satu lagi titik hitam yang entah seberapa besar dihati ini tergores.
Keesokan harinya saya mengikuti sebuah seminar ilmiah yang dihadiri kebanyakan mahasiswa dari berbagai fakultas digedung Rektorat tempat saya kuliah dulu. Seminar diadaan tepat direktorrat lantai 3 (tiga) yang memiliki kapasitas ruangan sampai ratusan orang, namun peserta yang hadir tidak sampai memenuhi ruangan rektorat ini. Disebelah pojok luar ruangan utama lantai 3 gedung rektorat ini memiliki sebuah ruangan kecil yang oleh pihak universitas dijadikan sebagai mushola atau tempat ibadah umat Islam layaknya masjid. Seminar yang diadakan kebetuan dari pagi sampai sore, maka dari itu ketika waktu adzan sholat dzuhur tiba kami dalam ruangan segera keluar untuk melaksanakan sholat sekaligus istirahat makan siang (ISHOMA). Disinilah letak inti ceritanya, ketika saya akan sholat saya meninggakan Handphone yang baru beberapa minggu saya beli dalam laci meja, saya tinggal sholat dan antri mengambil makan.
Dalam waktu kurang dari 15 menit saya sudah kembali ke meja tempat saya duduk dalam ruangan. Setelah menikmati makan siang saya mengambil handphone dalam laci meja yang saya tinggalkan tadi, tangan saya meraba dalam laci namun sama sekali tidak saya temukan, saya raba lagi keseluruhan laci namun hasilnya tetap sama tidak menemukan handphone tersebut. Belum puas dengan diraba pakai tangan saya jongkok mengintip kedalam laci meja yang saya lihat hanya ruangan hampa tanpa ada apa-apa. Kepanikan menghampiri saya, kalut dan kacau pikiran membuat saya menghabiskan waktu istirahat dengan bertanya kesana kemari apakah ada yang melihat handphone saya, semua sudah saya periksa saku baju, saku celana, tas sampai saya keluarkan semua isinya namun tetap tidak ada handphone tersebut.
Lelah, lemah dan lesu saya terduduk, ditengah-tengah kekalutan saya tersebut tiba-tiba pikiran saya terfokus dan teringat pada satu hal yaitu sang kakek yang membutuhkan bensin kemaren. Saya tidak tahu pasti, kenapa tiba-tiba pikiran saya terarah untuk mengingat sang kakek yang kelelahan mendorong motor sebagai akibat dari keegoisan kami yang pelit berbagi walau sedikit saja dari bagian uang jajan kami. Sekarang apa yang saya rasakan, secara tiba-tiba saya merasa di hati ini ikhlas akan kehilangan handphone tersebut dan menyesali kenapa saya kemaren didetik-detik sang kakek meminta bantuan hati ini sama sekali tidak tergerak membantunya. Mungkin dari teman-teman yang lain sayalah paling merasa bersalah karena saya yang menjawab ketika kakek tersebut meminta bantuan dengan jawaban yang tentu membuat kakek tersebut putus asa. Saya pikir inilah peljaran dari Tuhan yang sangat berarti dalam hidup saya mengenai keajabiban sedekah.
Mengambil hikmah dari cerita diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ketika datang kesempatan untuk bersedekah jangan sia-siakan, ambil kesempatan tersebut. Memang sebenarnya masalah sedekah bukan hanya menunggu kesempatan datang, kapanpun kita bisa sedekah. Kadang-kadang ketika kesempatan itu datang kita tidak menyadarinya, mungkin hanya masalah persoalan hati bagaimana kita menyadari hal yang semu. Hati yang bersih tidak akan melewati kesempatan emas.
____________________SEKIAN____________________
TERIMA KASIH TELAH MAMPIR MEMBACA
SEMOGA HAL YANG SAMA TIDAK TERJADI PADA KITA
DAN SEMOGA MENDAPATKAN HIKMAH DARI CERITA DIATAS
____________________AMIIIIN____________________
SALAM
BANDUNG, 20 MEI 2015
PENULIS